
Jerricco menghapus air mata di pipinya dengan kasar menggunakan tangannya, dia teringat dengan Damara yang menangis karena dirinya. Jerricco merasa harus mencari keberadaan Damara, dia harus menjelaskannya pada Damara apa pun risikonya.
Setelah mencari di bagian depan Jerricco tidak menemukan keberadaan Damara, dia berjalan ke belakang karena setahunya Damara suka dengan halaman belakang. Jerricco memandangi halaman belakang yang tampak kosong, telinganya mendengar suara tangisan Damara.
Jerricco mengikuti suara tangis itu hingga ia melihat pintu gudang yang terbuka lebar, ada tubuh Damara yang sedang duduk dengan memeluk lututnya. Jerricco merasa ada balok yang menghantam dadanya, tidak berdarah tapi sakitnya luar biasa.
Dia berjalan menghampiri Damara, Jerricco berjongkok di hadapan istrinya yang masih menangis. Jerricco mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Damara, tangannya bergetar saat menyentuh rambut hitam milik istrinya.
Damara menepis tangan Jerricco, dia tidak ingin Jerricco menyentuhnya. Karena Damara tahu setiap perlakuan baik Jerricco kepadanya hanyalah bentuk tanggung jawab dari seorang suami kepada istrinya.
Jerricco menarik tangan Damara ke dalam genggamannya. “Ayo kita ke kamar, kau butuh istirahat,” ucap Jerricco dengan lembut.
Jerricco mempererat genggamannya saat Damara berusaha memberontak. “Lepaskan aku Tuan,” pekik Damara.
Jerricco bisa melihat dengan jelas kesedihan yang ada di wajah Damara, rasa sakit hati itu tergambar jelas dari sorot mata Damara yang menatap Jerricco dengan penuh amarah.
__ADS_1
Jerricco memeluk tubuh Damara dengan sangat erat, “Kamu istimewa Damara, hanya saja aku belum bisa membuka sepenuhnya hatiku untukmu … maaf karena aku selalu menyakitimu.”
Tangis Damara semakin pecah, bahkan dia tidak menahan suara isak tangisnya lagi. Damara menangis mengeluarkan rasa sesak di dadanya, benar dugaannya Jerricco belum bisa membuka hati untuk dirinya.
Jerricco sudah tidak kuat dengan ruangan pengap itu, beruntung tangis Damara sudah mulai reda. Dia mengangkat tubuh Damara secara bridal, Jerricco membawa Damara kembali ke kamarnya lalu merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.
Jerricco menatap bola mata Damara yang memerah dengan air mata yang memenuhi kelopak matanya, ia mengambil gelas di atas nakas yang masih terisi air sisa Damara minum obat. Dengan hati-hati Jerricco membantu Damara untuk minum, tangannya terulur untuk mengusap air mata Damara.
Jerricco berjalan meninggalkan kamar mereka, ada sesuatu yang harus ia kerjakan mengenai perusahaannya.
Jerricco pergi ke ruang kerjanya ia duduk dan mulai menyalakan laptopnya, matanya fokus meneliti setiap email yang di kirim oleh Robert karena seharian ini dan kemarin Jerricco tidak sempat mengecek pekerjaannya.
Jerricco tidak fokus pada setiap file yang ia pelajari, kepalanya sedikit terasa berdenyut. Dengan bantuan jari-jarinya Jerricco memijat pelipisnya dengan perlahan, berharap rasa pusingnya mereda dan ia bisa mengerjakan semuanya lebih cepat.
Pukul 02.00 dini hari Jerricco baru selesai mengerjakan pekerjaannya, ia kembali ke kamarnya. Pandangannya langsung fokus pada tubuh Damara yang tidak tertutup selimut, Jerricco lupa menyelimutinya.
__ADS_1
Jerricco naik ke atas tempat tidur, ia menyelimuti tubuhnya serta tubuh Damara. Ia memandangi wajah Damara yang terlihat tenang dalam tidurnya, entah kenapa wajah Damara seperti magnet yang selalu berhasil menarik perhatiannya.
Tangannya membelai wajah Damara dengan sangat hati-hati dan perlahan, karena Jerricco takut membangunkan Damara. Setelah puas meneliti setiap inci dari tubuh Damara, Jerricco mulai memejamkan matanya.
Jerricco mengumpat di dalam hatinya karena ia berada di ruangan gelap seperti kemarin, ia yakin Mira sedang berusaha mengusiknya lagi. Benar saja Jerricco melihat sebuah cahaya yang mendekat ke arahnya, ia hanya diam menunggu cahaya tersebut hingga berada satu meter di depannya.
“Belum puas kau mengganggu hidupku?”
Cahaya itu berubah menjadi sebuah senyuman yang Jerricco tahu siapa pemiliknya, Mira.
Jerricco merasa muak melihat senyuman itu, dia membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh. Dia tidak peduli ke mana ia akan berjalan yang terpenting baginya dia harus pergi, Jerricco tidak ingin lemah lagi saat melihat wajah Mira.
Langkahnya terhenti saat merasakan sebuah tangan yang memeluknya dari belakang, Jerricco melepaskan lilitan tangan yang berada di perutnya. “Pergi!” ucap Jerricco dengan tenang tetapi penuh penekanan di setiap suaranya.
Tangan itu sudah terlepas tetapi Jerricco masih merasakan tubuh Mira yang masih menempel pada punggungnya, bahkan ia merasakan sesuatu yang basah di punggungnya. “Tidak usah menangis, bukannya ini pilihanmu? Membiarkan pedang itu mengambil nyawamu.”
__ADS_1
Tidak ada suara yang menyahut ucapannya namun Jerricco kembali merasakan tangan itu melingkar di perutnya. “Dear, kau benar-benar melupakan aku. Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?” lirih Mira.