
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 10
"Sekarang kita sudah jadi suami istri, jadi wajar jika kita berciuman," jawab Andra dengan tatapan mata yang masih mengarah kepada bola mata bening milik Adelia.
"Jadi, biasakan kita berciuman mulai saat ini," bisik Andra.
"Hm." Adelia pun mengangguk.
Lalu, Andra pun mengusap lembut pipi Adelia yang terasa halus. Bibirnya pun langsung mengarah pada bibir milik sang istri. Diciumnya bibir itu dengan lembut.
"Ikuti apa yang aku lakukan," bisik Andra, kemudian dia memanggut kembali bibir milik Adelia.
Awalnya Andra ingin membalas Adelia dengan mengambil daging yang sudah ada di dalam mulutnya. Namun, siapa sangka baru sekali nempel bibirnya pada bibir lembut milik Adelia, membuatnya menjadi ketagihan. Untungnya, gadis itu bisa dikadalin karena bodoh tambah polos. Jadinya, sekarang laki-laki itu dengan modus untuk membantu akting mereka nanti di depan sang mantan, bisa mencium bibir ranum nan menggoda itu.
Adelia yang masih kaku dan tidak tahu bagaimana cara membalas ciuman, diajari oleh Andra. Entah berapa kali mereka berciuman malam ini, sampai Adelia bisa membalas ciuman sesuai dengan yang diinginkan oleh sang suami.
"Sudah, a-h! Bibir aku terasa kebas," ucap Adelia dengan napas terputus-putus karena berciuman dengan Andra dengan cara saling melu_mat.
"Oke. Hari ini sampai di sini pelajarannya. Besok kita lanjutkan," kata Andra sambil mengusap kepala sang istri.
Perlakuan ini mengingatkan Adelia kepada Bram. Mantannya itu juga selalu mengusap kepalanya jika dia melakukan hal yang baik. Itu cara mengganti ciuman yang disarankan oleh Abas.
***
Sementara itu, di rumah sebelah Adelia dan Andra. Terlihat Bella sedang berdiri di belakang tubuh Bram yang sedang memasak.
"Kamu tidak takut minyaknya menciprat ke tangan dan wajah?" tanya Bella kepada suaminya.
"Tidak, aku sudah tahu caranya agar tidak muncrat mengenai wajah," jawab Bram sambil tersenyum tipis.
"Bagaimana caranya? Biar nanti aku bisa saat memasaknya," tanya Bella.
"Yang pertama, kamu jangan dekatkan wajah ke wajan," jawab sang suami.
__ADS_1
"Ya, tentu saja itu. Masa memasak wajah didekatkan ke wajan," ucap Bella sambil menepuk punggung Bram dengan kesal karena merasa dia dianggap bodoh.
'Oh, ternyata Bella lebih pintar otaknya dibandingkan Adel.' (Bram)
"Kedua, kamu jangan memasak dengan api besar, cukup api sedang," kata pemuda yang memakai kaos berlengan pendek.
Bella pun agak membungkuk, lalu melihat ke arah kompor gas itu. Terlihat api biru yang tidak terlalu besar maupun terlalu kecil.
"Oh, iya. Lalu?" Bella kembali berdiri tegak.
"Balikan ikan ini, jika dirasa sudah kering bagian bawah dan balikan dengan segera. Jangan ragu-ragu dan takut. Seperti ini!" ujar Bram sambil membalikan ikannya.
Melihat hal itu Bella merasa takjub pada Bram. Dia salut pada laki-laki yang bisa memasak. Sebab, dia tidak bisa masak sama sekali.
"Sebaiknya kamu buat sambal saja! Aku sudah siapkan semuanya di layah. Kamu tinggal ulek saja semuanya," titah Bram kepada gadis yang masih berdiri di belakangnya.
"Baiklah." Menurut Bella mengulek sambal itu mudah, apalagi semua bahan dan bumbu sudah disediakan di sana.
Perempuan itu pun mulai mengulek bahan-bahan untuk membuat sambal. Namun, Bella bukannya mengulek malah menumbuk bahan sambal. Akibatnya, pada terbang dan melompat bawang merah, bawang putihnya. Hal yang paling mengerikan adalah air cabe rawit menciprat sampai kena mata Bella.
"Aaaa-hk! Perih … perih!" Bella hendak menyentuh mata dengan jari tangannya.
Laki-laki itu membawa Bella ke kamar mandi yang ada di dekat dapur. Lalu, mencuci kedua tangan Bella dan menyuruhnya mencuci wajah dan matanya dikedip-kedipkan pada air.
