
Jerricco melap bibir Damara dengan kasar, tangannya tidak tinggal diam untuk menyentuh setiap titk sensitip Damara. Damara menikmati ciuman dan sentuhan yang Jerricco berikan, bahkan tanpa ragu Damara membuka kemeja yang sedang di kenakan Jerricco.
Jerricco sudah menanggalkan pakian atasnya, kini tangannya membuka setiap kencing kemeja milik Damara. Tangan nakalnya sesekali meremas gundukan kenyal milik Damara.
Gundukan kenyal itu sangat menggoda Jerricco memberikan tanda kepemilikannya di sana. Gairahnya semakin bergejolak saat bayangan malam pertama mereka gagal, Jerricco masih ingat rasa kelembutan Damara yang sempit dang mencengkram miliknya dengan kuat.
Dengan memikirkannya saja sudah membuat Jerricco merasa sesak, ia menyudahi sesi panas mereka. Jerricco bisa saja meminta Damara memuaskannya tanpa kelembutannya, tapi Jerricco tidak ingin menjadikan Damara budak seksnya ia lebih memilih beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
Damara bernafas lega saat melihat punggung Jerricco menghilang di balik pintu. Sebetulnya masa tamunya sudah usai kemarin, hanya saja masih ada rasa takut di hatinya. Takut Jerricco meninggalkan tubuh polosnya seperti malam pertama mereka.
Damara mengancingkan kemejanya, ia menghela nafasnya. Rasa sakit itu masih terasa di hatinya, ‘Aku belum bisa melakukannya lagi’.
Setelah selesai menghilangkan gairahnya Jerricco membersihkan tubuhnya dan memakai baju. Ia melihat Damara yang tertidur dengan posisi meringkuk. Jerricco ikut merebahkan tubuhnya dia atas tempat tidur, dan memeluk Damara.
***
Damara memang tidak bekerja hari itu tapi setelahnya dia sangat sibuk, bahkan Jerricco sering datang menyusul kalau Damara belum pulang juga seperti hari ini.
__ADS_1
Jerricco menatap tajam pada Damara, “Memangnya kau di gaji berapa sampai kau pulang terlambat?”
Damara menundukkan kepalanya. Kepalanya terasa sangat pusing, ia mencoba mengerjapkan matanya agar kembali fokus. Beberapa hari ini ia memang pulang terlambat, Damara harus menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum ikut ke Italia. Begitu juga dengan acara lamaran Galang yang akan di selenggarakan besok cukup menyita waktunya.
“Jawab Damara, bukan diam saja,” tegas Jerricco. Damara meremas seprai untuk menahan tubuhnya yang terasa lemas, ia takut kehilangan kesadarannya.
Jerricco memperhatikan tingkah Damara yang tampak lain dari biasanya. Ia duduk di samping Damara hendak menarik dagu sang istri agar menatapnya. Sebelum tangannya menyentuh Dagu Damara, Jerricco melihat Damara yang hampir jatuh ke bawah. Dengan sigap Jerricco menangkap Damara dan merebahkan tubuh Damara di atas tempa tidur.
“Maaf,” lirih Damara.
“Kevin, Damara pingsan. Bawa dokter kemari.”
Setelah memutus sambungannya Jerricco kembali menepuk pipi Damara, “Sayang bangun.” Rasa cemas itu menyelimuti hatinya Jerricco merasa tidak tenang, ia berjalan keluar mencari Kevin karena Jerricco tidak bisa menunggu ia takut terjadi apa-apa pada Damara.
“Kevin,” panggil Jerricco dari pintu kamar melihat Kevin yang tengah duduk di ruang keluarga.
Merasa namanya di panggil Kevin beranjak dan menghampiri Jerricco. Kevin membungkuk hormat “Iya Lord.”
__ADS_1
“Mana dokternya?” bentak Jerricco.
Kevin melihat jelas gambaran wajah khawatir tuannya, “Sebentar Lord. Dokternya sedang di jalan.”
“Lima menit, kalau sampai tidak datang saya penggal lehermu!”
Kevin menghela nafas saat melihat Jerricco yang kembali masuk ke dalam kamar. Ia berjalan ke depan untuk menanti kedatangan dokter. Dewi keberuntungan berpihak padanya belum menit Kevin sudah bisa melihat bidadari cantik yang mengenakan jas dokter yang berwarna putih dengan rok hitam.
“Mari dok cepat.” Dokter tersebut mengikuti langkah Kevin. Sesampainya di kamar Jerricco Kevin mengetuk pintu. “Lord,” panggil Kevin.
Jerricco menghampiri pintu dan menatap dokter yang di panggil Kevin. “Masuk dan periksa istri saya sebaik mungkin.”
Wanita yang memakai jas putih mengangguk patuh dan berjalan memasuki kamar Jerricco, sementara sang pemilik kamar menatap Kevin. “Siapkan penerbangan ke Italia!”
“Baik Lord.”
__ADS_1