
“Tidak, Damara.”
Damara mendengar jelas suara Jerricco yang sedikit membentaknya, ‘Aku tidak akan menyerah begitu saja.’ Dia menghapus air matanya, “Aku ingin tahu, apa sebenarnya yang membuat Tuan tidak pernah tergoda padaku?”
Jerricco memejamkan matanya, ternyata Damara tidak mengerti juga bahwa Jerricco tidak ingin menyakiti hati istrinya lagi.
Damara bangkit dari posisi tidurannya, kini ia duduk menghadap Jerricco yang masih merebahkan tubuhnya dengan mata tertutup. “Lihat aku tuan,” pinta Damara dengan nada memohon.
Jerricco membuka matanya ia menatap Damara yang kini tengah menatapnya, ia menarik tangan Damara lalu mengecup punggung tangan Dara. “Kita tidur, aku lelah.”
Damara tersenyum getir, kali ini dia mendapat penolakan secara mentah-mentah lagi dari Jerricco. “Apa aku tidak berharga untukmu Tuan? bukankah kita ingin mengawali semuanya. Bagaimana aku bisa membuatmu jatuh cinta kalau tuan masih menyembunyikan sesuatu dariku,” ucap Damara tegas.
“Kau sudah tahu alasannya, Mira.”
Mendengar nama itu lagi entah kenapa emosi Damara terusulut, dia membuka baju tidurnya dengan kasar lalu melemparkannya ke sembarang arah. “Apa tubuhku begitu buruk hingga Tuan tidak berselera padaku?”
__ADS_1
Damara tidak tinggal diam karena Jerricco masih diam tidak membuka suaranya. “Apa tubuh Mira lebih menggoda di mimpimu, dari pada tubuhku.”
“Stop Damara. Kalian berbeda!” bentak Jerricco. Dia merasa tidak nyaman karena Damara terus mencecarnya, ia tidak suka Damara membandingkan dirinya dengan Mira karena Jerricco sedang berusaha melupakan Mira.
Untuk pertama kalinya Damara mendengar Jerricco yang membentak kepadanya, air matanya turun semakin deras. Damara sudah tidak sanggup berdua dengan Jerricco, ia bangkit dan berlari dengan air mata yang tidak berhenti.
Damara berjalan menuju bagian belakang ia melihat seperti tempat penyimpanan barang yang tidak di pakai, ia tidak memedulikan tempat yang ia pijak berdebu Damara memilih duduk di ruangan pengap tersebut lalu memeluk lututnya dengan erat.
Damara tidak memedulikan kakinya yang terasa ngilu, dia hanya ingin sendirian hatinya sakit mendapat perlakuan seperti itu. Padahal ia hanya ingin tahu apa yang salah dengannya dan apa yang salah dengan tubuhnya.
Jerricco keluar dari kamar, dia memasuki ruangan yang berada di lantai dua. Tangannya mengepal dengan kuat, rahangnya mengeras sempurna. Matanya fokus pada foto wanita yang tercetak besar dengan bingkai khusus yang di pesan seusai keinginan sang pemilik foto.
“Apa yang kau mau dariku?” bentak Jerricco.
Sorot mata Jerricco terlihat sangat tajam memandangi foto Mira, ia membutuhkan jawaban dari Mira. Terlihat bodoh memang tapi bagaimana lagi cara berbicara dengan mantan kekasihnya, karena wanita yang di dalam bingkai itu kini terlihat menyebalkan.
__ADS_1
“Apa harus aku yang menyusulmu supaya kau puas dan tidak membayangiku lagi?” Jerricco tidak mendapatkan jawaban apa pun dari dua pertanyaan yang ia lontarkan, “Aaaarg.” Tangannya mengepal erat Jerricco memukul bingkai foto Mira.
Foto tersebut jatuh ke lantai dengan pecahan kaca yang berserakan, tangan Jerricco masih mengepal buku-buku jarinya mengeluarkan darah segar karena pukulannya.
Jerricco merasa muak dengan kehidupannya yang di bayangi Mira, bahkan untuk yang ke sekian kalinya Damara menangis karena wanita yang jelas-jelas sudah pergi dari dunia.
Jerricco memejamkan matanya, dia mencoba menenangkan amarahnya. Namun bayangan Damara menangis memutar di kepalanya, Jerricco kembali membuka matanya lalu menatap foto Mira yang hancur karena pukulannya dengan raut wajah sedih yang Jerricco tunjukan.
“Seharusnya kau tidak perlu menghalangiku dari pedang itu jika kau tidak bisa merelakan aku dengan wanita lain, lebih baik aku saja yang mati,” lirih Jerricco.
Dia sudah lelah dengan semua masalah yang ada di hidupnya, tidak ada rasa kebahagiaan yang mau menghampirinya. Jerricco merasa dunia tidak adil kepadanya, dia harus merelakan kedua orang tuanya pergi untuk selama-lamanya.
Dulu ia merasa beruntung karena masih memiliki Mira sebagai penyemangat hidupnya, setelah Mira pergi hanya satu alasan ia tetap hidup yaitu Stella adiknya. Jerricco harus memastikan kebahagiaan adiknya, kini Stella sudah bahagia bersama suaminya. Kenapa tuhan belum juga memberikan kebahagiaan untuknya, Jerricco juga ingin merasakan cinta dan kebahagiaan seperti dahulu.
Dia ingin ada wanita yang mau menemaninya hingga hari tuanya, ‘Apa salah jika aku berharap Damara yang akan menemani hari tuaku?’
__ADS_1
“Tuhan berikan kebahagiaan untuk pernikahanku, aku ingin bahagia bersamanya,” doa Jerricco dengan tulus, bersama dengan satu tetes air mata yang meluncur dari kelopak matanya.