
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 7
Pagi harinya Adelia dan Andra mengunjungi rumah Papa Adam. Kedua orang itu disambut dengan hangat. Mama Alia sampai sengaja memasakkan ayam kecap asam manis kesukaan anak dan menantunya.
"Hari ini kalian akan mendiami rumah baru," kata Papa Adam sambil mengambil gelas berisi kopi pahit.
"Iya, Pa. Kata Kakek Andi, kita harus bisa hidup mandiri. Jangan jadi beban orang tua," balas Adelia dan di iyakan olah Andra.
"Kalian kalau ada apa-apa, cepat hubungi kami. Aku rasa kalian belum benar-benar siap berpisah dengan orang tua kalian. Terutama kamu, Adel," ujar Papa Adam.
"Isssh. Papa, kok, begitu! Adel sekarang sudah besar," bantah anak gadis pasangan Adam dan Alia.
"Andra, kamu harus sabar dalam menghadapi istrimu ini. Meski usia sudah dua puluh empat tahun, tetapi dia masih manja dan kekanak-kanakan," kata Mama Alia yang baru ikut bergabung bersama mereka.
"Iya, Ma," balas Andra sambil tersenyum tipis.
'Setiap hari bersama dia, bisa-bisa kurus badan aku.' (Andra)
"Ma … Pa. Sepertinya kita harus pergi, katanya kakek ingin bertemu dengan kami dahulu sebelum pergi ke rumah yang akan kami tempati nanti," ujar Andra.
Kedua orang pasangan pengantin baru itu pun pergi pamit. Mereka mendatangi sebuah rumah yang sangat mewah dan besar.
__ADS_1
"Adel … Andra. Akhirnya kalian datang juga. Kakek sudah tunggu-tunggu sejak tadi." Kakek Andi menyambut kedatangan cucu dan cucu menantunya.
"Kami ke rumah papa dan mama dulu, Kek," balas Adelia sambil merangkul lengan Kakek Andi dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Ruang keluarga yang luas dan terang oleh sinar matahari yang masuk lewat kaca jendela yang lebar. Serta barang-barang mewah dan antik mengisi ruangan itu.
"Mami," Adelia memeluk ibu mertuanya yang berwajah bule khas Eropa Timur.
"Sayang, kamu terlihat gembira sekali," ucap Alicia dengan senyum lebarnya.
"Karena aku senang bisa bertemu dengan Mami lagi," aku Adelia. Mami Alicia selalu memanjakan Adelia dan membelanya jika sedang berseteru dengan Andra.
Keempat orang itu kini sedang duduk saling berhadapan. Kakek Andi ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting.
"Andra, kamu jangan khawatirkan keadaan mami kamu. Dia akan tinggal di sini bersama kakek. Jadi, kamu fokus saja dengan rumah tangga kalian. Buat cucu untuk mami kamu, buat dia bahagia," ucap Kakek Andi.
'Apa? Cucu! Kalau begitu aku harus hamil, dong!' (Adelia)
'Aku tidak yakin Adel mau dibuat hamil saat ini.' (Andra)
"Lalu, kamu akan masuk kerja di perusahaan. Namun, kakek akan memberikan jabatan dari bawah kepada kamu. Agar kamu benar-benar mengerti dan mengetahui keadaan perusahaan yang akan menjadi milikmu nanti," jelas Kakek Andi.
"Iya, Kek." Andra pasrah saja. Dia juga berharap seperti itu. Sebab, dia juga kurang tahu cara kerja di kantor perusahaan keluarganya itu.
Setelah makan siang pasangan baru itu pun pergi menuju rumah baru mereka. Kawasan perumahan elit dengan ukuran sedang dan dua lantai. Akan tetapi, perumahan itu tidak memiliki pagar pembatas antar rumah. Namun, kompleks perumahan itu dikelilingi oleh benteng tinggi dan berduri. Begitu masuk pintu gerbang akan ada satpam yang selalu menjaga 24 jam nonstop.
__ADS_1
Satu kompleks itu terdiri dari 20 unit rumah dengan halaman dan banyak tumbuh pohon agar udara segar dan lingkungan itu tidak terlalu panas. Arsitektur di sana dibangun dengan konsep alam dan hijau. Makanya kompleks perumahan itu di sebut "PERMATA HIJAU".
"Kita menempati unit nomor tujuh," kata Adelia.
"Iya, bukannya kemarin kamu sudah melihatnya," balas Andra sewot.
"Ya, mungkin saja kamu lupa. Aku hanya mengingatkan," balas Adelia.
Mobil yang dikendarai oleh Andra pun berhenti di depan rumah baru mereka. Di waktu yang bersamaan datang juga sebuah mobil yang berhenti di rumah unit nomor delapan.
Betapa terkejutnya Adelia saat dia turun dari mobil, ada orang yang dia kenal juga turun dari mobil itu. Orang yang pernah menemani dirinya selama 7 tahun belakangan ini dan merajut cinta dengannya.
"Bram?" Adelia bergumam dan diam mematung.
"Adel?" Bram sangat terkejut saat melihat ada Adelia di sana.
Tidak beda jauh dengan Adelia yang dikejutkan oleh kehadiran Bram di sana. Andra juga sangat terkejut saat melihat ada Citra yang keluar dari rumah yang ada di seberang jalan, yang menempati rumah unit nomor 17.
"Citra?" Kedua tangan Andra terkepal saat melihat ada Candra juga yang ke luar dari rumah yang sama dengan Citra.
Citra melihat ke arah tetangga baru yang akan mendiami rumah di depannya. Namun, siapa sangka orang yang akan menempati rumah itu adalah sang mantan.
"Andra?" Mata Citra membulat. Dia tidak percaya kalau mantannya bisa berada di kawasan elit ini.
Bella dan Candra saling menatap dalam diam. Keduanya sedang bergelut dalam hati dan pikirannya, antara cinta dan benci. Kini keenam orang itu saling menatap mantan masing-masing yang akan menjadi tetangga mereka.
__ADS_1
***
Bagaimana mereka menjalani kehidupan rumah tangga dengan para mantan yang menjadi tetangga rumah? Tunggu kelanjutannya, ya!