
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 57
Adelia saat ini sedang berada di rumah Bella. Wanita itu sudah merencanakan sesuatu untuk memberi pelajaran kepada Citra. Dirinya sempat emosi saat melihat postingan wanita itu saat bersama dengan suaminya, sewaktu di warung nasi tadi siang.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Bella sambil memasukan kue buatan Adelia.
"Aku akan membuat acara makan malam romantis di depan rumah. Biar dia melihatnya dan merasa kepanasan," jawab Adelia sambil tertawa licik.
"Bagus. Aku dukung," ucap Bella.
Kedua wanita itu pun menepukkan tangan mereka sambil tertawa. Mereka selalu kompak jika melakukan sesuatu, apalagi jika berhubungan dengan Citra.
"Apa aku boleh ikut gabung?" tanya Bella karena dia bisa membayangkan makanan apa yang akan dihidangkan oleh Adelia jika sedang mengadakan momen tertentu.
"Tidak boleh!" jawab Adelia menolak keinginan temannya ini.
Tentu saja ini membuat Bella memberengut, karena dia rasanya ingin ikut bergabung dalam acara makan malam nanti. Maka dia pun memutuskan untuk makan malam di luar bersama dengan Bram.
"Hah, Chandra sudah satu hari ini pergi keluar kota. Rasanya sangat hampa sekali jika tidak melihat dia sehari saja," ujar Bella sambil melihat layar handphone miliknya.
"Bagaimana dengan proses perceraian kamu dengan Bram?" tanya Adelia.
"Lancar, tinggal beberapa kali lagi sidang. Setelah itu aku akan pindah dari rumah ini," jawab Bella.
Mendengar hal itu membuat Adelia sedih. Dia sudah merasa cocok berteman dengan Bella. Jika ada apa-apa yang terjadi dia bisa berlari ke sini. Seperti saat ini, ketika dia merasa suntuk dan emosi.
"Kenapa?" tanya Bella sambil menatap ke arah istri Andra.
"Jika kamu pergi dari rumah ini, maka aku tidak akan punya teman lagi di sini," jawab Adelia dengan wajah sendu.
Mendengar itu Bella malah tertawa terkekeh. Dia belum bilang kepada Adelia kalau Chandra juga sudah membeli rumah di kompleks itu. Rumah yang berada di sampingnya, atau rumah nomor enam.
__ADS_1
"Kamu jangan bersedih. Kita nanti juga akan sering bertemu, kok," kata Bella sambil tersenyum manis.
'Aku mau kasih kejutan buat Adelia, nanti. Sekarang biarkan saja dulu dia menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi dalam urusan rumah tangganya.' (Bella)
Adelia tanpa sengaja melihat ke arah jam yang terpasang di dinding. Jarum jam sudah menunjukkan ada angka 5 dan 2. Itu artinya suami dia sudah pulang lebih dari satu jam yang lalu.
"Gawat! Bella aku harus segera pulang. Aduh, jangan-jangan Andra sudah sampai di rumah, lagi," ujar wanita itu sambil beranjak dari tempat duduknya.
Begitu Adelia membuka pintu Andra langsung memeluknya. Tentu saja ini membuat dia terkejut, karena tiba-tiba mendapat serangan mendadak.
"Kamu dari mana saja? Aku sejak tadi mencari dirimu," tanya Andra dengan terisak.
Laki-laki itu takut kalau istrinya pergi setelah dia melihat postingan Citra dan dirinya. Tadi setelah selesai mandi dia mendapatkan pesan dari Abbas dan menanyakan perihal video di warung nasi. Lalu, dia pun mengecek video yang dimaksud oleh kakak iparnya. Betapa marah dan kesalnya dia, saat melihat video dirinya sedang makan bersama dengan sang mantan.
Perasaan dia terasa menghimpit dan bayangan Adelia kabur darinya tiba-tiba saja berkelebatan dalam pikirannya. Sebab, sejak tadi dia tidak menemukan keberadaan istrinya. Dihubungi lewat telepon pun tidak aktif. Tentu saja ini membuat dia semakin takut dan panik. Namun, ketika dia hendak pergi mendatangi tempat-tempat biasanya didatangi oleh Adelia untuk menghabiskan waktu, wanita itu muncul dari balik pintu masuk rumah.
