Tetanggaku ... Mantanku

Tetanggaku ... Mantanku
Bab 75. Andra Dan Adelia Diculik


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 75


Hari-hari berlalu dengan damai, Adelia sebagai ibu hamil mengalami mengidam yang aneh-aneh. Seperti selalu ingin dipijat oleh Andra jika sudah melakukan hubungan suami istri.


Selain itu semenjak kehamilannya, gairah Adelia mudah sekali terpancing. Bahkan dia yang lebih aktif bergerak saat mereka bercinta.


Ada lagi yang lainnya, yaitu Adelia paling suka memencet hidung suami dan kembarnnya setiap pagi sebelum sarapan. Jika, tidak melakukan itu berasa ada yang kurang dan ujung-ujungnya akan uring-uringan. Tentu saja ngidam Adelia ini membuat Abbas tidak bisa pergi jauh darinya. Pernah saat dia pergi tugas ke luar kota, baru saja ditinggal sehari, Adelia menangis dan tidak mau melakukan apa pun sebelum memencet hidung kembarannya. Ini membuat Abbas mempercepat kepulangannya. Gantinya seharian itu setiap kali melihat Abbas, maka Adelia akan memencet hidungnya.


Hari ini adalah hari Sabtu, hari yang ditunggu-tunggu oleh Adelia. Sebab, malam nanti dia akan pergi berkencan bersama. Sejak bangun tidur, ibu hamil itu bernyanyi riang gembira, sehingga semua orang pun terbawa kebahagian itu.


"Sayang, masak apa?" tanya Andra sambil memeluk sang istri dari belakang.


"Ayam kecap pedas. Cumi asam pedas, dan sayur sop," jawab Adelia memalingkan wajahnya ke arah Andra. Satu ciuman mendarat di bibir ranum Adelia.


Abbas kadang iri sekaligus senang saat melihat kemesraan Andra dengan Adelia. Calon istri dia sedang belajar di luar negeri, jadinya tidak bisa bermesraan.


"Adel," sapa Abbas.


Adelia yang sedang memasak, langsung meninggalkan wajan berisi ayam yang masih diungkep. Lalu, dia memencet hidung kembarannya. Tidak terlalu keras, hanya bisa pegang dan memencet saja, itu sudah cukup.


"Sampai kapan, sih, Del? Kamu terus pencet hidung aku," tanya Abbas.


"Sampai bayiku ini merasa bosan," balas Adelia sambil tersenyum jahil.


Andra dan Abbas saling lirik dan menghela napas pasrah. Mereka tidak akan bisa melawan ibu hamil ini.

__ADS_1


'Kayaknya sampai lahiran baru merasa bosan.' (Andra dan Abbas)


Mereka sarapan bersama dengan menu makanan buatan pasangan suami istri yang sedang di mabuk cinta. Sudah kebiasaan keluarga Adelia dan Andra kalau sarapan harus ada nasi meski sedikit. Baru saja beberapa suap mereka makan, tiba-tiba saja semua orang terjatuh tidak sadarkan diri. Dari semua orang yang ada di sana, Andra yang paling mengenaskan, karena mukanya jatuh tepat di atas piring yang masih berisi makanan.


Hanya Mbah Urip alias Cobra saja yang masih sadar. Dia tersenyum lebar melihat tuan rumah sudah jatuh tertidur. Apalagi sang korban yang menjadi targetnya sudah tidak berdaya.


Tadi Cobra diam-diam sudah memberikan obat tidur pada makanan dan minuman milik mereka. Selain itu Mang Anang dan istrinya sudah terlebih dahulu tidak sadarkan diri dan kini di ikat di dalam gudang.


"Halo, cepat bawa mobil kemari sebelum dia sadar!"


Cobra menghubungi temannya untuk menjalankan rencana yang sudah lama dia bentuk bersama Mama Cindy. Dia tidak mau terjadi kegagalan kali ini. 


Dibawanya Adelia dan Andra ke dalam mobil. Sementara itu, dia membiarkan Abbas dan kedua orang tuanya tertidur begitu saja di ruang makan. Laki-laki itu menganggap kalau mereka tidak ada urusan dengannya.


