
Mereka melepaskan ciuman karena sudah kehabisan nafas. Damara menatap lekat wajah Jerricco, ia hanya diam saat Jerricco membersihkan bibir tipis Damara menggunakan ibu jari.
“Kau masih ingin melanjutkannya?”
Damara menunduk malu, “Tidak Tuan, yang barusan lebih dari kaya cukup untuk siang ini.”
“Oke nanti aku akan memberikan sesi kedua nanti malam.” Mata Damara membola saat mendengar ucapan Jerricco, ‘Apa artinya mereka akan melakukan hubungan badan?’
“Tap-
Jerricco mengangkat tangannya memberikan perintah untuk Damara diam. “Aku lapar, kita makan siang.”
Damara tidak sempat protes, ia mengikuti Jerricco yang berjalan keluar dari ruang kerja.
***
Damara sudah menghabiskan makan siang miliknya, ia memperhatikan Jerricco yang masih menikmati makan siang dengan tenang.
Entah kenapa jantung Damara berdebar saat melihat wajah tampan Jerricco. Manik Damara menelusuri setiap tubuh Jerricco mulai dari rambut yang terlihat rapi, manik hitam Jerricco, alis yang sedikit tebal, rahang Jerricco terlihat tegas dan berwibawa. ‘Umurmu memang tua, tapi Tuan masih terlihat tampan’ batin Damara.
Jerricco mengangkat wajahnya ia melihat Damara yang memperhatikan bagian wajah miliknya. “Kau terpesona dengan ketampananku?”
__ADS_1
Damara terlonjak kaget mendengar suara Jerricco, “Ti-tidak,” jawab Damara gugup karena ia ketahuan sedang mencuri pandang.
Dari kejauhan Kevin hanya tersenyum melihat kelakuan Jerricco dan Damara yang terlihat menggemaskan. Ada rasa lega saat kemarin siang Robet memberi kabar bahwa Jerricco sudah melakukan penerbangan menuju Indonesia. Tanpa sepengetahuan Damara tadi ia menjemput Jerricco ke bandara lalu kembali ke Kanawa bersama Jerricco.
“Damara.”
Damara menengok ke arah kanan ternyata Galang yang memanggil namanya. “Iya pak, ada apa?”
“Ikut ke ruangan saya!”
Mendengar perintah dari Galang Arvan memberikan tatapan tajam pada Damara, ia belum menghabiskan makan di piring tetapi Damara malah bangkit dari duduknya.
“Istri saya sedang makan siang.” Galang membalikkan tubuhnya lalu menatap piring Damara, “Makanan di atas piringnya sudah habis.”
Galang berjalan di ikuti Damara yang mengekor di belakangnya.
Arvan membanting sendoknya dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang membuat beberapa pasang mata menatapnya. “Awas saja, nanti malam aku akan memberikan hukuman yang setimpal,” gerutu Arvan di dalam benaknya. Dia tidak terima karena Damara lebih memilih Galang dari pada dirinya. Arvan menyesal karena makan siang di restoran tempat Damara bekerja ia seharusnya membawa Damara pergi jauh supaya tidak ada yang mengganggu makan malah mereka.
Setelah sampai di ruangan Galang, Damara duduk saling berhadapan dengan Galang. “Bagaimana?”
Dara mengerutkan keningnya, “Bagaimana apa Pak?”
__ADS_1
“Kalau kau ingin berpisah dengannya saya akan membantumu.” Melihat sikap Arvan tadi Galang sedikit tersulut emosinya, mengingat Damara menikah karena terpaksa.
“Bapak memanggil saya hanya untuk membahas ini?”
“Tidak,” jawab Galang santai.
“Saya tidak akan bercerai dengan tuan Arvan Pak, lalu bapak memanggil saya ada apa Pak?”
“Saya ingin melamar Icha, tolong siapkan konsep terbaik untuk acara lamaran saya.” Damara tersenyum mendengar kabar baik dari Galang.
“Itu mudah Pak, saya tahu betul seperti apa impian lamaran yang Icha inginkan … Bapak cukup persiapkan diri sebaik mungkin, kali ini Icha tidak akan menolak.”
“Kamu memang karyawan terbaik saya,” puji Galang dengan tulus.
“Terima kasih atas pujiannya Pak, ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan bapak.”
“Bicaralah!” Galangan menangkap wajah Damara yang terlihat serius namun ragu-ragu.
“Setelah acara lamaran Bapak selesai, saya ingin mengundurkan diri.”
Galang terkejut mendengar ucapan Damara, “Kenapa?”
__ADS_1
“Kemungkinan besar saya akan ikut Tuan Arvan ke Italia, Pak.”