Tetanggaku ... Mantanku

Tetanggaku ... Mantanku
Bab 76. Serangan Adelia


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 76


Abbas terbangun karena merasakan pukulan di pipi dan teriakan Bram di dekat telinganya. Rasanya dia ingin memaki mantan kekasih adiknya ini. Namun, dia merasakan tubuhnya masih lemas. Mungkin nyawanya belum terkumpul semua.


"Berisik kamu, Bram," kata Abbas dengan lemas.


"Syukurlah. Kamu sadar juga." Bram bisa bernapas lega. 


Papa Adam dan Mama Alia kini sudah dipindahkan ke kamar. Mereka dibiarkan tidur terlebih dahulu sambil menunggu dokter kenalan keluarga Adelia.


"Adelia dan Andra ke mana? Kenapa mereka tidak ada di rumah?" tanya Abbas yang kini sudah mulas sadar seutuhnya meski tubuhnya merasa lemas.


Bram mengerutkan kening, justru dia datang ke rumah ini maksudnya untuk menanyakan keberadaan mantan kekasihnya itu. Kini malah ditanya tentang keberadaan mereka berdua. Lalu, dia pun menceritakan bagaimana bisa sampai ke rumah ini.


"Jadi, maksud kamu selama ini ada yang menguntit Adelia dan Andra? Lalu, sekarang mereka sulit dihubungi. Kita harus mencari mereka ke mana?" Bram menjambak rambutnya sambil berjalan mondar-mandir di kamar kedua orang tua Abbas.


Abbas teringat akan kalung Adelia dan Andra yang sudah dipasangi oleh GPS. Lalu, dia pun melacak keberadaan mereka.


"Hah, bukannya ini kompleks perumahan kalian?" tanya Abbas saat melihat kedua titik yang menunjukan nama Adelia dan Abbas.


"Apa mereka pulang dan tidak bilang-bilang?" tanya Bram karena seingat dia tidak ada mobil milik Andra yang terparkir di halamannya.


"Bukan. Mereka berada di rumah yang ada di seberangnya." Abbas memperkecil lagi ruang lingkup titik itu. 


Bram bisa melihat titik mereka yang menunjukan keberadaan mereka saat ini. Dia teringat kalau tadi ada mobil asing yang masuk ke pekarangan Citra. Dia mengira kalau mobil itu adalah milik keluarga Citra.


"Akhhh! Si_al. Sepertinya tadi aku melihat ada mobil asing dan aku yakin kalau di dalam mobil itu ada Adelia dan Bram. Soalnya ibunya citra masih saja mengharapkan Andra bisa menjadi menantu mereka.


"Kita harus pergi ke sana sebelum terjadi sesuatu kepada mereka berdua. Mamanya Citra itu punya kelainan jiwa. Dia terlalu terobsesi kepada Andra," ucap Abbas sambil beranjak dari sana.


Abbas sudah mengirim pesan untuk dokter yang akan datang nanti.

__ADS_1


***


Sementara itu, Adelia mulai sadar. Untungnya dia tadi baru makan dan minum sedikit. Jadi efeknya tidak terlalu lama, apalagi dia terganggu oleh suara Mama Cindy yang bicara agak nyaring.


'Ini di mana?' 


Adelia pun bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela. Betapa terkejutnya dia saat melihat ada rumahnya sendiri ada di depan matanya hanya terhalang jalan.


'Apa ini rumah Citra? Bagaimana mungkin aku bisa sampai ke sini?'


Banyak sekali pertanyaan dalam benaknya. Siapa yang membawa dia ke sini? Siapa yang sudah membuatnya tidak sadarkan diri?


Wanita itu melangkah ke arah pintu, tetapi terkunci. Adelia teringat akan ajaran Abbas untuk membuka pintu yang terkunci dengan menggunakan jepitan rambut. Dia pun mencabut jepitan rambut miliknya dan mulai mengorek-ngorek lubang kunci pintu. 


"Yes! Akhirnya bisa terbuka juga," seru Adelia merasa senang. 


Dia celingukan mencari keberadaan penghuni rumah. Lalu, matanya tertuju pada pintu yang terbuka sedikit. Adelia pun ingin mengintip apa yang sedang sedang terjadi di sana dan kenapa dia bisa berada di rumah Citra.


