
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 59
Setelah acara makan malam romantis ala Adelia selesai, kedua sejoli itu pun lanjut ke tahap selanjutnya. Andra mencumbu mesra sang istri.
"Sayang, kita lanjut buat bayi, ya?" Andra memberikan sentuhan lembut pada tubuh seksi milik Adelia.
"Boleh," balas Adelia sejenak tersenyum, "tapi, tunggu sebentar, ya. Aku ingin pipis dulu."
"Jangan lama-lama," ucap Andra dengan berbisik menggoda sang istri dan sukses membuat tubuh Adelia merinding.
Wanita itu merinding entah karena bisikan mesra sang suami atau karena menahan buang air kecil yang dia tahan dari beberapa saat yang lalu. Adelia pun berlari kecil ke kamar mandi.
"Aaaaaa!" teriak Adelia.
Mendengar teriakkan sang istri, Andra pun bergegas lari ke kamar mandi. Dia melihat Adelia sedang duduk di closed.
"Ada apa, Sayang?" tanya Andra.
"A-ku datang bu-lan," jawab Adelia dengan mata yang berkaca-kaca dan terbata-bata.
Andra juga merasa sedih. Usahanya selama ini gagal, padahal mereka sangat berharap sekali segera bisa punya bayi.
"Tidak apa-apa. Nanti, kita bisa berusaha lagi jika kamu sudah selesai masa menstruasi," ucap Andra sambil mengusap kepala istrinya.
"Kamu tidak marah, 'kan?" tanya Adelia dengan suaranya yang lemah.
"Tentu saja tidak. Mana mungkin aku marah sama kamu. Lagian ini sudah menjadi hukum alam seorang wanita untuk datang bulan," jawab Andra, kemudian dia mencium kening Adelia.
Andromeda yang tadi sudah mulai bangun, kini menjadi tertidur kembali saat dia mengetahui kalau Adelia sedang medapatkan datang bulan. Bukan hanya istrinya saja yang sedih, Andra juga sedih. Namun, mau bagaimana lagi, sekarang belum takdir mereka untuk memiliki anak.
Malam ini pun mereka tidur hanya saling berpelukan. Kegiatan bercocok tanam yang tadi sudah direncanakan, terpaksa ditunda sampai minggu depan.
***
__ADS_1
Pagi harinya, saat Adelia keluar rumah bersama Andra. Ternyata di rumah seberang ada Citra yang keluar dari rumahnya. Wajah wanita itu memakai plester di pipi. Terlihat juga pelipis dia memakai perban.
"Kenapa itu muka si Mak Lampir?" tanya Adelia.
Andra yang melihat itu menahan tawa karena teringat kejadian semalam. Namun, di sisi lain dia merasa kasihan padanya. Pada dasarnya Citra adalah orang baik, hanya saja orang-orang di sekelilingnya yang memaksa dia untuk berbuat sesuai keinginan mereka.
"Entahlah. Biarkan saja, Sayang. Sebaiknya kamu cepat masuk!" titahnya pada Adelia agar masuk ke dalam mobil.
Berbeda dengan Bella dan Bram yang tersenyum melihat Citra. Kedua orang itu juga teringat kejadian semalam. Namun, mereka memilih pura-pura tidak tahu dan tidak memperdulikannya. Keduanya pun segera masuk ke mobil masing-masing untuk pergi bekerja.
Citra kini sudah bekerja di perusahaan lain. Meski gajinya tidak seberapa sewaktu di perusahaan milik Chandra, tetapi masih mending daripada jadi pengangguran.
"Awas kamu wanita gatal, akan aku balas perbuatan kamu semalam," gumam Citra sambil melihat mobil Andra melaju meninggalkan rumahnya.
***
Adelia mendatangi rumah kedua orang tuanya dan menceritakan kesedihan hati dia yang belum berhasil hamil. Selama ini dia selalu berusaha membuat bayi setiap hari bersama Andra agar cepat membuahkan hasil, tetapi belum ditakdirkan untuk mereka.
"Coba dikurangi menjadi dua hari sekali atau tiga hari sekali waktu membuat bayinya," kata Mama Alia.
Setelah mendengar curahan hati anaknya, Mama Alia pun memberikan wejangan kepada Adelia. Sebab bercinta setiap hari kadang tidak baik juga. Bagusnya dalam seminggu melakukan kegiatan bercinta itu 2-3 kali.
