
“Lebih baik tuan berikan coklat dan bunga itu pada Mira, yang tubuhnya lebih menggoda dari pada tubuhku.”
“Apa maksud dari ucapanmu?” tanya Jerricco dengan nada tidak suka.
Damara memalingkan wajahnya ia menghela nafasnya dengan kasar, “Tubuhku memang buruk, makanya tuan lebih memilih berhubungan dengan Mira di mimpi dari pada bersamaku.”
“Dia sudah pergi, tidak perlu di bahas lagi.” Jerricco berusaha untuk tenang menghadapi Damara.
“Tapi dia selalu berhasil membuatku kalah jika bersaing dengannya.”
Jerricco menarik tangan Damara lalu ia genggam dengan erat, “Kau tidak perlu bersaing dengannya.” Jerricco menarik satu tangan Damara yang terbebas menuju dada bidang miliknya.
“Kamu harus percaya, sebentar lagi namamu akan ada di sini.”
Damara masih ingin menghukum Jerricco tetapi mendengar ucapan manisnya malah membuat ia tersipu malu, “Tuan memang pintar merayu.”
Jerricco senang melihat Damara mengerucutkan bibirnya, istrinya sudah tidak marah lagi padanya. “Aku suamimu, bukan majikanmu. Panggil aku dengan benar!”
Damara menarik tangannya yang di genggam Jerricco, “Maaf Tuan, aku tidak bisa.” Rasa sakit di hatinya menyeruak kembali, dulu ia berani memanggil Jerricco dengan panggilan sayang tapi tidak untuk sekarang.
“Kenapa?” tanya Jerricco dengan sorot mata sendunya, dia merasa Damara berbeda dari sebelumnya.
Damara menarik nafasnya, “Tidak kenapa-kenapa.”
Jerricco sedikit heran melihat tingkah Damara tadi ia tersipu malu tapi kini terlihat kesal, dari pengalamannya bersama Mira wanita memang sering berubah-ubah jika sedang PMS.
“Kau harus ikut,” Jerricco menarik tangan Damara.
__ADS_1
Damara berusaha menarik tangannya dari genggaman Jerricco, “Tuan lepaskan, aku tidak ingin ikut.”
Jerricco tidak ingin rencana honeymoonya gagal, ia membawa tubuh Damara dengan bridal.
“Tuan lepas.” Jerricco tidak memedulikan ucapan Damara dan terus melangkah ke depan rumah. Kevin yang sedang duduk dengan santai di ruang tamu terkejut melihat Jerricco yang membawa Damara, ia bangkit dan menyusul mereka.
Dengan sigap Kevin membukakan pintu mobil, setelah memastikan majikannya masuk Kevin ikut masuk ke kursi kemudi. “Kita ke rumah sakit mana Lord?”
“Jalan.” Perintah Jerricco.
“Lepas aku enggak mau.” Damara masih berusaha memberontak karena Jerricco masih memegang pergelangan tangannya.
“Diam!”
Damara tidak pernah mendengar Jerricco yang menatapnya dengan sangat tajam, bahkan nada suara berbeda dari biasanya. Dia memilih memalingkan wajahnya, Damara tidak memedulikan lengannya yang masih di genggam Jerricco.
Jerricco bingung menghadapi sikap Damara yang seperti ini, selama ini jika Mira marah padanya selalu merajuk atau secara langsung mengungkapkan kekecewaan yang ada di hatinya.
Dari kaca spion depan Kevin melihat tuan dan nonanya yang terlihat sedang marah, ‘Apa Lord tidak berhasil membujuk nona?’ batin Kevin.
Kevin mendesah lega setidaknya rasa cemasnya hilang, karena dia pikir terjadi sesuatu pada Damara. “Lord kita ke mana?”
Jerricco melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 14.00 waktu setempat, “Cari tempat makan.”
“Baik, Lord,” jawab Kevin dengan patuh. Dia melajukan mobilnya menuju salah satu restoran, tidak membutuhkan waktu lama mobil yang di kendarai Kevin sudah sampai di tujuan.
Kevin lebih dulu turun dan membukakan pintu untuk Jerricco. Jerricco melirik Damara yang masih memunggunginya, “Ayo cepat.”
__ADS_1
Damara menghela nafasnya dia turun dan berjalan di belakang Jerricco, dengan perasaan kesal. Damara tidak memedulikan Jerricco dan Kevin ia hanya fokus pada bagian kakinya, Damara masih merasakan ngilu.
Dia terkejut saat tubuhnya seperti menabrak seseorang ada cairan yang terasa panas mengenai perutnya. “Sorry,” ucap seorang wanita dengan memakai baju pelayan.
Damara berusaha tersenyum, “Yes.” Damara sedikit berlari mengejar Jerricco, dengan menahan rasa panas di perutnya. Damara memperhatikan ruangan khusus yang di pesan Jerricco, di ruangan itu hanya ada satu meja dan dua kursi. Mereka duduk berdua di sana, ruangan yang mereka tempati terdapat dinding kaca yang memiliki pemandangan ke arah lautan.
Jerricco memperhatikan Damara yang tampak menahan sesuatu, bahkan sepertinya Damara tidak fokus pada makannya. “Kau kenapa?”
“Aku ingin ke toilet,” ucap Damara.
Saat Damara berdiri Jerricco baju bagian perut Damara basah, “Itu apa?”
Baru saja Damara ingin melangkah tetapi pertanyaan Jerricco menginterupsinya. “I-ini bukan apa-apa,” jawab Damara gugup.
Jerricco bangkit dari duduknya dia berjalan menghampiri Damara, tangannya menyingkap baju atasan Damara.
“Tuan,” pekik Damara. Dia malu saat Jerricco menyingkap baju atasnya, tangannya berusaha menarik mendorong bajunya yang di singkap oleh Jerricco.
Jerricco melihat kulit Damara yang memerah, “Kenapa tidak bilang padaku, siapa yang berani melakukan ini padamu?” tanya Jerricco dengan sorot mata khawatir.
“Tadi aku jalan menunduk jadi tidak melihat ada orang di depanku,” ucap Damara jujur, ia menundukkan kepalanya karena malu.
Jerricco menjepit hidung Damara menggunakan telunjuk dan jari tengahnya, “Dasar ceroboh!” Jerricco berjalan menuju pintu untuk menemui Kevin, beruntung Kevin makan di meja yang tidak jauh dari pintu.
Kevin yang sedang memilih menu makanan menghentikan aktivitasnya Karena mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. “Ada yang bisa saya bantu Lord?”
“Ambilkan salep untuk luka bakar!”
__ADS_1