"Kamu, tidak hati," ucap sang suami.
"Aku tidak mengira kalau membuat sambal itu sangat susah," balas sang istri yang kini sudah merasa lebih baik.
"Cara mengulek kamu itu bagaimana? Kenapa bisa pada terlempar begitu semua bahan-bahan sambalnya?" tanya Bram tidak mengerti. Jika, tidak ada bawang merah yang terlempar ke arah kepalanya, dia tidak akan melihat ke arah Bella, tadi.
Akhirnya, semua pekerjaan membuat makan malam itu dilakukan oleh Bram. Sementara itu, Bella duduk manis sambil melihat ke arah suaminya.
'Dia itu hebat, ya! Bisa masak juga.' (Bella)
Melihat Bella makan banyak membuat Bram senang. Dia juga merasa bersyukur karena Bella bukan orang yang rewel soal makanan. Meski Bella terbiasa hidup mewah dan selalu dilayani oleh pelayan. Dia mau menurut omongan suaminya.
Bram menginginkan keluarga mereka bisa mandiri tanpa bergantung kepada orang tua mereka. Bahkan Bella pun dilarang meminta uang kepada orang tuanya. Perempuan itu harus bisa menggunakan uang pemberian dari sang suami untuk sebulan.
__ADS_1
"Enak sekali. Meski hanya ikan goreng, sambal, dan lalap. Aku merasa sangat nikmat, walau makan menu seperti ini."
"Itu karena kamu sudah berusaha untuk memasak ini, sehingga terasa nikmat. Besok coba kamu buat sarapan, maka rasanya pun akan terasa enak," tukas Bram.
"Oke, akan aku coba buat besok pagi. Tapi, kamu jadi mentornya, ya!" pinta Bella dengan tatapan penuh harap.
"Ya, baiklah. Aku akan membantu kamu," balas Bram sambil tersenyum tipis.
"Yes! Akan aku buktikan kalau aku juga bukan anak manja yang tidak bisa apa-apa. Enak saja dia bilang aku seperti itu," ujar Bella dengan kesal.
Bram pun mengusap kepala Bella. Hal ini membuat terkejut perempuan itu. Dia merasa ada perasaan asing yang dirasakan olehnya.
'Eh, ada apa ini? Kenapa jantung aku deg-degan?' (Bella)
***
Berbeda dengan acara makan malam di rumah Candra dan Citra. Hidangan mewah sudah tersedia di atas meja makan. Seorang pelayan baru selesai meletakan teko berisi air putih.
"Tuan … Nyonya, jika ada apa-apa panggil saja. Saya ada di dapur, mau mencuci bekas masak," ucap sang pelayan.
"Iya, sana bereskan pekerjaan kamu!" suruh Citra pada perempuan muda itu.
Candra hanya makan dalam diam. Saat melihat ada cumi asam pedas tersedia di atas meja makan, dia teringat pada mantan kekasihnya. Ini adalah makanan kesukaannya. Diambilnya piring itu dan dia makan malam dengan menu itu.
Citra sangat tahu apapun tentang Candra dan Citra. Tentu saja makanan kesukaan keduanya juga tahu. Selama tiga tahun menjadi sekretaris CEO PT. Atma, dia sering dimintai tolong oleh Candra dalam memberikan hadiah atau membelikan sesuatu yang disukai oleh Bella.
Perlakuan Candra kepada Bella sering membuatnya iri. Betapa Candra sangat memperhatikan dan mengutamakan kebahagiaan kekasihnya.
Berbeda dengan dirinya yang harus bersabar jika meminta sesuatu kepada Andra. Memang pada akhirnya, apapun yang diinginkan olehnya pasti akan dibelikan juga oleh kekasihnya itu, hanya butuh waktu untuk mengumpulkan uangnya.
'Coba kalau Andra itu orang kaya. Aku tidak perlu menjadi istrinya Candra untuk menikmati hidup mewah seperti ini.'
'Andra itu menikah dengan siapa, ya? Kok, mereka bisa tinggal di komplek elit seperti ini? Apa dia menikah dengan seorang anak konglomerat?'
'Apa aku rayu lagi Andra, ya. Aku akan suruh dia untuk menguras harta istrinya sampai tidak bersisa. Jika, dia sudah kaya, maka aku mau kembali kepadanya dengan senang hati.' (Citra)
***
__ADS_1
Akankah Citra melakukan hal itu, jika tahu Andra adalah cucu pemilik perusahaan besar? Apa Andra akan kembali pada Citra? Tunggu kelanjutannya, ya!