
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 14
Setelah drama makan siang yang saling menyuapi. Adelia pergi ke toilet, dia mencuci tangannya dan membenarkan riasan make up. Ternyata Citra pun sengaja datang ke sana. Dia ingin memberi pelajaran kepada Adelia yang dianggapnya sudah menjadi wanita gatal. Bercumbu seenak jidat dengan Andra, mantan kekasihnya.
Saat Adelia selesai menyapukan lipstik pada bibir sensualnya. Citra menarik bahu perempuan itu dengan kasar.
"Hei, wanita gatal! Kamu jangan berani-beraninya mengganggu Andra, ya!" bentak Citra sambil menunjuk muka Adelia.
Suatu perbuatan yang paling tidak disukai oleh adik dari Abbas. Lalu, dia pun memegang jari telunjuk itu dan memutarnya.
"Aaaa-duh …! Apa yang kamu lakukan, wanita gila!" teriak Citra kesakitan.
"Jangan tunjuk muka aku pakai jari kamu yang bau ini!" hardik Adelia membalas tidak kalah garang.
Tadi saat dalam perjalanan ke restoran, Andra menasehati Adelia agar jangan mau ditindas oleh orang lain. Terlebih, oleh orang yang jahat sama kita. Suaminya itu menyuruh balik lawan orang yang sudah berbuat jahat padanya (nasehat yang tidak baik 😏😣 jangan ditiru).
Maka, Adelia pun mempraktekkan apa yang disuruh oleh suaminya tadi. Jangan mau ditindas oleh orang jahat. Apalagi ini akan merusak hubungan dalam rumah tangganya.
"Bau apanya? Tangan aku bersih dan tadi juga makan pakai sendok," balas Citra tidak terima dirinya dihina.
Istri Andra ini pun tersenyum miring. Lalu, tangan yang memegang jari Citra pun didorongnya sampai wanita itu mundur beberapa langkah.
"Kamu salah kalau aku akan mudah ditindas oleh kamu! Aku ini wanita kuat dan pintar. Bukan istri-istri seperti di film-film FTV dan ikan terbang yang sering di tonton oleh mama," kata Adelia nyerocos sambil bertolak pinggang di hadapan istrinya Candra.
"Kau … berani melawan aku!" teriak Citra.
"Berani! Kenapa meski takut sama keturunan Mak Lampir." Adelia membalas Citra dengan suara yang tidak kalah melingking.
Merasa Adelia bukan termasuk perempuan yang punya sifat lemah. Maka, Citra pun lekas pergi dari sana.
Begitu pintu toilet itu menutup. Adelia langsung berpegangan pada wastafel. Dia melihat wajahnya lewat cermin, terlihat pucat dan ada pancaran rasa lega di sorot matanya. Dia bisa merasakan kedua kakinya lemas. Seumur hidup dia tidak pernah melakukan hal seperti tadi.
"Andra~." Adelia menelepon suaminya sambil menahan tangisnya.
^^^"Iya. Ada apa?"^^^
"Tolong aku."
__ADS_1
^^^"Kamu, kenapa?" (Andra sangat panik)^^^
"Aku tidak bisa jalan." (Tangis Adelia pecah akhirnya)
^^^"Apa? Bagaimana bisa?"^^^
Adelia malah menangis tergugu dan ini membuat Andra semakin panik. Dia sangat khawatir, takut sudah terjadi sesuatu kepada istrinya itu.
^^^"Aku ke sana sekarang! Kamu berhenti dulu menangis-nangis."^^^
Andra pun bergegas berlari ke toilet wanita, tempat Adelia berada saat ini. Dia mengetuk pintu itu sambil memanggil nama istrinya.
Ketika laki-laki itu membuka pintu toilet, terlihat Adelia sedang berjongkok sambil bersandar. Keadaan istrinya itu membuat dia merasa iba dan kasihan.
"Adel, kamu kenapa?" Andra berlari menghampiri istrinya.
"Andra~, kaki aku lemas. Tidak bisa jalan," rengek Adelia dengan derai air mata membasahi pipinya.
Sang suami pun menggendong Adelia dengan gaya bridal style dan keluar dari toilet. Aksi Andra ini membuat banyak orang yang melihatnya tersenyum manis dan bikin iri.
