Tetanggaku ... Mantanku

Tetanggaku ... Mantanku
Bab 71. Di Cafe Adelia


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 71.


Adelia pergi ke cafe miliknya, seorang diri. Begitu sampai dia melihat ada orang yang sering mendatangi cafe dan sering lama-lama duduk di pojokan sana. Perempuan itu pun tersenyum saat beradu pandang dengan orang itu.


Tidak banyak orang yang tahu kalau Adelia sedang hamil. Apalagi postur tubuh wanita itu yang tinggi langsing dan mempunyai dada berukuran sangat besar.


"Orang itu siapa namanya? Sudah hampir sebulan ini dia datang setiap hari dari pagi sampai siang. Apa dia tidak bekerja?" Adelia bertanya kepada Fani yang sering kebagian duduk di meja kasir.


"Oh, nama dia, Ganjar. Dia itu seorang programmer atau developer gitu, kalau tidak salah. Jadi, kerjanya depan laptop gitu," ucap Fani sambil memperhatikan laki-laki berbadan kurus.


Adelia hanya ber-oh saja dan masuk ke ruang di samping dapur. Dia ingin mengecek isi gudang, karena akan membuat menu baru. Setelah selesai masak dan membawa kehadapan para pegawai untuk dinilai apa enak atau enggak atau apa pantas makanan seperti itu di jual di cafe mereka.


Sebuah cake dengan buah-buahan segar sebagai topping dan berukuran sedang. Rasanya sangat enak ada rasa manis dari kue dan manis asam segar dari buah-buahan. Semua orang menyukainya dan porsi yang pas untuk ukuran mereka. Hanya saja membutuhkan waktu yang agak lama untuk membuatnya.


"Sebaiknya kita membuat terbatas saja. Misal kita membuat untuk 30 porsi. Kita buat sebelum jam makan siang. Lagian ini dimakan dingin juga enak. Apalagi dengan sirup rasa buah-buahan segar atau jus buah juga sangat cocok," ucap Fani dan di setujui oleh karyawan yang lainnya.


"Kita coba ke orang itu! Kalau dia suka, kita akan buat untuk di jual, jika menurut dia tidak enak, maka menu ini tidak akan masuk ke daftar menu yang dijual," ucap Adelia.


Istri Andra berjalan dengan langkah lebar menuju meja yang diduduki oleh laki-laki yang bernama Ginanjar tadi. Saat dia tiba di sana, dengan cepat pria itu langsung menutup laptop dan membalikan layar handphone miliknya.


"Maaf, sudah mengganggu Anda yang sedang bekerja. Aku ke sini mau minta pendapat kamu tentang menu baru yang baru saja aku buat," kata Adelia sambil meletakan piring berisi makanan itu.


Ginanjar melihat makanan yang bentuknya sangat cantik dan menarik. Wanginya juga menggugah ingin segera mencicipi. Lalu, dia pun mencoba makanan itu dan membuat dia ingin terus memakan kue bolu itu. 


Adelia diam-diam memperhatikan laki-laki yang duduk di sampingnya. Dia sangat penasaran dengan isi laptop yang sempat dia lihat tadi. Sepintas tadi wanita itu seperti melihat foto dirinya dengan baju baru yang baru saja pertama kali dia pakai hari ini.


'Jangan bilang, kalau laki-laki ini adalah penjahat berbahaya. Aaaa-kh! Bagaimana jika dia seorang mata-mata yang sedang disuruh oleh orang lain untuk memperhatikan aku? Lalu, dia akan berbuat jahat saat aku sedang sendirian.' (Adelia)


"Enak sekali. Aku suka," jawab laki-laki itu.


"Benarkah?" tanya Adelia senang dan Ganjar itu pun tersenyum seraya menganggukkan kepala.


Tidak lama kemudian datang Chandra dan Bonie, lalu disusul oleh Bram ke cafe Adelia. Mereka akan melakukan pembicaraan kerja sama antara kedua perusahaan yang sedang mereka jalani.

__ADS_1


"Adel!" teriak Bella yang paling belakang datang.


"Bella, aku rindu. Sudah lama kita tidak bertemu," balas Adelia sambil memeluk Bella.


"Ada yang mau aku ceritakan kepada kamu," bisik Adelia pada Bella.


"Ada apa? Apa si Mak Lampir masih suka mengganggu kamu?" tanya Bella.


"Itu jangan di tanya. Dia itu suka sekali membuat aku naik darah," jawab Adelia sambil menuntun Bella agar duduk di meja pujok dekat ke pintu dapur.


Adelia menyuruh Bella untuk melihat ke arah Ginanjar. Dia pun menceritakan tentang gambar dirinya laptop.


