Tetanggaku ... Mantanku

Tetanggaku ... Mantanku
Bab 77. Gara-Gara Obat


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 77


Andra yang sudah tidak kuat menahan gairah efek dari obat perangsang itu, langsung membawa Adelia ke kamar yang ada di lantai bawah. Pasangan suami istri memadu cinta dalam gairah yang memabukkan. Meski begitu keduanya berusaha untuk tidak berbuat kasar karena takut terjadi apa-apa kepada bayi mereka.


"Adel~, aku sudah tidak kuat," ucap Andra dengan napasnya yang memburu.


Adelia pun mencium pipi dan beberapa titik sensitif milik suaminya. Tidak sampai hitungan menit kedua orang itu mencapai puncak surga dunia.


Efek dari obat rangsangan yang sampai dua kali diberikan kepada Andra membuat laki-laki itu seperti kuda liar. Tidak ada lelahnya bergerak membawa Adelia ke puncak nirwana. Sementara itu, Adelia hanya diam saja menikmati semua sentuhan suaminya. Andra melarang Adelia terlalu memaksakan diri.


"Terima kasih, Sayang," bisik Andra sambil mengusap peluh di kening istrinya.


"Lakukan sampai kamu benar-benar puas suamiku. Aku akan mengimbangi dirimu," balas Adelia. 


Mendengar ucapan istrinya barusan, Andra merasa senang. Dia tahu kalau Adelia begitu pengertian kepada dirinya.


Andromeda bisa berdiri kokoh dengan cepat, hanya dengan sebuah ciuman dari Adelia. Meski Andra sudah dua kali melancarkan pelepasan, dia masih saja merasa kurang. Lagi, lagi, dan lagi itu yang ingin dia rasakan. Untungnya Adelia termasuk wanita tangguh di atas ranjang. Meski harus beristirahat beberapa kali.


"Adelia, aku mencintaimu," bisik Andra di sela-sela gerakan mengayunkan tubuhnya.

__ADS_1


"A-ku juga mencintai-mu, Suami-ku," balas Adelia dengan terbata-bata.


Pagi menjelang siang kedua sejoli itu mengarungi surga dunia, tanpa ada gangguan dari pihak mana pun dan dari apa pun juga. Mereka benar-benar menikmati waktu bersama. Dibalik musibah terdapat hikmat dan keuntungan yang mereka rasakan.


***


Karma berlaku kepada Mama Cindy dan Cobra. Kedua orang itu kini dalam pengaruh obat bius. Wanita itu tidak berdaya saat rekan kerja samanya melampiaskan hasrat kepadanya. Meski mulut dia menolak dan mengatakan sumpah serapah kepada laki-laki yang kini sedang menggagahinya, tetapi tubuhnya menerima dengan suka rela karena dia juga butuh pelampiasan.


Desa_han dan teriakan menggema di ruangan tempat Andra dan Citra tadi berada. Sudah lebih dari 2 jam mereka bercinta dan tidak terlihat tanda-tanda akan berhenti. Sebab, efek obat perangsang itu masih kuat mereka rasakan.


Di saat keduanya sedang berusaha mengejar surga dunia, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Terlihat Papa Catur berdiri di sana dengan muka muram durja.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" teriak laki-laki paruh baya itu.


Mama Cindy langsung berlari ke kamar mandi dan membersihkan diri. Dia sebenarnya belum merasa puas dan masih menginginkan tubuhnya di jamah. Namun, saat ini suaminya sedang dalam keadaan penuh amarah.


"Dasar sialan kamu, Adelia! Semua ini gara-gara kamu." Mama Cindy berteriak di dalam kamar mandi.


***


"Aku tidak bersalah!" teriak Mama Cindy begitu sampai di kantor polisi saat hari menjelang sore.


"Semua bukti sudah jelas. Bahkan rekan kerja Anda sudah mengakui itu semua," balas Pak Polisi dengan tenang.

__ADS_1


"Aku sudah di fitnah! Mereka tidak menyukai aku, makanya mereka berbuat seperti ini kepadaku," bantah Mama Cindy.


"Semua barang bukti sudah kami terima dan pengacara mereka akan terus mengawal kasus ini," lanjut Pak Polisi yang memiliki wajah wibawa itu sambil menunjukan berkas bukti-bukti yang akan memberatkan Mama Cindy.


Keluarga Adelia melaporkan perbuatan jahat di lakukan oleh Mama Citra dan Cobra. Mereka menuntut atas kejahatan berencana yang dilakukan mereka.


Mama Cindy kali ini tidak akan mudah melepaskan diri dari jeratan hukum seperti dulu. Sebab, Abbas punya banyak bukti tentang kejahatan mereka. 


Abbas bukannya tidak curiga kepada Mbah Urip, tetapi dia mengawasi terus. Bahkan memasang kamera tersembunyi di semua ruangan rumah dan tempat kamarnya tidur. Di halaman depan, samping kanan, samping kiri, dan belakang. Rekaman ketika dia menelepon Mama Cindy yang setiap hari memberikan laporan kegiatan orang-orang di rumah Papa Adam. Rekaman saat memasukan obat tidur, menyekap Mang Anang dan istrinya di gudang, serta rekaman saat membawa atau menculik Adelia dan Andra pergi dari rumah.


"Kamu jangan berharap aku akan mencabut gugatan kepada kalian. Meski dengan menggunakan uang jaminan, aku pastikan kamu akan mendekam di penjara," ucap Papa Adam dengan geram.


Malam yang dingin dan membuat siapapun yang keluar rumah pasti akan menggigil. Hujan yang turun sejak matahari mulai terbenam sampai sekarang belum juga reda. 


Mama Cindy menangis di balik jeruji. Biasanya dia akan bergumul di dalam selimut bersama suaminya, kini dia tidur tanpa selimut. Saking dinginnya cuaca malam ini membuat tubuh wanita itu meringkuk.


"Adelia, seharusnya kamu yang hidup menderita. Tapi, kenapa aku yang malah mengalami nasib ini?" gumam Mama Cindy dengan bibir yang pucat dan bergetar menahan dingin.


***


Citra yang dalam pengaruh obat perangsang, sama siapa dia melepaskan hasratnya 🤭🙈? Apakah kehamilan Adelia baik-baik saja setelah mendapat gempuran dari suaminya yang dalam pengaruh obat bius? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.

__ADS_1



__ADS_2