Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Menyesakkan Dada


__ADS_3

Pagi itu Damara bangun lebih dulu, bibirnya mengembang saat merasakan pelukan hangat di tubuhnya. Ada sedikit rasa senang karena semalaman dirinya tidur berpelukan.


Damara mendekatkan telinganya pada dada bidang Jerricco, detak jantung itu memiliki irama yang teratur. Padahal saat bangun dan menyadari dirinya masih dalam pelukan Jerricco, detak jantung Damara sedikit tidak karuan.


Damara merasakan sesuatu cairan ingin keluar dari kandung kemihnya yang terasa penuh. “Tuan,” panggil Damara.


Jerricco membuka matanya, dengan kelopak yang setengah terbuka Jerricco melihat Damara berada di pelukannya. “Ada apa?”


Suara serak Jerricco pertama kali Damara dengan setelah beberapa hari mereka menikah. “Aku ingin ke kamar mandi, tolong lepaskan pelukannya.”


Jerricco mengikuti permintaan Damara, dia memperhatikan Damara yang berusaha naik ke kursi roda. Jerricco mengangkat tubuh Damara, membawanya ke kamar mandi.


“Terima kasih.” Damara merasa beruntung karena Jerricco memiliki sifat perhatian yang luar biasa, dia bisa memenuhi kebutuhan Damara tanpa perlu memintanya.


Jerricco menurunkan Damara dengan hati-hati di kloset duduk. “Apa kau membutuhkan bantuan, untuk membuka pakaian bawahmu?” Jerricco sengaja menggoda Damara.


“Tidak perlu, aku bisa membukanya sendiri.” Tolak Damara, dia malu jika Jerricco melihat tubuhnya lagi. Jelas-jelas tubuhnya tidak bisa menggoda Jerricco sedikit pun.


Jerricco berjalan menuju bathup, lalu menekan tombol khusus agar mengisi bathup.


Setelah air terisi penuh Jerricco berjalan, menuju Damara yang telah selesai membuang air seninya.


Damara sedang dalam posisi berdiri, setelah merapikan kembali pakaian bawahnya.


“Buka bajumu!”

__ADS_1


Damara menggelengkan kepalanya, “Tidak tuan, jangan.” Mohon Damara, dia malu jika harus memperlihatkan seluruh tubuhnya pada Jerricco.


Tubuh Jerricco mengikis jarak di antara mereka, tangannya terulur pada piama Damara.


Debaran jantung Damara tidak karuan saat tangan Jerricco berusaha membuka setiap kancing piama yang di kenakannya, Damara menahan tangan Jerricco, “Jangan, tuan.”


Dahi Jerricco mengernyit, “Kenapa?”


Damara menunduk, “Saya malu tuan, lagi pula saya bisa melakukannya sendiri.”


Jerricco masih melanjutkan aksi membuka kancing piama Damara. “Untuk apa datang kemari kalau tidak berguna untuk istriku.”


Pipi Damara memanas mendengar kata ‘Istriku’ yang keluar dari mulut Jerricco. Ada perasaan bahagia di anggap istri oleh Jerricco.


“Sekarang mandilah.” Jerricco, berjalan keluar. Dia tidak bisa berlama-lama di dalam sana melihat tubuh polos Damara.


Bagian bawahnya sudah terasa sesak, tapi dia tidak bisa melakukannya dengan Damara.


Jerricco merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia memejamkan matanya. Entah mengapa tubuh polos Mira muncul di pikirannya, terlihat sangat menggoda dengan pakaian tidur seksinya.


Wajah nakal Mira tampak menggodanya, langkahnya berjalan mendekat. Arvan merasakan ciumannya dengan Mira terasa sangat nyata.


“Dear, jangan pernah pergi lagi dariku,” ucap Jerricco di sela ciumannya, ia memeluk erat tubuhnya.


“Aku akan selalu bersama denganmu,” jawab Mira.

__ADS_1


***


“Tuan,” panggil Damara.


Sampai panggilan ke tiga kalinya, Damara tidak mendapat jawaban dari Jerricco.


Damara berusaha bangkit, tubuhnya masih penuh dengan gelembung kecil. Dengan susah payah, Damara berdiri dan berjalan dengan perlahan menuju shower untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai Damara mengambil handuk kimono dan memakainya. Damara berusaha keluar dari kamar mandi.


Tangannya menekan dinding untuk menahan tubuhnya, agar dapat seimbang saat melangkahkan kakinya yang terkilir.


Butuh waktu lebih dari lima menit untuk keluar dari kamar mandi, dari ambang pintu Damara melihat tubuh Jerricco yang terlentang di atas tempat tidur.


Tubuh Arvan tampak gelisah, Damara hanya diam memperhatikannya,


“Dear, kita keluar bersama.”


Damara menggigit kecil bibirnya, mendengar panggilan sayang yang keluar dari mulut Jerricco.


“Iya Dear, kita akan segera memiliki bayi kecil seperti keinginanmu.”


Dada Damara terasa sesak, hatinya bergejolak. Kakinya terasa lemas, air matanya keluar begitu saja mendengar Jerricco mengigau.


“Jika ada dia, lantas untuk apa aku di sini?” Batin Damara, dengan butiran bening yang keluar dari kelopak matanya.

__ADS_1


__ADS_2