Tetanggaku ... Mantanku

Tetanggaku ... Mantanku
Bab 65. Pesan Untuk Andra (1)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 65


Adelia merasakan tubuhnya demam dan lemas. Dia pun membangunkan suaminya yang sedang tertidur lelap sambil memeluk guling. Semalam wanita itu kesal pada suaminya yang tidak mau mengalah saat menonton sepak bola dan dia ingin dipijat badannya karena merasa remuk.


"Andra, bangun," lirih Adelia yang merasakan sakit di sekujur badannya. Dia menggoyangkan lengan laki-laki itu.


"Ada apa, Adel?" tanya Andra masih memejamkan matanya.


"Aku sakit~." Adelia mulai merengek masih menggoyangkan bahu suaminya.


Mendengar pengakuan istrinya yang sedang tidak enak badan, Andra langsung terbangun. Dia pun menyentuh tubuh istrinya.


"Sayang, kamu demam!" Andra begitu panik saat menyentuh tubuh Adelia yang terasa panas.


"Sakit~." Adelia bicara dengan lemah dan mata yang berair.


"Tunggu, aku ambilkan kompres dan telepon dokter," ucap Andra lalu beranjak dari tempat tidur.


"Aku tidak mau ditinggal," lanjut Adelia.


"Cuma ke dapur, Sayang. Ambil air hangat, tunggu, ya!" pinta Andra dan diciumnya kening Adelia.


Andra pun berlari ke arah dapur untuk mengambil air hangat. Saat itu dia melihat handphone miliknya yang tertinggal di ruang keluarga menyala menandakan ada pesan masuk.


Diambil handphone itu dan membuka pesan yang masuk barusan. Tangan dia terkepal menahan amarah setelah membuka pesan itu. Dia merasa ingin membanting benda persegi panjang itu ke lantai untuk melampiaskan amarah di dada. Namun, dia teringat kalau Adelia sedang sakit dan membutuhkan dirinya saat ini.


Laki-laki itu meletakan handuk kecil yang sudah dibasahi oleh air hangat tadi. Dia meletakan di ketiak, dan perut bagian bawah untuk mempercepat penurunan panas pada tubuh istrinya.


"Andra, badan aku sakit," lirih Adelia seperti mengigau.


"Tunggu sebentar, dokter akan datang sebentar lagi," balas Andra sambil mengusap kepala Adelia.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku. Rasanya sakit," lanjut Adelia.


Andra pun menjauhkan dirinya dari Adelia. Namun, lagi-lagi wanita itu merengek tidak mau ditinggalkan. 


'Adel ini maunya apa, sih? Di sentuh sakit, di lepaskan tidak mau karena takut ditinggalkan.' (Andra)


"Lalu, aku harus bagaimana?" Andra merasa jengkel dengan Adelia.


Perempuan itu kini terdiam seperti tidur. Bel pun berbunyi dan dokter datang dengan cepat.


"Sepertinya Bu Adelia sedang berbadan dua. Sebaiknya di tes pakai test pack atau langsung saja mengunjungi dokter kandungan nanti pagi," ucap dokter yang memeriksa tubuh Adelia.


"Adel hamil?" Andra tidak menyangka.


"Ini baru perkiraan. Karena Ibu Adelia sedang tidur dan sudah dibangunkan kita tidak tahu kapan terakhir dia datang bulan. Jadi, akan lebih akurat jika diperiksa langsung ke dokter kandungan. Biar diketahui, selain itu bisa juga melihat sudah berusia berapa minggu kandungan itu," jelas dokter bergender laki-laki.


'Untung saja tidak aku kasih obat dulu tadi. Takut nanti berbahaya bagi keduanya kalau salah kasih obat.' (Andra)


"Terima kasih, Dok. Nanti aku akan bawa Adel ke rumah sakit ibu dan anak yang tidak jauh dari sini," ucap Andra.


***


"Kita mau ke rumah Mama?" Adelia melirik ke arah suaminya.


