
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 67
Hari ini pun Andra pulang larut malam. Tubuhnya sangat terasa lelah, saat dalam perjalanan pulang tiba-tiba saja ada orang nyebrang jalan dan tertabrak olehnya. Padahal laki-laki itu langsung mengerem, tetapi orang itu tetap saja tidak bisa menghindar.
Andra langsung turun dari mobilnya dan melihat ada seorang laki-laki tua tergeletak di jalanan aspal. Kepalanya penuh dengan darah. Dia pun mencari bantuan penduduk sekitar, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa ditemui olehnya.
"Aku harus membawa ke rumah sakit dahulu," ucap Andra, lalu dia membopong orang itu masuk ke dalam mobilnya dan menaruh di kursi belakang.
***
Adelia tidak bisa tidur, sejak tadi dia merasa sangat cemas. Suaminya belum juga pulang meski hari sudah lewat tengah malam. Dihubungi beberapa kali pun tetap saja nomornya tidak aktif.
"Andra ke mana, ya?" Adelia bertanya-tanya.
Dia pun menghubungi salah satu rekan kerja Andra yang kadang datang ke rumahnya. Orang yang pertama dihubungi adalah Dudung.
"Halo, selamat malam Dudung. Maaf, aku mau tanya apa Andra ada bersama dengan kamu?" tanya Adelia.
^^^"Pak Andra sudah pulang sejak jam sembilan malam."^^^
Adelia melihat saat ini sudah menunjukan pukul 01:15 menit. Berarti sekitar 4 jam yang lalu mereka berpisah. Seharusnya jarak kantor ke rumah sekitar 30 menit apalagi malam hari lebih cepat sampai karena tidak macet.
Adelia pun kembali menghubungi teman Andra yang lainnya. Kali ini pegawai yang bernama Dadang. Lagi-lagi jawab yang sama dia terima. Maka, Adelia pun menghubungi orang ketiga, yaitu Doni. Namun, lagi-lagi dia memberikan jawaban yang sama. Tentu saja ini membuat Adelia semakin cemas.
"Halo, Kak Abbas. Andra Menghilang!"
^^^"Apa? Bagaimana bisa itu terjadi?"^^^
__ADS_1
"Sebenarnya, Andra belum sampai ke rumah sampai saat ini. Kata teman-temannya dia sudah pulang sejak 4,5 jam yang lalu."
^^^"Hah, kamu sudah menghubungi lewat telepon genggam miliknya?" ^^^
"Tentu saja sudah. Tapi tidak aktif."
^^^"Ya sudah, aku akan bantu kamu mencarinya. Kamu tidur saja lagi."^^^
"Aku belum tidur sejak tadi. Aku mencemaskan suamiku. Aku takut terjadi sesuatu kepadanya. Tolong temukan dia, Kak."
^^^"Iya. Kamu jangan nangis. Kasihan bayi di dalam perut kamu."^^^
"Pokoknya Andra harus ditemukan."
***
Abbas yang baru saja tidur harus diganggu oleh panggilan telepon dari kembarnnya. Mau tidak mau dia pun harus mencari keberadaan adik iparnya.
"Hotel Mawar?" Abbas terkejut saat melihat titik merah yang menunjukan keberadaan adik iparnya berada di tempat yang sering digunakan oleh para lelaki hidung belang bersenang-senang dengan wanita bayaran.
"Ngapain dia di sana jam segini?" Abbas memakai jaket sambil menggerutu.
"Awas Andra jika kamu berani mengkhianati Adel, aku tidak akan segan-segan memotong kembali burung kebanggaan kamu itu." Dia membanting pintu kamarnya karena terburu-buru.
Abbas pun pergi ke Hotel Mawar tempat yang menunjukkan keberadaan Andra. Dia pergi bersama sopir pribadi keluarga Papa Adam. Tubuh dia sebenarnya masih ingin tidur, tetapi dia tidak mau membuat kembarannya bersedih.
Sambil memperhatikan titik keberadaan Andra lewat layar handphone, Abbas terus berjalan ke lantai atas. Ternyata titik itu menunjukan kamar hotel kelas VVIP.
Dia pun menyuruh manajer hotel untuk membuka pintu kamar itu.
Betapa terkejutnya Abbas saat melihat Andra dan Citra sedang berada di atas ranjang dalam keadaan tidak memakai baju. Tidak ada sehelai benang pun yang menempel pada tubuhnya.
__ADS_1
Tanpa bicara basa-basi Abbas langsung menghajar Andra yang sedang memejamkan matanya. Meski Abbas sudah memukuli wajah dan perutnya Andra tidak bangun juga.
"Bereng_sek kau Andra! Sudah tahu istrimu sedang hamil menunggu kamu di rumah. Namun, kamu sendiri malah asyik tidur bersama wanita lain," umpatan kasar keluar dari mulut Abbas.
Citra yang terbangun dengan cepat memakai bajunya kembali. Dia pun tersenyum sinis ke arah Abbas
"Kau! Dasar wanita tidak tahu diri." Abbas menatap tajam ke arahnya.
"Kenapa? Aku dan Andra masih saling mencintai," balas Citra tidak takut sama sekali pada kakak kembarnya Adelia.
"Kau pikir aku akan mudah kau bohongi. Andra itu sudah tidak mencintaimu. Dia hanya mencintai Adel," balas Abbas tersenyum meremehkan.
Andra mulai tersadar, dia meringis kesakitan saat memaksakan tubuhnya untuk bangun. Dia terkejut saat mendapati dirinya di ruangan asing.
"Ini di mana? Ah, aku harus membawa laki-laki itu ke rumah sakit," ucap Andra baru ingat kalau dia sudah menabrak seseorang.
"Eh! Kenapa aku tidak pakai baju?" Andra sekarang seperti orang yang linglung. Bahkan keberadaan Abbas, Citra, manager hotel, dan Mang Anang pun tidak dia sadari.
***
Apa yang sebenarnya terjadi pada Andra? Apa yang akan dilakukan oleh Adelia saat tahu sang suami tidur dengan mantan kekasihnya?
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.
Allura, seorang karyawan di perusahaan milik Xavier. Akibat dari sebuah insiden ciuman tidak sengaja dengan sang atasan, dia dipaksa menikah dengannya. Tentu saja hal ini disambut gembira oleh Allura yang sudah jatuh cinta pada Xavier sejak dulu. Tanpa dia tahu kalau laki-laki itu adalah seorang vampir.
Xavier menikahi Allura karena darah langka yang dimiliki oleh wanita itu. Darah yang bisa menyembuhkan sebuah luka parah dan menambah kekuatan pada tubuh. Dia membutuhkan Allura untuk bisa melawan dan menghabisi kelompok musuhnya, Vampir Shadow.
Bagaimana reaksi Allura saat tahu bahwa dia hanya dimanfaatkan oleh Xavier karena butuh darahnya?
Akankah dia bertahan atau pergi saat tahu kalau suaminya itu adalah seorang vampir?
__ADS_1