
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 36
Suhu udara panas dan polusi udara yang bikin sesak, tidak mengurungkan niat laki-laki itu untuk menemui kakak iparnya. Bagaimanapun juga dia hari ini harus membicarakan hal penting ini.
Andra menemui Abbas saat makan siang, kedua pemuda itu membahas mengenai Adelia. Sebagai suami, Andra tidaknya menginginkan adanya perceraian dalam rumah tangga mereka. Namun, sampai saat ini dia belum bisa membuat sang istri jatuh cinta kepada dirinya.
"Bukannya sudah aku bilang kemarin kalau Adelia itu tidak bisa diprediksi oleh pikiran kita. Apa yang menurut kita benar dan baik, belum tentu menurut dia juga sama. Jadi, untuk mendapatkan hati Adelia kamu hanya perlu mengikuti alur dia," kata Abbas begitu meletakkan gelas kopinya yang sudah habis dia minum.
Andra mengerti maksud pembicaraan Abbas ini. Namun, pada kenyataannya dia tidak bisa melakukan ini.
"Lalu, bagaimana jika Adelia meminta cerai, masa aku harus menurutinya juga. Nggak … nggak, aku nggak akan menceraikan dia," balas Andra dengan sorot mata tegas.
Sekarang Abbas menjadi pusing, semalam Bram menghubunginya dan curhat tentang perasaannya kepada Adelia. Sekarang giliran adik iparnya yang membicarakan perasaannya terhadap sang adik.
"Bukan ikuti ingin bercerainya. Tapi ikuti apa keinginan Adelia dengan penuh keikhlasan, maka hatinya akan tersentuh. Jika sudah seperti itu lama-lama dia akan jatuh cinta kepadamu," jelas Abbas.
Keadaan rumah makan yang sedang ramai tidak membuat kedua laki-laki itu terganggu. Bagi mereka pembicaraan ini lebih penting, dibanding dengan keributan orang-orang yang sedang kelaparan.
"Misalnya, jika Adelia menginginkan kita jalan-jalan ke mall, maka kita harus menurutinya atau jika Adelia ingin menonton film drakor maka aku pun harus ikut menonton dengannya?" Andra memutar bola matanya, karena selama ini dia sering mengikuti kegiatan yang Adelia ingin lakukan.
"Iya benar seperti itu. Kamu harus mendukung apapun yang sedang dia ingin lakukan. Meski begitu kamu bisa juga membantah apa yang dia ucapkan, tetapi dengan menggunakan kata-kata yang baik dan sopan. Tentu saja dengan bahasa yang mudah dipahami oleh Adelia," jelas Abbas yang sudah tahu sifat dan jalan pikiran Adelia.
***
__ADS_1
Sidang pertama perceraian antara Chandra dan Citra berlangsung lancar, karena orang tua Chandra mengancam Citra akan dilaporkan ke polisi atas kasus penipuan dan pencemaran nama baik. Chandra maupun Citra tidak ada yang datang ke pengadilan hari ini.
Chandra malah mendatangi Bram di perusahaan milik orang tua Bella. Kedua laki-laki itu membicarakan masa depan mereka. Kini kedua laki-laki itu sedang berada di sebuah kafe, mereka sedang membicarakan sesuatu yang dianggap penting sekalian makan siang bersama.
"Aku sudah membicarakan hal ini dengan Bella semalam. Kami akan pura-pura sering bertengkar agar kedua orang tua kita merestui perceraian kita nanti," kata Bram.
"Kenapa harus sampai melakukan hal itu?" tanya Chandra tidak mengerti.
"Karena mama dan papanya Bella tidak menginginkan kita bercerai. Seharusnya kamu tahu kalau mereka itu sangat menyayangi dan menjaga Bella. Jika aku sudah membuatnya terluka baik secara hati maupun fisik, maka perceraian itu akan mudah terjadi," jawab Bram.
Chandra pun memilih diam dan memikirkan kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki yang duduk di depannya saat ini. Dia mencintai Bella dan tidak ada yang bisa menggantikan dia di dalam hatinya. Namun, dia tidak setuju kalau sampai Bella dan Bram membohongi kedua orang tua mereka.
"Aku ingin kalian semua tetap menjalin hubungan baik. Jika seperti ini caranya aku takut kedua orang tua Bella menjadi membencimu dan bisa-bisa memperkarakan dirimu nanti," ucap Chandra.
Kali ini Bram yang terdiam. Dia memang ingin tetap berhubungan baik dengan keluarga Bella. Laki-laki itu merasa kalau kedua mertuanya juga sangat baik dan menyayangi dirinya.
***
"Adel, apa kamu punya gambaran ingin membuat gaun seperti apa untuk dipakai ke acara nanti?" tanya Mami Alicia saat mereka berada di dalam mobil yang akan mengantarkannya ke sebuah butik.
Ditanya seperti itu Adelia hanya mengedip-medipkan kedua kelopak matanya. Dia tidak tahu harus menjawab apa, karena selama ini dia membeli baju, pasti melihat dulu model dan warnanya, setelah itu baru dia membeli.
"Aku belum kepikiran model seperti apa. Mungkin jika sudah melihatnya di sana baru aku mau memutuskan membeli baju yang seperti apa," jawab Adelia jujur dan polos.
Mobil pun telah sampai ke tempat tujuan. Adelia melongo saat melihat tempat parkiran itu dipenuhi oleh mobil mewah.
'Kita mau ngapain datang ke tempat yang banyak mobil mewahnya. Bukannya kita akan ke butik? Bukan ke showroom mobil?' (Adelia)
__ADS_1
"Ayo, kita turun!" ajak Mami Alicia kepada Adelia karena sama menantu hanya diam saja sambil melihat deretan mobil yang berjajar rapi.
"Mami, bukannya kita mau ke butik? Kenapa kita datang ke showroom mobil?" tanya Adelia tidak mengerti.
Mami Alicia pun tersenyum dan kembali berjalan sambil menggandeng tangan sang menantu. Wanita paruh baya itu selalu senang jika bepergian dengan istri anaknya ini.
"Tempat yang akan kita tuju masih satu gedung dengan showroom mobil ini. Butiknya berada di lantai atas," jawab Mami Alicia.
Gedung tinggi dengan model bangunan minimalis, tempat Adelia berada sekarang. Gadis itu mengikuti ke mana pun Mami Alicia pergi melangkah. Sebab, ini pertama kalinya bagi dia mendatangi sebuah butik yang biasa didatangi oleh para kalangan atas.
"Halo, Alicia! Kamu semakin cantik saja, aku senang saat mendapat telepon darimu tadi." Seorang wanita paruh baya yang berdandan full make up, menyambut kedatangan Adelia dan Mami Siska.
"Hai, Agis. Saat Ayah mertuaku menyuruh untuk membeli gaun pesta untuk dipakai acara nanti, tiba-tiba saja aku teringat padamu," balas Mami Alicia sambil memeluk temannya itu.
"Siapa ini?" tanya wanita bernama Agis itu.
"Loh, Adelia? Sedang apa kamu di sini?" Terdengar suara wanita yang familiar bagi Adelia.
Betapa terkejutnya Adelia saat melihat wanita yang sudah memanggilnya barusan.
***
Siapakah wanita yang sudah memanggil Adelia? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.
__ADS_1