"Hm." Andra fokus menyetir dan masuk ke arena rumah sakit ibu dan anak.


"Mau apa kita ke sini? Apa mau menjenguk seseorang?" tanya Adelia.


"Hm." Andra memberikan respon seperti itu.


Adelia merasa sangat kesal pada suaminya. Dia merasa kalau Andra sudah tidak seromantis dulu. Kini setelah naik jabatan di perusahaan kakeknya, pulang sering larut malam dan makan siang pun jarang bersama lagi.


"Ayo, turun!" Andra menyadari kalau Adelia belum turun dari mobil. Maka dia pun kembali dan membukakan pintunya.


"Sana kamu saja sendiri yang masuk dan menjenguk aku tunggu kamu di sini saja," balas wanita itu sambil memasang wajah cemberut.

__ADS_1


Andra merasa kesabaran selalu diuji oleh Adelia. Maka dia pun membuka sabuk pengaman dan menggotong wanita itu.


"Andra, apa-apaan kamu!" teriak wanita bersurai panjang dan memiliki dada yang sangat besar.


"Jangan banyak bergerak Adel, atau kamu akan jatuh," ujar Andra dan nada kesal.


Andra berharap kalau Adelia bisa lebih dewasa dari waktu ke waktu. Namun, setelah menikah lebih dari satu tahun, sifat dan kelakuannya sama saja tidak ada perubahan lebih dewasa atau pintar.


Begitu di depan ruang dokter kandungan, Andra langsung saja masuk ke sana. Dia tadi sudah membaut janji bersama dokter kandungan di rumah sakit ini.


"Apa kabar Pak Andra dan Bu Adel. Silakan baringkan tubuh Bu Adel di atas brankar, biar aku periksa terlebih dahulu," ucap dokter perempuan itu sambil terus menatap ke arah Andra dan Adelia secara bergantian.


Adelia awalnya berontak sesaat Andra membaringkan tubuhnya di atas ranjang pasien. Dia merasa sangat kesal pada suaminya. Padahal laki-laki itu tahu kalau dirinya paling tidak suka saat sakit dibawa ke dokter.


"Adel, aku mohon untuk kali ini kamu harus mau diperiksa. Bisa saja ada bayi di dalam perut kamu," ucap Andra sambil menatap Adelia dengan tegas dan menahan tubuhnya agar tetap berbaring di sana.


Mendengar itu Adelia langsung terdiam. Dia terkejut, haru, bahagia, dan bingung dengan apa yang sedang dia rasakan saat ini. 


Dokter itu pun memeriksa dan melihat hasil test pack yang dibawa oleh Andra. Benda kecil memanjang itu terlihat ada dua garis merah yang menandakan positif. Adelia yang tadi disuruh buang air kecil dan menampung sedikit, hanya melakukan apa yang disuruh oleh Andra. Dia juga tidak tahu itu hasilnya positif hamil atau tidak, karena ini baru pertama kali dia mencoba.


"Dokter, bagaimana hasilnya? Apa aku hamil?" tanya Adelia dengan penasaran.


"Iya. Selamat Bu Adelia, Anda sedang hamil saat ini. Dan usia kandungan ini sudah delapan minggu," jawab dokter itu.


"Apa? Delapan minggu! Andra aku akan menjadi ibu," ucap Adelia dengan senang.


"Ya, kamu akan menjadi ibu. Selamat ya, Adel." Andra tersenyum tipis.


Senyum lebar Adelia tiba-tiba pudar saat menyadari ada yang berbeda dengan sang suami. Biasanya Andra yang selalu paling heboh jika menyangkut segala sesuatu memmngenai dirinya.


"Kamu tidak senang aku hamil?" tanya Adelia menatap Andra dengan penuh selidik.


***


Pesan apa yang diterima oleh Andra? Kenapa Andra tidak antusias dengan dengan kehamilan Adelia? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.



__ADS_2