
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 11
Hari ini Andra mulai bekerja di perusahaan Kakek Andi. Dulu, hubungan papi dan mami dia tidak direstui oleh Kakek Andi. Papinya Andra hendak dijodohkan dengan anak rekan bisnis keluarga mereka. Akan tetapi, menolak karena dia sudah mencintai seorang perempuan asing yang bekerja di perusahaan saingan. Jadi, mereka melakukan kawin lari. Bahkan sampai Andra lahir pun Kakek Andi tidak mau mengakui Alicia sebagai menantu.
Papinya meninggal karena sakit keras, saat usia Andra baru menginjak usia remaja. Alicia banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka berdua. Saat, Andra masuk kuliah dia baru bertemu dengan Kakek Andi. Waktu itu dia sangat benci kepada beliau, karena saat kematian papinya, laki-laki tua itu tidak pernah datang menjenguk atau melayat. Baru satu tahun belakangan hubungan mereka membaik setelah Kakek Andi mengakui Alicia adalah menantunya.
Hal yang membuat Andra kesal kembali kepada kakeknya adalah saat dia ingin minta jabatan direktur di perusahaan, tapi di tolak. Dia melakukan itu karena ingin punya gaji besar agar bisa memenuhi semua keinginan sang kekasih akan barang-barang bermerk. Namun, sang kakek tidak mau memberikan itu, justru malah menyuruhnya putus dengan Citra.
"Andra, sudah selesai belum?" tanya Adelia dibalik pintu.
"Masuk!" balas Andra yang sedang menyiapkan dasi.
Adelia pun masuk ke kamar suaminya. Kamar berwarna putih abu muda yang terkesan simpel, tetapi mewah dengan barang-barang yang mengisi di dalam sana.
"Tolong, pasangkan!" titah Andra sambil menyerahkan dasi kepada Adelia.
"Aku nggak bisa. Nggak pernah pakai," tolak Adelia dengan mata yang mendelik dan wajah tanpa merasa bersalah karena sudah menolak permintaan suami.
"Kamu harus bisa memasangkan dasi. Biar nanti pas kita adegan pasang dasi di depan rumah, mantan kamu lihat. Biar dia cemburu berat sama kamu," kata Andra dengan sungguh-sungguh.
Adelia diam dan memikirkan apa yang dikatakan oleh suaminya. Lalu, dia membayangkan adegan itu dalam otak yang sangat kecil itu. Senyum pun terbit menghiasi wajah cantik nan polos milik perempuan ini.
"Baiklah. Aku akan pasangkan dasi ini," balas Adelia dan hal ini membuat Andra kegirangan setengah mati karena lagi-lagi dia bisa memperdaya istri polosnya.
Lima belas menit kemudian ….
"Aduuuuuh, kamu mau mencekik aku!" bentak Andra dengan kesal ini entah sudah ke berapa kali Adelia hampir mencekiknya. Bahkan sebelumnya, dasi itu terikat mati. Sampai mereka kesulitan membuka dasi yang terikat kuat itu.
"Sabar, dong! Aku juga lagi belajar," balas sang istri tidak kalah gusarnya.
"Sana nonton yutub, baru praktekkan!" perintah Andra pada Adelia.
"Kenapa tidak dari tadi suruh aku nonton yutub?" Adelia menggerutu sambil membuka aplikasi berwarna merah.
__ADS_1
Setelah menonton sekali, lalu mengulangi sambil mempraktekkan apa yang dia lihat. Setelah tiga kali gagal, akhirnya dasi itu bisa juga terpasang dengan rapi di leher Andra.
"Huuups, akhirnya … selesai juga," kata Adelia sambil menyeka keringat di keningnya.
Kelegaan juga dirasakan oleh Andra. Akhirnya, dia bisa terhindar dari malaikat maut yang sejak tadi mengintainya. Leher dia benar-benar dipertaruhkan tadi oleh sang istri.
"Kamu harus benar-benar latihan lagi agar benar-benar bisa memasangkan dasi dengan benar besok," ujar Andra sambil mengusap kepala Adelia dengan lembut.
Diperlakukan seperti ini oleh suaminya membuat Adelia deg-degan. Selain itu pipinya juga merona. Lagi-lagi dia teringat pada Bram.