Adelia dan Andra di bawa ke rumah Citra yang ada di depan rumah Andra. Kali ini Mama Cindy yang akan membuat Andra melakukan hubungan suami istri dengan Citra. Mereka diberi obat perangsang dan penyubur. Sementara itu, Adelia ditempatkan di kamar sebelahnya untuk menyaksikan perbuatan suami dan mantannya lewat layar monitor.


"Nyonya, sepertinya obat itu belum bereaksi pada mereka," ucap Cobra yang melihat Andra dan Citra masih diam tertidur. 


Temannya Cobra menambahkan obat perangsang, kali ini lewat suntikan, agar cepat bereaksi. Baik Andra maupun Citra sama-sama diberi satu suntikan.


***


Di lain tempat, Bram yang diminta oleh Abbas untuk menghubungi Adelia satu jam sekali, merasa curiga karena sudah beberapa kali dihubungi mantan kekasihnya itu tidak mengangkat panggilannya. Begitu juga saat dia menghubungi Abbas dan Andra, tidak ada satu orang pun dari mereka yang menanggapi panggilannya.


"Apa sedang terjadi sesuatu kepada mereka?" gumam Bram.


Bram pun mencoba menghubungi orang-orang terdekat Adelia. Orang pertama yang dia hubungi adalah mantan istrinya.


"Halo, Bella. Apa kamu sedang senggang?" 

__ADS_1


^^^"Aku sedang membuat desain baju pengantin untuk aku pakai nanti di acara pernikahanku. Ada apa?"^^^


"Aku tidak bisa menghubungi Adelia atau pun Andra dan Abbas. Mereka seperti di telan bumi."


^^^"Apa? Bagaimana bisa itu terjadi? Apa sedang terjadi sesuatu kepada mereka?"^^^


"Abbas beberapa hari yang lalu, meminta  aku untuk menelepon Adel satu jam sekali hanya untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Katanya ada satu masalah yang belum bisa diberi tahu kepada aku. Sejak dua hari yang lalu aku telepon Adel setiap satu jam sekali dan dia mengangkat panggilan dari aku. Namun, hari ini semua orang tidak ada yang menanggapi panggilan dariku. Apa masalah yang sedang terjadi pada mereka sangat serius?" 


^^^"Aku tidak tahu. Sebaiknya kita ke rumah orang tua Adel untuk menanyakan ini. Hari ini mereka libur dan nanti malam kita sudah janjian. Tidak mungkin tiba-tiba Adel sulit dihubungi."^^^


"Ya, aku juga mau ke rumah orang tua Adel."


***


Bram pun mendatangi rumah orang tua Adelia. Bangunan itu terlihat sangat sepi dan pintu gerbangnya pun tertutup. Perasaan dia kalau ada sesuatu yang sedang terjadi pada Adelia, maka dia pun mencoba masuk ke dalam rumah. Ternyata pintu gerbang hanya tertutup tanpa di kunci.


Laki-laki itu masuk dengan berjalan cepat. Meski pintu depan sudah diketuk beberapa kali, tidak ada yang membuka. Dia pun membuka sambil mengucapkan salam. Namun, tidak ada tanda-tanda orang di sana.


"Abbas! Papa Adam! Kalian di mana?" teriak Bram memanggil nama penghuni rumah.


Dia pun memasuki ruangan demi ruangan di lantai satu. Dia berharap bisa bertemu dengan pembantu di rumah itu. Begitu masuk ke ruang makan, terlihat ada Abbas, Papa Adam, dan Mama Alia dalam tidak sadarkan diri.


"Abbas ... Papa Adam ... Mama Alia!" Bram menggoyangkan badan mereka mencoba membuatnya sadar.


"Apa yang sudah terjadi pada kalian? Adel di mana? Hei, bangunlah!" teriak Bram lagi.


***


Apakah Andra dan Adelia bisa selamat? Apa rencana Mama Cindy dan Cobra akan berjalan lancar? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.



__ADS_2