"Adel, kita belum bayar makanannya. Ke kasir dulu, ya?"
"Iya."
Jangan ditanya dua kali bagaimana dengan perasaan Bram dan Citra. Kedua orang itu, kalau di dunia kartun kepala mengeluarkan asap saking cemburu, marah, kesal, iri, dan ingin berada di posisinya.
Merasa sedang menjadi objek tontonan pengunjung restoran, membuat Adelia sangat malu. Namun, sudah terlanjur malu, dia pun mengalungkan kedua tangannya dan menyembunyikan mukanya di dada Andra.
"Semuanya berapa?" tanya Andra pada kasir.
"215.000, Tuan." Kasir itu tersenyum tipis karena menahan tawanya melihat pasangan ini.
"Adel, dompet aku di saku celana. Kamu turun dulu, ya!" pinta sang suami.
"Tidak mau~." Adelia sangat malu, sehingga tidak berani menunjukan wajahnya di sana.
Kalau begitu kamu ambilkan dompet aku di saku celana!" perintah Andra lagi.
Adelia yang masih menyembunyikan wajahnya, menurunkan sebelah tangan menuju saku celana milik sang suami. Dia memasukan tangan itu ke saku depan celana milik Andra.
'Mana dompetnya?' (Adelia)
__ADS_1
'Apa yang kamu pegang, Adel!' (Andra berteriak dalam hatinya)
'Ini apa,nya?' (Adel meraba-raba)
"Adel, apa yang kamu pegang!" pekik Andra menahan diri.
"Dompetnya mana?" balas Adel sambil meraba-raba dan mencoba menarik sesuatu yang menyembul itu.
"Adel!" teriak Andra sudah tidak kuat lagi.
"Di mana dompetnya?" tanya Adelia sambil menatap wajah suaminya.
"Di saku belakang."
"Bilang, dong, dari tadi!" gerutu Adelia kesal dan tanpa merasa bersalah sudah membuat Andra merinding disko.
Bram yang berdiri di belakang pasangan ini, kini mukanya merah. Dia bisa membayangkan apa yang sedang terjadi pada Adelia dan Andra barusan.
'Adel, kenapa kamu jadi seperti ini?' (Bram)
***
Adelia menutup mukanya memakai sapu tangan. Katanya dia sangat malu karena sudah memegang benda keramat milik Andra. Dia sampai tidak bisa bicara saking malunya tadi.
Andra juga harus menenangkan dirinya. Tubuhnya masih saja tegang meski tidak separah tadi. Perbuatan istrinya tadi membuat sang benda pusaka yang biasanya tertidur langsung bangun dan sulit ditidurkan lagi. Saat ini mana berani dia minta Adelia untuk diajak bercinta. Meski Adelia itu polos dan bisa dibodohi, tetapi untuk yang satu ini, tidak akan bisa.
Mereka saling diam dan disibukan dengan pikirannya masing-masing. Ini membuat Andra tidak fokus. Bukannya mengantarkan Adelia ke kafe miliknya, dia malah melajukan mobil pulang ke rumah. Begitu sampai, laki-laki itu baru sadar.
Andra pun melirik ke arah Adelia yang terlihat mengerutkan alisnya. Dia yakin kalau perempuan itu merasa heran dan terkejut dibawa pulang olehnya.
"Kamu perlu istirahat. Biar kakimu cepat bisa kuat kembali," kata Andra menemukan alasan yang pas.
Adelia yang masih merasakan lemas pada kakinya menyetujui perintah sang suami. Bahkan saat dia digendong kembali oleh Andra pun menurut meski malunya antara hidup dan mati.
"Kamu istirahat, jangan banyak pikiran, ya?" Andra membaringkan tubuh Adel di atas tempat tidurnya.
"Kamu tahu tidak? Kelakuan mantan kekasihmu itu kepada aku." Adelia merajuk.
"'Memangnya apa yang dilakukan oleh Citra kepada kamu?" tanya Andra dengan ekspresi sebal.
***
__ADS_1
Bagaimana reaksi Andra saat tahu Citra dan Adelia bersiteru saat di toilet? Tunggu kelanjutannya, ya!