Terpaksa Menikahi Mr. Billoners

Terpaksa Menikahi Mr. Billoners
Penantian


__ADS_3

Sementara di ruangan pribadi miliknya Jerricco tengah menikmati sarapan paginya memperhatikan Damara yang terbangun dengan wajah yang terlihat menggemaskan bagi Jerricco. Ia sengaja keluar dari kamar tersebut sebelum Damara terbangun.


Damara terbangun dari mimpi indahnya, kelopak matanya setengah terbuka. Bibirnya tersenyum menampilkan sebuah kebahagiaan. Ia bahagia semalam bermimpi berciuman dengan Jerricco, bahkan ucapan Jerricco di dalam mimpinya semalam mampu membuat pipi Damara bersemu merah.


“Aku tidak pergi, aku di sini bersamamu,” kalimat tersebut terasa nyata bagi Damara.


Damara mengambil guling dan memeluknya kembali. ‘Oooh my Lord’ batin Damara. Kalau saja kalian bisa melihat hati Damara kini bagaikan hamparan taman bunga yang bermekaran, cantik dan indah. Ia berharap bisa bertemu dengan Jerricco, hal yang Damara ingin lakukan ialah memeluk suaminya dengan erat.


Hatinya memang mudah terluka tetapi Damara juga tidak tahu, mengapa ia mudah sekali tersipu dan mendambakan pelukan Jerricco. Damara memilih mengenyahkan pikiran-pikiran buruk yang mampir di kepalanya, ia memilih menikmati proses dan mengikuti kata hatinya dari pada mengikuti isi kepalanya yang selalu membuatnya terluka.


Damara melepaskan pelukan pada guling tersebut, ia memilih untuk segera membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk kembali latihan. Damara melakukan sarapan di ruangan makan kemarin, kini sarapannya habis tidak tersisa.

__ADS_1


“Ayo, saya sudah selesai,” ujar Damara pada pria yang melatihnya.


Mereka berjalan menuju tempat latihan kemarin di sana tidak ada Robert. Mereka hanya berdua di ruang persegi tersebut, Damara mulai menyimak materi yang di berikan pelatihnya.


***


Damara berdiri dengan tegap tangannya memegang senjata api, maniknya fokus pada satu titik. Telunjuknya siap menarik pelatuk senjatanya.


Dor, suara nyaring tersebut menggema. Suara tepuk tangan terdengar dari tangan sang pelatih yang puas melihat tembakan Damara yang tepat mengenai sasaran.


Damara mengangguk dan menyimpan senjata tersebut pada tempatnya. Ia berjalan menuju tempat beristirahatnya, helaan nafas keluar dari mulutnya sudah satu minggu ini ia berlatih. Tetapi ia tidak bertemu Jerricco, Robert hanya beberapa kali menemani latihan tetapi tidak pernah berbicara mengenai Jerricco.

__ADS_1


Damara membuka pintu dengan kunci di tangannya, ia masuk ke dalam dan berjalan menuju jendela tempat favoritnya. Tangannya menggenggam ponsel dengan erat, ia ingin tahu kabar Jerricco.


Damara mencari kontak Jerricco dan memberanikan diri untuk menghubunginya, jantungnya berpacu dengan cepat menunggu panggilannya di jawab oleh Jerricco. Teleponnya sudah terhubung tapi tidak ada suara sedikit pun hening, Damara mendadak gugup lidahnya kelu.


Baru saja ia membuka mulut untuk berbicara namun sialnya sambungan telepon tersebut di putus secara sepihak, Damara mengepalkan tangannya. Ia memandangi lautan di depannya.  Cukup lama Damara hanya diam termenung hingga ia terkejut mendapati tangan yang melingkar di lehernya setengah mencekik, ‘Sialan, siapa yang berani melakukan ini padaku?’ batin Damara.


Ia memberikan perlawanan menggunakan sikutnya hingga pria itu melepaskan lengannya yang melingkar di leher Damara. Tanpa aba-aba dan tidak ingin kecolongan ia memutar tubuhnya lalu memberikan bogem mentah tepat di pipi pria tersebut.


Tubuhnya lemas seketika mendapati Jerricco yang barusan ia pukul, bahkan terlihat sudut bibirnya sedikit terluka karena pukulannya. “Ma-maaf,” ucap Damara dengan gugup.


Jerricco masih diam memandangi manik Damara, ia menunggu reaksi lain dari wanita yang sudah ia rindukan beberapa hari ini.

__ADS_1


Damara menghambur ke pelukan Jerricco, “Maaf aku tidak sengaja.” Damara menyembunyikan wajahnya saat merasakan tangan Jerricco yang membelai rambutnya. Rasa bahagia itu jelas tergambar di hati Damara, penantiannya tidak sia-sia. Kini ia bisa merasakan aroma Jerricco serta pelukan hangatnya.


 


__ADS_2