Tetanggaku ... Mantanku

Tetanggaku ... Mantanku
Bab 72. Kakek Andi


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 72


Rumah mewah berarsitektur Eropa yang berukuran luas dengan halaman dihiasi pohon-pohon rindang. Kakek Andi duduk di kursi dekat pohon besar sambil menikmati segarnya angin yang bertiup sepoi-sepoi. Laki-laki tua itu sedang menunggu seseorang.


"Tuan, ada tamu," kata kepala pelayan datang melapor.


"Suruh dia ke sini," ucap Kakek Andi.


Tidak lama kemudian datang orang yang ditunggu-tunggu oleh tuan rumah. Setiap dua hari sekali orang itu akan datang ke sana.


"Bagaimana keadaan cucu mantu aku hari ini, Ginanjar?" tanya Kakek Andi.


"Seperti biasa Nona Adelia selalu enerjik dan tersenyum pada orang-orang. Hanya saja …." Ginanjar agak ragu mengatakan hal ini.


"Ada apa? Katakan saja!" titah Kakek Andi. Diambilnya gelas berisi teh herbal. Laki-laki tua itu paling suka minum minuman herbal dibandingkan dengan obat.


"Ada seseorang yang juga mengawasi Nona Adelia dua hari belakang ini," ucap Ginanjar.


"Apa? Siapa orang itu?" Kakek Andi hampir saja tersedak saat mendengar laporan dari orang kepercayaannya.


"Maaf, Tuan. Saya belum tahu identitas orang itu. Hanya saja dia akan duduk di seberang cafe setelah beberapa saat duduk di cafe Nona Adelia. Hari ini juga orang itu datang ke cafe jam 10-an dan keluar saat memasuki waktu makan siang. Namun, laki-laki itu duduk di tembok dekat bahu jalan," jelas Ginanjar.


"Jika orang mencurigakan berbuat sesuatu yang bisa membahayakan Adelia dan bayinya. Maka, kamu harus benar-benar sigap sebelum itu terjadi," tutur Kakek Andi sambil melihat foto-foto yang diambil oleh Ginanjar secara diam-diam.


"Kamu sudah kirim foto-foto Adelia hari ini kepada Andra?" tanya Kakek Andi masih sambil melihat foto-foto Adelia yang sedang melayani pembeli.


"Sudah, Tuan. Hanya saja nomor aku diblokir oleh Tuan Andra. Jadi, aku harus menggunakan nomor baru," jawab Ginanjar.


Kakek Andi menganggukkan kepala. Dia merasa kalau hal ini perlu dia lakukan agar Andra merasa tenang saat bekerja. Meski ustrinya sedang berada di cafe, masih ada yang menjaganya.


Berbeda dengan Kakek Andi, otak Andra justru berpikir kalau ini adalah suatu bentuk sebagai ancaman kepadanya. Orang yang diam-diam mengambil banyak foto secara diam-diam dan mengirimkan kepadanya tanpa sebab, pastinya akan berpikir yang bukan-bukan.

__ADS_1


"Besok kalau kamu kasih melihat laki-laki itu. Tangkap dan interogasi saja dia. Siapa yang menyuruh dan untuk apa dia melakukan hal itu," perintah Kakek Andi.


"Baik, Tuan. Aku akan menjaga Nona Adelia dan bayinya dengan baik dan akan mempertaruhkan nyawa untuknya," kata Ginanjar.


Andra menelepon Abbas setelah dia menerima foto-foto Adelia hari ini. Baju yang baru pertama kali dia pakai di hari ini. Hal yang paling membuat dia terkejut adalah pesan kali ini dari orang yang biasanya hanya mengirimkan foto, kini pakai pesan chat.


Berhati-hatilah!


Jaga, istrimu baik-baik. Jangan sampai lengah.


Andra menggenggam benda pipih persegi panjang itu dengan kuat. Ekspresi wajah dia berubah keras mengadakan kalau saat ini emosinya sedang meningkat.


