Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Ibuuuu


__ADS_3

Hiruk pikuk keramaian di istana  pasca pesta pernikahan Damara dan Jerricco sudah selesai di bereskan. Kini istana Jerricco hening seperti malam-malam sebelumnya. Tubuh Jerricco terlentang di atas tempat tidur sambil memandangi langit-langit.


Sementara Damara merebahkan tubuhnya dengan posisi menyamping ke kiri, menjadikan lengan kekar Jerricco sebagai bantalan. Tangan kanan Damara menari di dada bidang Jerricco dengan pola yang tidak teratur, ia tidak tahu apa yang membuat Jerricco diam dan bahkan tidak bersuara sedikit pun.


“My Lord.” Mendengar panggilan Damara Jerricco menengok ke arah Damara, “Ya sayang.”


“Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Damara ingin tahu masalah apa yang sedang di hadapi Jerricco.


Jerricco memberikan kecupan pada kening Damara, “Tidurlah!” Jerricco mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping menghadap Damara, lalu membawa tubuh sang istri ke dalam pelukannya.


Melihat reaksi Jerricco yang menolak untuk menjawab pertanyaannya, Damara lebih memilih diam dan segera pergi ke alam mimpi untuk mengistirahatkan tubuhnya.


***


Sudah satu bulan Damara tinggal di Italia bersama Jerricco rasa bosan mulai menyelimutinya. Seharian ia hanya menghabiskan waktu dengan mempelajari bahasa Italia, atau sesekali berkeliling di istana milik Jerricco.


Siang ini Damara tengah menikmati suasana di sebuah kafe yang jaraknya tidak jauh dari kediaman Jerricco. Kafe tersebut tidak terlalu ramai, ia memandangi isi pesan singkat yang dikirim oleh Galang.


Tadi pagi Galang mengabari bahwa Miranda ingin bertemu dengan Damara, karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan.


Damara melihat perempuan yang berjalan ke arahnya, ia yakin itu  Miranda sahabat Galang. Meskipun ini adalah pertemuan kedua mereka, Damara yakin ia tidak salah mengenali Miranda.


“Selamat siang,” sapa Miranda. Ia duduk di hadapan Damara.

__ADS_1


“Siang, hal apa yang ingin kamu bicarakan?” Damara langsung berbicara pada intinya karena ia hanya mendapat ijin satu jam untuk pergi keluar.


“Jangan terlalu terburu-buru kak, apa suamimu sangat posesif?”


Damara mengerutkan keningnya, ia merasa heran mendengar Miranda memanggilnya dengan sebutan ‘Kak’.


Ia memperhatikan Miranda yang mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya. Lalu pandangan mereka saling mengunci.


“Apa Kakak tidak sadar kalau wajah kita hampir sama persis,” ujar Miranda. Ia membuka amplop tersebut, “Ini keterangan lahir Kakak kandungku yang hilang saat ia bayi, dan ini foto saat ia baru lahir.”


Damara tidak percaya dengan ucapan Miranda, ia mengamati surat kelahiran seorang bayi dari rumah sakit di negara ini. “Jangan mengada-ada, aku lahir di Indonesia anak dari ibu dan ayahku!” tegas Damara.


Ia mengembalikan keterangan lahir serta foto bayi dengan ukuran sedang. Damara tahu betul wajahnya saat bayi, karena Alice membuat album khusus untuknya dan sang adik.


“Kalau hanya itu yang ingin kamu sampaikan, aku pamit.” Damara beranjak dari duduknya, baru kakinya melangkah suara Miranda terdengar jelas di telinganya.


Damara memilih tidak menggubris ucapan Miranda, ia memilih melanjutkan langkahnya keluar dari kafe tersebut.


Sopir serta pengawal yang Jerricco perintahkan untuk menjaganya, dengan sigap membuka pintu mobil untuk Damara.


Damara masuk dan duduk dengan hati yang sedikit kacau, ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Alice.


“Hallo Bu.”

__ADS_1


[Iya sayang]


Sura tersebut terdengar sangat lembut dan penuh kerinduan. Tanpa sadar Damara meneteskan air matanya.


“Apa Rara bukan anak kandung ibu dan Papa?” Tanya Damara dengan suara bergetar menahan sesak di dadanya.


Damara mendengar helaan nafas dari sang ibu, “Tolong katakan Bu bahwa Rara anak kandung Ibu.”


[Kamu memang anak Ibu, bidadari ibu. Memangnya ada apa, kenapa Rara bertanya masalah itu?]


“Tadi ada wanita yang menunjukkan sebuah foto bayi persis seperti Rara saat kecil serta keterangan lahirnya. Dia bilang Rara Kakak dia, dan dia bisa membuktikan bahwa apa yang dia katakan benar ... katakan pada Rara bahwa dia bohong, Ibu adalah orang tua kandung Rara dan ibu yang sudah melarikan Rara.”


[Nak ... ibu tidak tahu apa yang di katakan wanita itu benar atau tidak. Tapi kamu sudah besar sudah seharusnya ibu mengatakan yang sebenarnya-]


Damara menggelengkan kepalanya, “Enggak Bu, aku anak kandung Ibu.” Damara tidak ingin orang lain yang telah melahirkannya, karena selama ini ia tumbuh bersama ibu dan Papa hingga ia beranjak dewasa.


Ada rasa tidak rela di hatinya jika ia bukan anak kandung Alice, pengorbanan kedua orang tuanya sungguh luar biasa. Kasih sayang dari kedua orang tuanya lebih dari cukup untuk Damara


[Kamu memang anak Ibu, Ibu yang membesarkan kamu. Tapi ibu tidak bisa membohongi diri ibu sendiri, Rara tidak lahir dari rahim Ibu.]


Dari suara ibunya yang bergetar Damara tahu Alice sedang menahan tangis, sebelumnya Damara jarang sekali mendengar ibunya menangis tapi kali ini suara isakan itu terdengar jelas di telinganya.


“Ibu jangan menangis, Rara anak Ibu. Dan Ibu selamanya akan menjadi Ibu dari Damara Makaleka, tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan ibu di hati Rara.” Meskipun hatinya sama sakit, tapi Damara berusaha tegar di depan sang ibu tidak ingin membuat Alice khawatir karenanya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2