Tetanggaku ... Mantanku

Tetanggaku ... Mantanku
Bab 44. Ayo, Kita Buat Bayi!


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 45


Bella dan Bram sedang duduk di teras rumah sambil melihat langit malam yang tak berbintang. Segelas susu jahe dan satu toples kue nastar yang tinggal separuh menemani mereka. Keduanya berbincang-bincang tentang yang sudah terjadi tadi sore hari di rumah orang tua Bella.


"Maafkan aku yang tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Kamu berhak bahagia dan kebahagiaan itu bukan bersama dengan aku," kata Bella dengan lirih.


Perempuan itu tahu bahwa dirinya yang bersalah dalam hubungan ini. Dia tidak bisa membuka hati untuk laki-laki pendiam yang duduk di samping sejak 45 menit yang lalu.


"Kamu jangan terus menyalahkan dirimu. Baik aku maupun kamu tidak bisa saling membuka hati kita masing-masing. Meski aku senang selama kita hidup bersama di rumah ini. Kita bisa saling menyayangi dan menjadi kakak beradik, tetapi bukan sebagai pasangan lawan jenis yang saling mencintai dan ingin menghabiskan hidup bersama sampai mati," balas Bram.


Bella berharap laki-laki yang pemilik senyum manis ini bisa hidup bahagia dan hubungan mereka kedepannya masih bisa terjalin dengan baik. Banyak hal perempuan itu pelajari dari Bram. Apalagi suaminya ini sering sekali memberikan nasehat kepadanya. Makanya, dia sering berbicara dan banyak bertanya kepada Bram. Selain itu laki-laki ini juga sering memperlakukan dirinya seperti seorang adik. Bella pun sudah dianggap kakak oleh kedua adik iparnya saat ini.


"Bram, terima kasih sudah membuat papa dan mama mau mengerti keadaan aku. Aku sungguh merasa hidup ini terasa hampa tanpa Chandra," aku Bella dengan suara lirih sambil melihat ke arah rumah yang kini kosong kerana sudah ditinggalkan oleh Chandra dan Citra.


Bram juga melihat ke arah rumah yang diberikan Chandra kepada Citra sebagai kompensasi perceraian pasangan itu. Ini malah membuat dia kepikiran Adelia. Jika, Citra tinggal di sana, nanti ada kemungkinan wanita itu akan menggoda Andra.


"Bella, jika bisa kamu dan Chandra cari rumah di komplek ini, ya?" pinta Bram.


"Kenapa?" tanya Bella penasaran.


"Agar aku juga bisa melindungi kamu dan Adelia di waktu yang bersamaan," balas Bram.


Betapa terharunya Bella mendengar ucapan Bram ini. Dia tahu kalau laki-laki ini juga sama sayang kepadanya. Maka dia pun tersenyum dan menganggukkan kepala.

__ADS_1


Keduanya pun sepakat agar hubungan masih tetap terjalin baik meski perpisahan terjadi di antara mereka. Sebab, sejak awal juga mereka berdua adalah korban kelicikan Citra dengan keluarganya.


"Bram, jika Adelia tidak bisa kamu dapatkan kembali, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Bella karena tadi dia melihat kalau tetangga sebelahnya itu pergi berdua dengan saling merangkul dan senyum bahagia terlihat jelas tercipta dari mereka.


***


Adelia sudah mempersiapkan dirinya untuk melakukan ritual malam pertama dengan suaminya. Dia memakai baju dinas malam yang begitu menggoda dan berdandan secantik mungkin. Tidak lupa memakai parfum yang wanginya lembut, tetapi membuat orang yang menghirup baunya merasa tenang.


Andra merasa sangat senang dan sudah tidak sabar ingin segera bercinta dengan sang istri. Dia mencium lembut beberapa bagian tubuh wanita itu untuk membangkitkan rangsangan pada Adelia. 


Perempuan itu mulai mengeluarkan suara-suara alunan melodi indah yang membangkitkan gairah dalam diri Andra. Laki-laki itu pun sudah dikuasai oleh gairah cinta yang membuncah dan sudah tidak sabar ingin segera menyalurkan hasratnya.


"Sayang, kita mulai, ya?" bisik Andra dengan tatapan yang sudah dipenuhi kabut gairah.


"Iya, kita akan buat bayi, 'kan?" tanya Adelia dengan senyum lebar sarat akan bahagia karena dalam otaknya yang segenggam itu sudah terbayangkan bayi lucu.


"Iya, bayi lucu yang mirip kita berdua," jawab Andra.


"Ayo, aku sudah siap!" kata Adelia masih tercipta senyum cantik di raut wajah yang selalu berekspresi ceria.


Andra sempat terdiam terpana saat istrinya membuka baju miliknya sendiri dan kini hanya menyisakan pakaian dalamnya saja. Sekarang dia malah bingung harus memulainya dari mana.


"Andra, Suamiku … Cintaku! Kenapa malah bengong? Bukannya kita mau membuat bayi," tanya Adelia sambil menjentikkan jarinya beberapa kali di depan muka laki-laki itu sampai tersadar.


Andra pun tersenyum dan bilang terdiam itu karena terpesona oleh kecantikan sang istri. Tentu saja ini membuat perempuan itu tersenyum tersipu malu, telah dipuji oleh suaminya.


Akhirnya, Andra pun memulai dengan mencium kening dan hampir seluruh wajah milik sang istri. Ketika mereka sedang berciuman, Adelia menepuk dada laki-laki itu beberapa kali, sehingga mau tidak mau Andra harus mengakhiri kegiatan mencium bibir lembut istrinya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Andra dengan napas yang mulai memberat.


"Kamu curang. Kenapa masih pakai baju? Cepat buka!" balas Adelia pada suaminya.


Andra pun langsung membuka seluruh pakaiannya kecuali bagian segi tiga pengaman. Adelia mengngerutkan keningnya dengan tatapan heran.


"Ada apa?" tanya Andra karena terlihat Adelia menatap bagian bawah tubuhnya.


"Itu apa?" tanya Adelia sambil menunjuk ke arah si Andromeda.


"Ini adik kecil aku mana—"


"Apa? Adik kecil. Sejak kapan kamu punya adik? Bukannya kamu ini anak tunggal? Kapan mami Alicia hamil dan punya anak? Terus kenapa di simpan bersama burung kamu?" potong Adelia dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


Andra diam mematung merutuki kebodohannya. Dia lupa kalau istrinya ini sedikit agak unik dan cara berpikirnya juga berbeda dengan kebanyakan orang.


"Adel, adik kecil ini maksudnya bukan manusia, tapi sebagian kecil dari bagian tubuh aku. Ya, mungkin kamu menyebutnya burung. Ada juga yang menyebutnya adik kecil atau memberi nama padanya. Aku sendiri menyebutnya Andromeda," jelas Andra dengan cara perlahan dan saking gemas dia pada sang istri, membuat hasrat dalam tubuhnya menguap hilang entah ke mana.


Adelia pun mulai memahami pembicaraan dengan Andra barusan. Dia pun menganggukan kepala beberapa kali, tanda sudah mengerti.


"Kita lanjutkan lagi?" tanya Andra dengan berbisik mesra dan membuat bulu roma Adelia berdiri.


"Iya. Ayo, kita lanjutkan lagi membuat bayinya," jawab Adelia dengan senyum menawannya.


***


Apakah Adelia dan Andra akan sukses melakukan malam pertama membuat bayi mereka? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.



__ADS_2