Tetanggaku ... Mantanku

Tetanggaku ... Mantanku
Bab 26. Andra Marah


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 26


Hari ini Andra pun tidak pergi ke kantor, karena Adelia belum sembuh total. Masih ada ibu mertuanya juga yang ikut mah tinggal di sana untuk sementara waktu. Hal ini karena perintah dari Kakek Andi, agar dia tetap di rumah bersama istrinya.


"Enaknya kita ngapain, ya?" tanya Adelia kepada Andra sambil tiduran di paha suaminya.


"Bagaimana kalau kita membuat bayi seperti keinginan kakek?" balas Andra sambil menggerak-gerakan kedua alisnya naik turun dan senyum saya menghiasi wajahnya.


Mendengar ajakan suaminya barusan Adelia langsung melotot. Lalu dia pun duduk dan mencubit kedua pipi milik Andra. Namun, laki-laki itu malah menarik tengkuk Adelia dan memberikan ciuman yang awalnya lembut menjadi menuntut.


Lagi-lagi Adelia jatuh kepada pesona Andra. Dia tidak sadar kalau saat ini sudah berada dalam kungkungan laki-laki itu. Seperti biasa tangan Andra menjelajahi tubuh milik sang istri, sampai Adelia mengeluarkan suara merdunya yang membuat tubuh lelaki itu meremang.


Di saat keduanya terbuat tanpa sengaja Mama Alia lewat sana. Tentu saja wanita paruh baya itu terkejut melihat pemandangan itu.


'Aku tidak menyangka kalau mereka berdua berani melakukan hal itu di mana saja.' (Mama Alia)


Akhirnya perempuan yang sudah mengandung Adelia itu perlahan pergi dari sana. Dia berharap akan segera mendengar kabar baik tentang kehamilan putrinya. Namun, sebelum pergi, Mama Alia sempat memfoto mereka berdua dan mengirimkan kepada besannya.


Adelia baru tersadar apa yang sedang mereka lakukan saat ini. Lalu, dia pun memukul bahu suaminya agar menghentikan aksinya sebelum berbuat lebih jauh lagi.


"Hentikan, Andra! Kita tidak boleh lebih dari ciuman saja," ucap Adelia sambil menatap tajam ke arah suaminya yang tangannya masih saja berada di aset miliknya.


"Kakek menginginkan kita segera memberikan cicit untuknya," kata Andra sambil mengusap pipi mulus milik Adelia.


"Tapi aku tidak mau mempunyai anak saat ini," balas Adelia sambil memalingkan wajahnya.


Mendapat penolakan dari perempuan itu membuat Andra sakit hati. Lalu, dia beranjak pergi dari sana tanpa berbicara apapun. Adelia menatapnya dengan sendu. Dia takut jika aku punya anak dan terjadi perceraian di antara mereka nantinya, akan ada yang menjadi korban. Tentu saja anak merekalah yang menjadi korban itu.

__ADS_1


***


Waktu makan siang pun tiba, tetapi Andra tidak keluar dari ruang kerjanya. Mama Alia menyuruh Adelia untuk mengajak Andra makan siang bersama. Adelia pun pergi dengan langkah kesal karena harus naik ke atas lagi.


"Dia kan bukan anak kecil. Kenapa harus selalu diingatkan?" Adelia menggerutu sepanjang jalan.


Pintu kamar Andra diketuk beberapa kali, tetapi tidak ada sahutan dari dalam. Maka Adelia pun membuka dan masuk tanpa izin yang punya kamar. Terlihat Andra sedang sibuk dengan pekerjaannya, bahkan dia mengabaikan keberadaan sang istri yang ini berdiri di dekatnya.


"Mama memintamu untuk makan siang bersama," kata Adelia.


"Kalian makan duluan saja, aku sedang sibuk menyelesaikan pekerjaanku ini," balas Andra tanpa melihat ke arah Aulia.


Mendengar balasan suaminya membuat Adelia semakin kesal. Lalu, dia merebut dan menarik ke atas laptop yang sedang berada dalam pangkuan Andra. Tentu saja perempuan itu membuat suaminya bertambah kesal kepadanya.