"Tenang, kamu jangan panik. Lakukan hal yang diminta oleh Andra kepadamu dulu," balas Bella.


Adelia sering diingatkan oleh suaminya agar jangan mudah panik. Bersikap biasa saja dan minta bantuan jika ada kesempatan. Lakukan hal seperti biasa jangan melakukan hal yang mencurigakan. 


Lalu, dia pun menelepon suaminya, tetapi dia mengurungkan niat itu saat teringat kalau Andra dan Abbas sedang makan siang bersama untuk membicarakan sesuatu yang penting.


Dikarenakan Bram, Chandra, dan Bonie sedang membicarakan pekerjaan, maka Bella dan Adelia duduk di meja terpisah sambil bergosip. Orang yang bernama Ganjar pun sudah pergi seperti biasa, di waktu jam makan siang akan keluar dari cafe.


"Aku harap kalian sudah meresmikan hubungan kalian sebelum aku melahirkan bayiku, nanti," ucap Adelia.


"Apa? Kamu sedang hamil?" Bella langsung memegang perut Adelia.


"Iya. Sudah lima bulan," jawab jawab Adelia.


"Bohong, kok, perutnya nggak besar," bantah Bella sambil mengusap perut Adelia yang sudah terasa membuncit.


Perut Adelia tidak kelihatan buncit karena dia suka memakai baju yang longgar. Setelah kehamilannya, dia sering merasa gerah, makanya memakai baju berbahan adem dan berukuran besar. Namun, jika perutnya di sentuh akan terasa membuncit dan keras.


Bram yang baru tahu, padahal mereka bertetangga merasa sedih. Dia telat mengetahui kalau mantan kekasihnya ini sedang hamil. Hampir setiap hari mereka bertemu, tetapi Adelia dan Andra tidak memberi tahu akan berita menggembirakan ini.


'Apa aku sudah tidak dianggap orang berharga dalam kehidupan kalian?' (Bram)


"Kita akan menikah tiga bulan lagi," kata Chandra sambil melirik ke arah Bella.


"Aku harap Bram sudah punya tambatan hati saat itu," lanjut Bella.

__ADS_1


Bram hanya tersenyum tipis sedangkan Bonie tersenyum tersipu malu. Gadis itu sudah jatuh hati kepada laki-laki baik hati itu. Semakin mengenal diri Bram, dia semakin menyukainya. 


"Wah, Bonie sudah cinta sama Bram, nih!" seru Adelia senang dan Bella juga ikut menggoda perempuan berambut pendek itu.


"Ayo, Bram bawa Bonie ke pelaminan!" ucap Bella dengan penuh semangat.


"Iya, dia itu wanita baik-baik. Kamu pantas bersanding dengan dirinya," tambah Adelia.


Chandra hanya tersenyum tipis melihat kelakuan dua wanita yang semangat menjadi Mak Comblang. Dia tahu kalau Bram sedang berjuang mencari pengganti Adelia. Meski menurut pengakuannya itu sangat sulit.


***


Sementara itu, di sebuah restoran Mama Cindy yang sedang bersama Cobra. Mereka sedang membicarakan hal yang penting.


"Bagaimana pun caranya aku ingin agar Andra dan Citra tidur bersama. Jika dia ketahuan selingkuh, maka istrinya akan meminta cerai," ucap Mama Cindy.


"Kali ini jangan pakai kekerasan atau jebakan seperti dahulu. Tapi, gunakan cara halus," balas Cobra.


"Bagaimana caranya?" tanya Mama Cindy.


***


Siapa sebenarnya Ginanjar? Cara apa yang akan digunakan oleh Mama Cindy untuk menjebak Andra kali ini? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus kepoin novelnya. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.


Pelangi adalah putri kedua dari pasangan Awan dan Senja. Meski begitu, dia sering mendapatkan perlakuan yang berbeda dibandingkan dengan kedua saudara yang lainnya, yaitu Embun dan Lembayung. Baik itu dalam perhatian, kasih sayang, dan kebutuhan materi lainnya.


Pelangi selalu diberikan tugas harian layaknya pembantu. Dia juga harus selalu mengalah dalam segala hal pada kedua saudaranya, terutama kepada Embun.


Setelah Pelangi menginjak usia dewasa ada keluarga yang hendak melamarnya. Namun, Embun jatuh cinta pada laki-laki itu. Senja meminta Pelangi untuk mengalah dan memberikan laki-laki itu kepada kakaknya.


Akankah Pelangi terus menuruti keinginan ibunya, untuk selalu mengalah pada kedua saudaranya?


Kenapa Senja memperlakukan Pelangi seperti ini?


__ADS_1


__ADS_2