"Baik, Ma. Nanti akan Adel praktekan untuk bulan depan," balas Adelia.
"Nih, minum juga jamu rapet wangi, biar suamimu semakin klepek-klepek sama kamu," bisik wanita paruh baya itu.
"Benarkah, Ma?" Adelia sudah bisa membayangkan sang suami yang dibuat mabuk kepayang olehnya.
"Bener. Coba saja kalau kamu tidak percaya," balas ibu beranak dua ini.
***
Kesedihan Adelia pun terdengar sampai ke telinga ibu mertuanya. Wanita berdarah asing itu pun mendatangi rumah Andra dan membawa banyak makanan cemilan dan buah-buahan kesukaan sang menantu.
"Mami juga ikut sedih jika kamu sedih seperti ini. Kamu jangan nangis lagi, ya," kata Mami Alicia sambil menghapus air mata menantunya.
"Padahal semua orang sangat berharap kalau Adel bisa secepatnya hamil," ujar Adelia yang ada di dalam pelukan sang mertua.
__ADS_1
"Kamu jangan menjadikan hal itu sebagai beban. Jika kamu banyak pikiran dan fisik kamu lelah, maka akan sulit hamil. Coba sekarang lakukan hal yang membuat hati kamu senang. Buang pikiran-pikiran yang tidak penting," lanjut Mami Alicia.
'Mencarikan jodoh untuk Bram itu sangat penting. Jadi, aku boleh memikirkannya. Menjaga Andra dari si Mak Lampir juga itu sangat penting. Jadi, aku boleh memikirkannya. Eh, ternyata setelah menikah itu malah banyak yang aku harus pikirkan.' (Adelia ingin menangis)
Orang seperti Adelia yang biasanya tidak pernah memikirkan apa pun dalam hidupnya. Kini setelah dia menikah ada peningkatan. Otaknya jadi sering dipakai untuk berpikir.
"Mami akan menginap di sini beberapa hari, agar kamu tidak memikirkan sesuatu yang tidak perlu. Kalau ada apa-apa, bilang saja sama Mami," kata Mami Alicia.
***
Bella sudah mulai maju duluan dalam menjalankan rencana perjodohan. Dia mengundang Bram ke butiknya agar laki-laki itu bisa bertemu dengan Gina, salah seorang pegawai butik milik Bella, yang menjadi salah satu kandidat calon untuk Bram. Bella sengaja menyuruh Gina untuk membantu mengukur badan Bram, karena dia ingin membuatkan baju untuk laki-laki itu.
"Pak Bram tolong angkat kedua tangannya sedikit," kata Gina yang kini sedang memegang tali pengukur.
Bram pun melakukan hal yang diminta oleh perempuan cantik itu. Laki-laki ini tidak berpikiran kalau sang istri sedang merencanakan sesuatu untuk dirinya saat ini.
Gina yang sudah diberitahu rencananya oleh Bella, berusaha menarik simpati Bram. Dia melayani laki-laki itu dengan sangat baik. Sebenarnya wanita ini juga diam-diam selama ini menaruh rasa suka kepada suami bos-nya.
"Apa sudah?" tanya Bram karena merasa tidak nyaman dengan posisi Gina yang seperti hendak memeluknya.
"Sudah, Pak," jawab Gina dengan pipi yang merona.
Bram pun mengajak Bella untuk makan siang bersama. Ketika keduanya keluarnya berjalan keluar butik, ada seorang perempuan yang berlari menabrak tubuh Bram.
"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja! Saya sedang terburu-buru," ucap wanita berambut pendek itu sambil menundukkan kepala beberapa kali.
"Kau?" Bram ingat betul perempuan ini yang dulu menumpahkan es krim padanya.
"Eh. Aaaa!" Wanita itu berteriak karena mendapati lagi orang yang sudah dibuat malu olehnya dulu.
"Kamu yang waktu itu, 'kan?" tanya Bella sambil menunjuk perempuan yang kini sedang melotot dengan wajah pucat.
***
Adakah yang ingat dengan wanita itu 😁? Siapa perempuan itu? Bagaimana perjodohan yang direncanakan oleh Adelia dan Bella berjalan lancar? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.
__ADS_1