Tetanggaku ... Mantanku

Tetanggaku ... Mantanku
Bab 24. Kedatangan Papa & Mama


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 24


Saat ini Adelia dan Andra sedang sibuk memindahkan barang-barang dari ke kamar Andra ke kamar Adelia. Sebab, barang pemuda itu jauh lebih sedikit dibandingkan dengan milik sang istri.


"Sayang, baju aku simpan di mana?" tanya Andra yang kebingungan karena lemari milik Adelia sudah penuh dengan bajunya sendiri.


"Di—" Adelia juga bingung mau menyuruh menyimpannya di mana. Lalu, dia berkata, "Di bagian bawah saja. Pakaian punya aku akan aku pindahkan ke dalam tas saja," ucap perempuan itu dan tas koper yang ada di sudut ruang kamar itu dia bawa.


Andra membelalakkan matanya saat melihat baju-baju milik Adelia yang hendak di masukan ke dalam koper. Gaun transparan seperti untuk menanak nasi itu kini berada dalam genggaman tangan sang suami.


'Baju dinas malam kaum hawa. Apa Adel tidak malam selalu memakai baju seperti ini?' (Andra)


Laki-laki itu hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar saat dia memegang baju berbahan lembut itu. Otaknya langsung terbayang kalau Adelia memakai baju yang kini dia pegang.


"Sedang apa kamu?" tanya Adelia mendekati suaminya.


Andra sangat terkejut mendengar suara istrinya tepat dibelakang tubuh dia. Secara perlahan kepala laki-laki itu melirik ke belakang dan terlihat Adelia melotot dengan mulut yang menganga.


"Andra apa yang sudah kamu lakukan?" teriak Adelia sambil menerjang tubuh suaminya untuk merebut gaun penggoda kaum Adam itu.


Andra malah menjauhkan tangannya dan Adelia kini berada di atas tubuh suaminya. Perempuan itu sedang berusaha menggapai baju miliknya dan melupakan kalau saat ini dalam posisi bahaya.


"Adel diamkan! Aku mohon jangan bergerak-gerak begitu. Nanti si Andromeda bangun!" teriak Andra frustasi menahan dirinya agar tidak terpancing.


Adelia yang tidak paham apa yang dikatakan oleh Andra. Kini dia malah duduk di atas perut bagian bawah. 


"Serahkan dulu baju milik aku!" Adelia merengek.


Dikarenakan situasi sudah tidak bisa dikendalikan oleh Andra. Laki-laki itu pun menyerah dan menyerahkan baju milik Adelia.

__ADS_1


"Huh, kenapa tidak kamu kasih dari tadi. Jadinya—," ucap Adelia terhenti. Dia merasakan menduduki sesuatu yang keras. 


Dilihatnya Andra yang sedang menutupi wajah yang sudah memerah menggunakan lengannya.


"Kyaaaa-kh! Andra kamu mesum!" teriak Adelia memukuli suaminya dengan menggunakan lingerie tadi yang kini berada dalam genggaman tangannya.


Andra semakin merasa frustrasi karena Adelia bukannya menyingkir dari atas tubuhnya malah memukulinya terus. Sementara itu, dia berusaha menahan diri. Namun, akhirnya dia menyerah juga. 


Tangan Andra menarik tubuh milik istrinya dalam dekapan dan membalikan posisi mereka.


"Adel, apa aku boleh meminta hak sebagai seorang suami kepada kamu?" tanya Andra dan itu membuat Adelia terkejut.


"Ingat Andra, kamu sudah berjanji tidak akan menyentuh aku. Kita sama-sama tidak boleh melewati batas," balas Adelia dengan napas yang ngos-ngosan. 


Sebenarnya, dia juga mulai terpancing gairahnya saat ini. Hal ini karena tangan Andra sudah menjelajah di tubuh sintal milik Adelia. Begitu juga dengan bibirnya yang menciumi wajah sang istri dengan lembut.