'Kenapa aku malah mengingat laki-laki menyebalkan itu!' (Adelia)
Andra bisa melihat ekspresi wajah Adelia yang sering berubah jika kepalanya dielus. Entah kenapa dia suka saat melihat pipi sang istri jadi merona.
"Terima kasih, Sayangku." Andra menarik pinggang Adelia sampai menempel pada tubuhnya dan mendongakkan wajah Adelia.
CUP
Ciuman manis diberikan oleh Andra kepada Adelia. Jika, tidak ada suara dering telepon yang mengejutkan keduanya. Mungkin mereka malah asyik terus bercumbu.
"Kakek menelepon," kata Andra saat melihat benda persegi panjang dan pipih yang tergeletak di meja, menampilkan layar yang bergambar foto pernikahan mereka.
"Kakek, ada apa?"
^^^"Di mana kamu?"^^^
"Masih di rumah, Kek."
^^^"Cepat berangkat ke kantor! Ini sudah hampir jam delapan."^^^
"A-hk, ini semua gara-gara Adel." Andra melirik ke arah istrinya yang sedang menormalkan napasnya.
"Kok, aku. Kamu duluan yang mencium aku tadi. Jadi, ini salah kamu," bantah Adelia sewot.
^^^"Oh, maafkan kakek. Kamu lanjutkan saja, jangan terburu-buru. Nanti jika sudah selesai, baru datang ke kantor."^^^
Panggilan Kakek Andi langsung dimatikan. Tentu ini membuat Andra dan Adel saling menatap tidak mengerti.
__ADS_1
"Bukannya tadi kakek menyuruh kamu untuk cepat-cepat, lalu kenapa jadi disuruh santai?" tanya Adelia.
Otak Adelia dan otak Andra yang isi dan volumenya berbeda, membuat kedua orang itu punya pikiran masing-masing. Andra tahu maksud kakeknya, meski itu adalah salah paham.
"Sudahlah, aku mau berangkat." Andra pun menggandeng tangan sang istri agar ke luar dari kamarnya.
***
Saat ke luar rumah, mereka melihat ada Bram dan Bella yang hendak menaiki mobil. Sesuai dengan perjanjian mereka, Andra dan Adelia akan berakting adu kemesraan. Drama mereka pun dimulai.
"Sayang, aku berangkat dulu," kata Andra, lalu mencium bibir Adelia dengan lembut.
Mata Bram terbelalak, dia sangat terkejut. Dadanya bergemuruh, suhu tubuh pun ikut terasa naik, dan kedua tangan terkepal kuat pada tas kerja serta kunci mobil.
'Adel!' (Bram)
Bella justru merasa iri melihat pasangan itu. Dia mengira kalau pasangan Andra dan Adelia menikah karena saling mencintai.
Adelia merasa senang saat melihat sekilas ekspresi wajah mantan kekasihnya. Sangat jelas ada rasa cemburu dan marah pada Bram. Perempuan itu malah semakin memeluk tubuh suaminya.
'Rasakan! Akan aku buat kamu benar-benar menyesal Bram.' (Adelia)
'Wow, Adelia agresif banget jika di depan mantannya. Aku suka Adelia yang seperti ini.' (Andra)
Kedua pasangan suami istri itu serasa dunia milik berdua. Selalu lupa dengan sekitar jika sudah bercumbu seperti ini. Mereka melepaskan pagutan itu setelah merasa puas membuat panas Bram.
'Uh, pasangan yang romantis dan sangat manis sekali mereka.' (Bella)
Setelah itu mereka melihat Adelia mencium tangan Andra dan dibalas dengan mencium kening. Lalu, saling melambaikan tangan saat sang suami masuk ke mobilnya dan pergi.
'Mereka bikin iri saja.' (Bella)
Mata Bella menangkap sosok Candra dan Citra ke luar dari rumah yang ada di seberang jalan. Tiba-tiba saja otaknya memunculkan ide.
"Bram," panggil Bella pada suaminya yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Iya," balas Bram dan memutuskan kontak mata dengan Adelia dan mengarahkan pandangannya kepada sang istri.
__ADS_1
***
🥰 Akankah Bella meniru Adelia yang bersikap manis dan manja pada suaminya? Bagaimana reaksi Adelia dan Candra? Tunggu kelanjutannya, ya!