"Aku tadi berada di rumah Bella untuk membicarakan sesuatu yang penting," jawab Adelia enteng tanpa beban. Wanita itu tidak tahu seberapa takut dan panik suaminya tadi.
"Kalian membicarakan apa sampai lupa waktu?" tanya Andra.
"Apa?" Andra tidak memahami maksud istrinya.
Laki-laki itu berpikir kalau makan romantis biasanya dilakukan di tempat yang indah dan bagus, seperti yang selama ini sering mereka lakukan. Bukan di halaman depan rumah.
"Ya, nanti kita makan malam di depan rumah. Aku sudah menghubungi teman yang akan mendekorasi taman depan. Mungkin sebentar lagi akan datang. Aku mau masak dulu sebelum mandi," ucap Adelia sambil mengusap rahang suaminya.
***
Kini halaman rumah Adelia sudah tertata cantik dengan berbagai hiasan lampu. Cara dapat meja dan sepasang kursi di sana dengan banyak lilin beraroma terapi menghiasi di dekatnya. Bahkan pohon-pohon yang tumbuh di halaman dihiasi oleh lampu hias yang bergerak-kelip. Membuat orang-orang terkagum melihat halaman yang berubah menjadi tempat yang seperti di dunia dongeng.
Bella yang melihat itu sangat antusias dan menginginkan hal yang sama juga. Dia meminta kepada Bram suatu hari nanti mereka harus melakukan hal yang sama seperti Adelia dan Andra saat ini. Bram hanya mengiyakan saja keinginan perempuan yang sudah dia anggap adik.
"Adelia bikin aku iri saja," gumam Bella dari arah balkon.
"Kalau nggak itu kita juga makan malam di balkon. Bagaimana?" tanya Bram.
__ADS_1
Mendengar ajakan suaminya itu, Bella tentu saja setuju. Dia juga berdandan sangat cantik malam ini.
Bram juga menghias sedikit Balkon di sana agar terlihat lebih bagus. Dia meletakan beberapa pot bunga di balkon juga beberapa lampu berbentuk lilin yang diletakan mengelilingi balkon secara acak.
"Bram, ini semua kamu kerjakan sendiri?" tanya Bella dengan tatapan berbinar karena kini balkonnya sudah disulap menjadi indah.
"Iya. Apa kamu suka?" tanya Bram.
"Iya. Terima kasih, Bram." Bella pun memeluk Bram dengan penuh sayang.
Sementara itu, Adelia berdandan sangat cantik dan mengenakan gaun yang indah. Wajahnya dia rias dengan full make up tanpa berlebihan.
Andra sendiri memakai pakaian formal yang warna senada dengan milik gaun Adelia malam ini. Senyum kebahagiaan pun terus tercipta di wajahnya.
"Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Andra sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Adelia dan Andra pun makan bersama di halaman depan rumah. Keduanya terlihat saling menyuapi. Tanpa keduanya sadari kalau di rumah sebelah juga sedang melakukan hal yang sama seperti mereka di balkon lantai 2.
"Masakan kamu selalu lezat seperti biasanya dan aku sangat suka sekali," puji Andra.
"Terima kasih, Suamiku. aku akan selalu membuat masakan yang rasanya lezat agar kamu bisa menikmati setiap masakan yang aku buat," balas Adelia.
"Terima kasih, Sayang. Aku semakin mencintaimu," aku Andra.
"Aku tidak percaya," ucap Adelia sambil memotong daging.
Mendengar ucapan sang istri barusan membuat Andra tersentak. Ada rasa sakit di dadanya seperti terhujam oleh pisau belati.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Andra dengan tatapan sendu. Dia pun menggenggam tangan Adelia meminta penjelasan.
***
Apakah Adelia marah kepada Andra? Atau hanya sedang menguji kejujurannya saja? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.
__ADS_1