Tubuh Adelia seperti mendapat sengatan listrik di sekujur tubuhnya. Dia bahkan mulai mengeluarkan suara merdu miliknya dan mengalunkan melodi yang indah di pendengaran Andra.


"Andra~!" 


Kedua tangan Adelia merem_as rambut dan punggung milik suaminya. Dia mencoba menyadarkan Andra akan apa yang sudah dia lakukan. Namun, Adelia sudah tidak berdaya berada dibawah kungkungan suaminya.


Terdengar suara bel pintu berbunyi nyaring beberapa kali. Ini membuat Andra akhirnya melepaskan Adelia.


"Ada tamu yang datang?" Napas Andra memburu begitu juga dengan Adelia, karena mereka baru saja berciuman dengan durasi yang cukup lama.


"Bukakan pintu, aku mau ke toilet dulu!" titah Andra.


Betapa senangnya Adelia saat melihat ada mama dan papanya datang. Dia merasa kalau kedua orang tuanya sudah menjadi malaikat pelindung baginya. Seandainya saja mereka tidak datang saat ini, mungkin saja saat ini dia sedang mengarungi surga dunia dengan Andra.


"Adel, katanya kamu sakit?" tanya Mama Alia sambil menyentuh kening putrinya yang masih terasa sedikit hangat.


"Sekarang sudah mendingan, Ma." Adelia tersenyum manis.

__ADS_1


Meski begitu, papa dan mamanya tidak merasa tenang. Bisa saja demamnya akan kambuh lagi, seperti sebelumnya. 


"Tetap saja kamu seharusnya istirahat," ucap Mama Alia.


Malam itu kedua orang tua Adelia menginap di sana. Untungnya barang-barang milik Andra sebagian sudah di simpan di kamar Adelia. Jadi, saat mamanya masuk hendak memberikan salad buah untuk putrinya. Andra sudah bisa duduk manis di sana sambil mengerjakan tugas kantornya yang dikirim lewat email tadi.


Mama Alia melihat ada beberapa foto milik putri yang sedang bersama sang menantu yang terpajang di kamar. Sebenarnya itu adalah foto yang mendadak dia cetak pakai printer beberapa jam yang lalu. Untung saja Adelia punya beberapa pigura, jadi bisa langsung dipasangkan.


Senyum manis tercipta di wajah wanita paruh baya itu saat melihat foto-foto mesra Adelia dan Andra. Dia bersyukur kalau keduanya bisa hidup bahagia.


Kalian kapan akan memberi tahu kabar gembira kepada kami?" tanya Mama Alia kepada dua orang yang kini sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.


Andra langsung menghentikan kegiatannya mengetik, begitu juga dengan Adelia. Dalam otak kedua orang itu, pikirannya berbeda.


"Kabar gembira apaan, Ma? Aku dan Suamiku tidak ikutan lomba atau undian apapun," balas Adelia dan itu membuat Mama Alia menggelengkan kepala.


"Semoga saja bisa secepatnya, Ma," balas Andra.


"Ya, mama dan papa sudah tidak sabar ingin menimang cucu," ucap perempuan berpenampilan anggun ini.


"Papa dan Mama ingin punya cucu? Kayaknya itu masih akan la—" Andra menutup mulut istrinya.


"Tidak, Ma. Kita sedang berusaha keras. Semoga saja secepatnya Adelia bisa hamil," kata laki-laki tampan itu diiringi tawa garingnya.


'Apa, aku hamil?' (Adelia histeris)


Adelia belum mau hamil. Apalagi dia dan Andra belum saling mencintai. Ada rasa ketakutan kalau nantinya mereka akan bercerai. Jika sudah punya anak itu malah akan mempersulit mereka nantinya.


'Aku harus bisa membuat Adelia hamil secepatnya, agar dia tidak bisa lepas dari aku.' (Andra)


***


Bagaimana hari-hari rumah tangga Adelia dengan Andra ketika ada Papa Adam dan Mama Alia? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.



__ADS_2