"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku akan membawa Adel ke rumah Mama dan Papa sekarang juga! Eh, hari ini juga!" 


^^^"Ya, sebaiknya begitu. Kalian akan aman jika bersama kami."^^^


Andra baru sadar kalau Adelia belum kelihatan di rumah. Dia pun langsung menutup teleponnya.


"Adel!" teriak Andra sambil berlari mencari di setiap ruangan di rumahnya.


"Aku harus cek cctv," gumam laki-laki yang terlihat panik ini.


Andra pun langsung menghubungi nomor ponsel istrinya. Namun, tidak tersambung juga meski sudah beberapa kali mencoba.


"Adel, kamu di mana, sih!" 


Andra pun mengambil kunci mobil dan berniat pergi ke cafe milik Adelia. Dia berharap kalau istrinya masih berada di sana.


***


Citra menatap kesal kepada ibunya. Kedua wanita beda generasi itu masih saja bersitegang sudah hampir satu jam. 


"Sudahlah, Ma. Aku tidak mau lagi ikut rencana Mama. Aku akan mencari kebahagiaan aku sendiri," ucap Citra kemudian dia berdiri.


"Mau ke mana kamu?" tanya Mama Cindy dengan nyaring.

__ADS_1


"Mau mencari sesuatu yang bisa membuat aku bahagia. Tidak dengan cara Mama, tapi dengan cara aku," jawab Citra melangkah pergi meninggalkan ibunya.


"Mama melakukan semua ini demi kebahagiaan kamu!" bentak wanita cantik bermake-up full biar terlihat muda.


Citra yang sudah muak dengan semua perbuatan kedua orang tuanya, ingin sekali menghilang selamanya dari hadapan mereka. Dulu, ketika dia memohon jangan memisahkan dirinya dengan Andra mereka terus saja menekan dan menyuruhnya putus. Kini, mereka meminta untuk kembali menjerat sang mantan kekasih. Meski dia masih cinta kepada Andra, tetapi tidak dengan cara kotor. Dia ingin cinta tulus itu kembali berbalas dengan perasaan yang sama.


"Kalau benar apa yang dilakukan oleh Mama ini demi aku, maka biarkan aku melakukannya dengan cara aku sendiri," balas Citra memberikan peringatan keras kepada wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya ke dunia ini.


"Dasar anak bodoh! Kamu akan berterima kasih kepadaku nanti, jika sudah kembali ke pelukan Andra!" teriak Mama Cindy berharap anaknya bisa mendengarkan ucapannya itu.


Handphone milik wanita paruh ini berdering dengan sangat nyaring. Dia pun melihat nama yang melakukan panggilan kepadanya. Senyumnya pun kini terlukis di wajahnya yang berubah menjadi ceria.


"Ya, ada apa, Cobra?"


^^^"Rencana kita akan segera dimulai."^^^


"Bagus sekali. Lanjutkan!"


^^^"Baik, Nyonya. Jangan lupa bayarannya."^^^


"Iya. Aku akan bayar kalian jika semua rencana kita berhasil."


***


Di mana Adelia berada saat ini? Rencana apa yang sudah dibuat oleh Mama Citra? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus kepoin novelnya. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.


Rinjani seorang janda kembang dengan 3 anak yang masih kecil. Memiliki hutang dalam jumlah banyak dan harus banting tulang menjadi buruh serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.


Seakan nasib buruk tidak mau jauh darinya, anak bungsunya pun mengidap penyakit leukemia, yang mengharuskan dia melakukan pengobatan rutin.


Selain itu Rinjani juga harus bisa menjaga kehormatannya karena banyak sekali laki-laki yang berusaha untuk menggodanya.


Ditengah-tengah kesulitan keluarga Rinjani ada sosok misterius yang selalu menolong dia dan keluarganya.

__ADS_1


Siapakah orang misterius itu? Kenapa dia selalu menolong Rinjani? Siapa sebenarnya Rinjani?



__ADS_2