
Semua orang punya masa lalu, sama seperti dirinya dan Damara tidak bisa menumpahkan kesalahan itu pada Jerricco. Damara memang kehilangan mahkotanya dengan cara tidak wajar, dia di campakkan oleh suaminya sendiri, Jerricco.
Damara memang terpaksa menikah dengan Jerricco, tapi dia sudah mengucap janji pernikahan pada tuhan. Mungkin semua terlalu cepat baginya dan Jerricco, itu lah yang membuat Jerricco dan dirinya sama-sama tidak mengenal satu sama lain.
“Apa kau ingin makan?”
Damara tidak ingin banyak berbicara, dia memilih menganggukkan kepalanya.
“Tunggu sebentar aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan makanan.” Ucap Jerricco. Dia turun dari tempat tidur, berjalan menuju ruang ganti.
Damara memakai kesempatan itu, dia bangkit dan berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah sesampainya di kamar mandi, ia menutup pintu lalu menguncinya.
Bagian bawahnya memang terasa sakit, tapi tidak seberapa sakit jika di bandingkan hatinya. Damara menghela nafasnya kasar, dia berjalan menuju bathup menyiapkan air hangat untuknya berendam.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya dan memakai baju yang dia bawa, Damara keluar dari kamar. Dia melihat Jerricco yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur dan manik itu menatapnya.
Damara berusaha tersenyum saat manik mereka bertemu. “Apa makanannya sudah siap?”
__ADS_1
“Sudah,” jawab Jerricco singkat.
Damara mengikuti langkah Jerricco yang berjalan keluar kamar menuju ruang makan. Di sana tersaji beberapa menu makanan, dengan harum yang sangat menggoda Damara.
Jerricco mendekati meja makan, menarik kursi untuk Damara duduki. “Terima kasih,” ucap Damara lembut.
Jerricco duduk di samping Damara, dia memperhatikan Damara yang tengah menyendok nasi lalu di simpan di atas piringnya.
Damara hanya mencoba melakukan pekerjaan istri seperti yang biasa ia lihat saat ibu menyiapkan makan untuk Papa.
Setelah selesai makan Damara memanggil Jerricco yang hendak meninggalkan meja makan, “Tuan.”
Jerricco menatap Damara yang kini berdiri di menatapnya, “Ada apa?”
“Besok saya harus kembali bekerja,” ucap Damara.
“Kau bisa berhenti bekerja, karena besok kita akan ke kembali kenegaraku.”
__ADS_1
Damara menundukkan kepalanya, “Tapi tuan, saya …..” Damara merasa ragu, Italia adalah tempat yang belum pernah ia kunjungi.
Melihat Damara yang tampak ragu melanjutkan ucapannya Jerricco menatap lekat manik Damara. “Bicaralah,” perintah Jerricco.
“Saya masih ingin bekerja di pulau Kanawa, Apa kita akan menetap di Indonesia?”
“Tidak Damara, perusahaan pusatku ada di Italia. Saya tidak bisa meninggalkannya terlalu lama … saya harap kau mengerti.”
Mendengar ucapan dari mulut Jerricco yang kini sah menjadi suaminya, Damara hanya bisa mengangguk berusaha setuju atas semua keinginan Jerricco.
Ternyata kesepakatan ini menghilangkan pekerjaannya karena keputusan Jerricco, tapi mau bagaimana lagi Damara sudah resmi menikah dengan Jerricco. Setidaknya para pencari rupiah di pulau Kanawa masih bisa berlanjut tanpa harus pergi karena penggusuran yang Jerricco lakukan.
“Pulau Kanawa masih berada di tanganku, selama kamu masih bersamaku mereka semua akan aman mencari uang di sana.”
“Tidak ada kesempatan untuk aku mengakhiri pernikahan ini? Bahkan aku kehilangan pekerjaanku,” tanya Damara.
“Aku tidak akan membiarkan kesempatan itu hadir.” Jerricco ingin egois untuk saat ini, dia berusaha menyeret Damara untuk mengisi hatinya agar Jerricco memiliki seseorang yang mau menemani hari-harinya.
__ADS_1