Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Porak Poranda


__ADS_3

Damara berjalan menuju lemari yang berada tepat di samping kamar mandi. Maniknya membulat sempurna melihat baju-baju yang bertengger rapi di sana, ‘Ini baju siapa?’ pertanyaan itu muncul di dalam benaknya. Tangannya meraih salah satu baju, tetapi bajunya terlihat masih baru.


Tidak ingin ambil pusing Damara memilih salah satu baju secara acak. Baju tersebut melekat sempurna pada tubuhnya, sepertinya isi lemari tersebut memang sengaja disediakan untuk Damara.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya, Damara berjalan menuju pintu ternyata ada seorang pria yang berdiri di depan pintu kamar. “Mari Nona ikut saya, makan malam sudah siap.”


Tidak banyak bicara Damara mengikuti pria itu, kini arah mereka berjalan pada lorong yang berbeda. Rasanya Damara sedang berada di tempat asing, bagaimana bisa bangunan yang tampak luas dari luar tetapi di dalamnya hanya lorong panjang yang membuatnya menuju suatu tepat yang ia tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Mungkin jika ia berjalan sendiri sudah di pastikan dirinya tersesat sebelum sampai pada tujuan.


Pria itu membawa Damara pada ruang makan yang berjejer rapi meja panjang seperti dalam pelatihan militer, tetapi hanya ia sendiri yang duduk. Pria tadi malah berdiri di belakangnya. Seorang pelayan khusus mendorong meja stainless dengan berbagai macam hidangan yang di bawanya.  Lalu pelayan tersebut menata makan yang ia bawa di depan meja Damara.

__ADS_1


Setelah pelayan tersebut pergi Damara menikmati makannya dengan perasaan tidak karuan, sesekali maniknya melihat ke sekeliling yang tampak kosong padahal ruangan tersebut cukup luas mungkin mampu menampung sampai lima ratus orang. Rasanya ia sudah tidak berselera untuk makan, sendok serta garpu yang di pegangnya ia simpan dengan perlahan namun tetap menimbulkan bunyi di tengah kesunyian.


“Aku ingin kembali ke kamar,” ujar Damara pada pria yang membawanya kemari.


Pria dengan tubuh tegap itu mempersilahkan Damara untuk berjalan lebih dulu.


Damara berjalan dengan perlahan kakinya terasa ngilu kembali karena latihan tadi siang. Ia ingin mengistirahatkan tubuh lelahnya. Setelah sampai di depan kamarnya tanpa banyak bicara ia masuk dan menutup pintu. Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Maniknya lurus menatap langit-langit kamar tersebut. Dua minggu tidak tinggal bersama Jerricco ia merasa biasa saja, tapi baru satu hari tidak bertemu dengan pria itu membuat hatinya porak poranda seketika. Rasa cemas berlebihan, “Kau benar-benar tidak ingin menemuiku?” lirih Damara.

__ADS_1


Damara memilih memejamkan matanya, ia mengambil guling dan memeluknya erat. Satu minggu ini ia selalu tidur di dalam pelukan Jerricco tetapi semalam dan hari ini harus tidur sendirian.


Dari layar monitornya Jerricco melihat Damara yang memejamkan matanya, ia berjalan keluar dari ruangannya menuju kamar Damara yang berada di sebelah ruangannya. Saat memasuki kamar Damara ia melihat tubuh istrinya yang memeluk erat sebuah guling, tangannya terulur untuk menarik guling tersebut dengan perlahan.


Mungkin karena tubuh Damara lelah gerakan yang Jerricco lakukan tidak mengganggunya sedikit pun. Jerricco menggantikan posisi guling tersebut, tangannya terulur untuk memeluk tubuh Damara.


Maniknya menatap wajah Damara yang terlihat damai di alam mimpinya. Dengan gerakan perlahan Jerricco membelai pipi Damara menggunakan ibu jarinya. Matanya tidak bisa lepas dari bibir Damara yang sedikit terbuka, dengan gerakan perlahan ia menghisap bibir Damara.


Jerricco terkejut saat Damara membalas ciumannya bahkan tangan Damara kini memeluknya sangat erat. Ciuman itu sangat singkat karena Damara yang melepaskannya. “Jangan pergi, aku tidak bisa jauh-jauh darimu.”

__ADS_1


Sebuah senyuman terukir jelas di bibir Jerricco saat mendengar Damara yang mengigau. Ia memberikan sebuah kecupan di kening Damara. “Aku tidak pergi, aku di sini bersamamu,” ucap Jerricco dengan nada berbisik tepat di telinga Damara.  Ia ikut memejamkan kelopak matanya untuk menyusul Damara ke alam mimpi.


__ADS_2