"Kenapa sudah diberi obat perangsang masih saja belum ada reaksinya?" tanya Mama Cindy dengan terheran-heran.


"Mungkin obat perangsang ini sudah expired?" Cobra memeriksa obat itu.


Mata Adelia membulat saat melihat ada suaminya sedang tidak berdaya di atas ranjang sedang bersama Citra. Langsung saja Adelia menerjang masuk ke kamar itu saking marahnya dia saat ini.


"Dasar Mak Lampir senior! Tidak ada kapok-kapoknya, kamu berbuat jahat." Adelia merebut obat yang sedang dipegang oleh Cobra dan langsung memasukan ke mulut wanita paruh baya itu. 


Mama Cindy yang tidak siap menerima serangan mendadak dari Adelia, kini berada di bawah tekanan tubuh ibu hamil itu. Bahkan dia tidak bisa melawan saat hidungnya dipencet sampai mangap-mangap dan memudahkan Adelia memasukan obat perangsang itu masuk ke dalam mulut dan langsung tertelan.


Cobra yang tidak menduga dengan kehadiran Adelia di sana hanya diam terpana. Apalagi serangan Adelia layaknya Tarzan wanita yang bringas. 


'Sejak kapan wanita itu sadar.' (Cobra/Mbah Urip)


"Dan kau kakek-kakek peot! Bisa-bisanya kamu berbuat jahat kepada aku. Orang yang sudah menolong kamu!" Adelia menunjuk muka Cobra alias Mbah Urip.


Cobra pun tertawa terbahak-bahak karena kepolosan Adelia. Dia memang senang selama tinggal di rumah wanita itu. Orang-orang sangat perhatian dan peduli kepadanya.

__ADS_1


"Benar kata orang-orang, kalau kamu adalah wanita baik hati dan polos. Sehingga mudah di tipu," ucap Cobra.


"Kau! Berani-beraninya menipu aku." 


Adelia mengambil suntikan yang masih berisi cairan obat perangsang tingkat tinggi dan menyerang Cobra. Ditancapkannya jarum suntik itu ke dada dan ditekannya sampai masuk semua ke dalam tubuhnya.


"Hei, apa yang kamu lakukan?" Cobra mendorong Adelia dengan kuat. Laki-laki itu bisa merasakan panas langsung menjalar di dalam tubuhnya.


'Si_al. Ternyata obat ini bisa langsung bereaksi kepadaku.' (Cobra)


"Adel!" Abbas menahan tubuh kembarannya dan ikut terjatuh ke lantai dengan menjadikan tubuhnya sebagai alas, agar si ibu hamil tidak terluka.


"Abbas." Adel memeluk kembarannya karena merasa senang ada orang yang akan melindungi dia.


Tiba-tiba saja Andra dan Citra mengeram. Obat perangsang mereka mulai bereaksi pada tubuh mereka. 


"Adel," desis Andra memanggil istrinya.


Adelia yang tahu kalau saat ini suaminya berada dalam pengaruh obat perangsang langsung saja berlari ke arahnya dan memakaikan baju. Dia pun membangunkan Andra yang mulai menyerang dirinya dengan ciuman di penuh dengan hasrat.


"Suamiku, kita lanjutkan di rumah. Ini sarang Mak Lampir nggak akan nyaman kalau kita bercinta di sini," kata Adelia menahan serangan bibir suaminya yang berubah seperti angsa, sosor terus.


"Aku sudah tidak tahan, Adel." Andra merasa tubuhnya panas oleh gairah.


"Ya, makanya kita pulang sekarang. Tinggal nyebrang jalan saja," balas Adelia.


Tanpa ba-bi-bu Andra langsung membopong sang istri dan berlari dari sana pergi ke rumahnya. Di waktu yang bersamaan Bella dan Chandra datang ke sana.


"Hei, mau ke mana kalian?" tanya Bella ketika Andra berlari sambil menggendong Adelia.


"Biarkan saja mereka. Sebaiknya kita lapor pada polisi akan kejahatan yang sudah dilakukan oleh mamanya Citra dan komplotannya," ucap Bram.


***


Apa yang akan terjadi pada Mama Citra dan Cobra yang sudah diberi obat perangsang oleh Adelia? Lalu, apa yang terjadi pada Citra? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.



__ADS_2