"Kembalikan laptopku sekarang juga sebelum aku memberimu hukuman!" ucap Andra memberi ancaman kepada Adelia.


Adelia tidak mau mengembalikan laptopnya dan dia malah berlari keluar kamar. Andra pun berlari mengejar dan menarik tubuh sang istri dari arah belakang dengan kasar dan menarik laptop miliknya. Ternyata kuku dia tanpa sengaja menggores kulit tangan perempuan itu. Tentu saja ini menimbulkan luka dan berdarah sedikit.


Melihat hal itu Andra menjadi panik dan langsung melihat lengan Adelia yang terluka akibat perbuatannya barusan. Dia pun mengusap dan meniup lengan yang mengeluarkan sedikit darah itu.


"Maafkan aku sungguh tidak sengaja," ucap Andra dengan tatapan penuh menyesal.


"Sakit~," kata Adelia dengan mata yang berkaca-kaca.


Andra yang tidak tega melihat istrinya kesakitan langsung membawanya ke kamar dan membersihkan luka itu kalau mengurusnya dengan salep untuk luka keluar. Padahal dia tadi sedang marah kepada Adelia, tetapi saat melihat dia terluka kecil seperti ini hatinya pun ikut merasa sakit. Sepertinya rasa peduli dia kepada wanita yang sering dianggapnya bodoh ini sudah berubah menjadi rasa cinta dan sayang. Baik disadari atau tidak, perasaan itu setiap hari tumbuh dalam hatinya.


"Lukanya sudah aku obati. Sekali lagi aku minta maaf," kata Andra.


Adelia merasa ada yang berbeda dengan suaminya saat ini. Tidak ada senyum dan kerlingan mata nakal yang sering diperlihatkan kepadanya. Bahkan saat membereskan peralatan kotak P3 tidak ada canda kepadanya. Tentu saja ini membuat Adelia merasa aneh.


"Andra kamu marah kepadaku,?" tanya Adelia dengan tatapan yang penuh selidik kepada laki-laki itu.

__ADS_1


 "Sebaiknya kamu segera turun. Mama sedang menunggu," balas Andra. Laki-laki itu bukannya menjawab pertanyaan dari sang istri.


"Jawab dulu pertanyaan aku tadi, kamu marah padaku, 'kan?" tanya Adelia kembali.


Akan tetapi, Andra malah pergi kembali ke kamar dan mengunci pintunya. Ini meyakinkan wanita itu kalau suaminya sedang marah kepada dia saat ini.


"Andra marah kepadaku karena apa, ya?" Adelia bertanya pada dirinya sendiri.


***


Sementara itu di tempat lain, Bram, Bella, dan Chandra, sedang berhadapan dengan kedua orang tua Bella. Terlihat Papa Bara yang masang wajah muram dan Mama Belinda yang memasang wajah sendu.


"Papa tidak akan memberikan restu kepada kalian," ucap laki-laki berparas tegas dan berambut hitam legam.


Air mata Bella langsung meluncur begitu saja, saat papanya tidak mengizinkan dia untuk kembali merajut cinta dengan Chandra. Laki-laki tua itu sudah terlanjut suka kepada sosok Bram yang dianggapnya sebagai laki-laki yang pantas untuk putrinya.


"Kalian bertiga jangan mempermainkan pernikahan. Nanti akan menyesal," lanjut Mama Belinda dengan lirih.


Bagi perempuan paruh baya ini, baik Bram maupun Chandra tidak masalah, siapa yang akan menjadi suami Bella. Hanya saja, dia tidak suka saat Bella bilang tidur terpisah dengan Bram. Bahkan mereka bilang tidak pernah melakukan hubungan badan.


"Pa ... Ma, aku masih mencintai Chandra dan Bram juga masih mencintai Adelia. Biarkan kami menjemput kebahagian masing-masing," ujar Bella.


"Itu karena kalian tidak mau membuka hati dan menerima pasangan kalian," sahut Papa Bara.


***


Apakah Bella akan bersikukuh bercerai atau akan mencoba menerima pernikahan dengan Bram? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.


__ADS_1


__ADS_2