
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 61
Andra hari ini sedang kerja di lapangan. Dia bersama teman kerjanya sedang memeriksa produk mereka di pasar tradisional. Mereka merasa cukup puas dengan hasil penjualan mereka di masyarakat.
"Pak Andra apa sekarang kita langsung ke kantor atau Anda mau ke cafe Bu Adelia terlebih dahulu?" tanya bawahan Andra yang bernama Adi.
"Langsung saja ke kantor, hari ini Adel juga entah seharian di cafe atau malah di rumah orang tuanya," jawab Andra sambil berjalan ke arah mobilnya.
Saat dalam perjalanan dia merasa ada yang membuntuti mereka. Lalu dia pun meminta pada Adi untuk jalan memutar dan berhenti di salah satu toko swalayan. Ternyata mobil itu juga berhenti tidak jauh dari sana.
"Sepertinya kita dibuntuti," kata Andra.
"Apa? Oleh siapa?" Adi sangat terkejut dan wajahnya mengisaratkan kecemasan.
"Tidak tahu. Bagaimana kalau kita ajak saja masuk ke kantor polisi. Biar mereka diinterogasi," ucap Andra.
"Baiklah," balas Adi.
Begitu mereka ke luar dari toko swalayan itu, Adi menjalankan kembali mobilnya. Awalnya dia santai melajukan kecepatan kendaraan itu. Begitu sebentar lagi dekat ke kantor polisi, Adi menambah kecepatan dan benar saja mobil itu pun ikut ngebut mengejar mobil Andra. Tanpa mereka sadari mobil Andra sudah masuk ke kawasan kantor polisi.
"Bagus. Kita lakukan sesuai rencana," ucap Andra.
"Pak Andra juga harus hati-hati!" Adi memberi peringatan.
Sudah terlanjur masuk ke perangkap yang sudah dibuat oleh Andra orang yang ada di dalam mobil pun akhirnya keluar. Andra menahan mereka di parkiran dan Adi melaporkan pada pihak polisi karena ada sebuah mobil yang terus mengikutinya dan membuat mereka merasa sudah menakut-nakuti.
"Turun!" perintah polisi kepada dua orang laki-laki berwajah layu dan sendu. Mereka adalah orang yang sudah membuntuti Andra sejak pagi.
Kedua laki-laki itu pun digiring ke kantor polisi untuk diinterogasi. Hampir satu jam mereka berada di dalam ruangan terpisah.
Andra dan Adi menunggu di ruang tunggu. Mereka ingin tahu apa motif orang-orang itu menguntit mereka.
***
Adelia yang sedang duduk di taman sambil menikmati cilok melihat ada seorang perempuan yang sedang menangis di pinggir jalan. Hatinya tergugah untuk menghampiri wanita itu. Adelia tidak tahu kalau orang itu adalah Bonie, yang tadi sempat dibicarakan oleh Bella saat makan siang.
"Kamu kenapa?" tanya Adelia sambil menatap penuh iba padanya.
"Berkas yang aku bawa dari kantor tadi hilang. Aku lupa menaruhnya di mana. Pasti aku akan di pecat dari pekerjaan aku," jawab Bonie.
__ADS_1
"Apa itu berkas penting?" tanya Adelia lagi.
"Iya. Itu berkas hasil laporan yang aku kumpulkan di lapangan. Selama dua bulan ini aku diberikan tugas untuk melakukan pengecekan penjualan dari berbagai produk yang di jual oleh perusahaan," jawab Bonie.
Adelia yang merasa kasihan pun menyuruh Bonie untuk mengingat-ingat kembali tadi pergi ke mana saja. Biar di cari di tempat itu. Dia juga akan ikut membantu carinya.
Akhirnya kedua perempuan itu berkeliling ke berbagai tempat yang tadi sempat dikunjungi oleh Bonie. Adelia juga bertanya pada orang-orang yang mereka temui di tempat itu. Sudah satu jam lebih mereka mencari berkas milik perusahaan Bonie, tetapi belum juga ketemu.
"Kita lapor polisi saja, yuk! Biar mereka bantu mencari," ajak Adelia.
"Hah! Memangnya kita bisa minta bantuan polisi untuk mencari barang kita yang hilang?" tanya Bonie.
"Bukannya polisi itu sedia melayani warga! Kita juga statusnya seorang warga. Masa tidak mau membantu," jawab Adelia.
"Eh, iya, benar juga! Kamu pintar sekali," puji Bonie dengan senyum lebarnya.
"Ah, kamu jangan memuji aku. Yang pinter itu Abbas," balas Adelia malu-malu, tetapi senang sekali sudah dipuji pintar.
'Baru kali ini ada orang yang bilang aku pintar!' (jeritan hati Adelia).
Akhirnya kedua perempuan itu pun datang ke kantor polisi untuk meminta bantuan mencari berkas yang hilang. Saat mereka sampai di sana Adelia melihat ada Andra sedang duduk.
"Andra sedang apa di sini?" tanya Adelia terkejut.
"Malu dilihat sama orang lain," bisik Adelia.
'Tumben dia malu. Biasanya juga dia yang menerjang duluan.' (Andra)
Adelia dan Bonie pun melaporkan kehilangan barang penting dan minta bantuan polisi segera. Untungnya polisi di sana baik dan sabar dalam melayani kedua perempuan itu.
"Berkas apaan, sih, Del?" tanya Andra.
Adelia pun menyuruh Bonie untuk menceritakan secara detail barang yang hilang itu. Andra pun mendengarkan dengan baik.
"Coba kamu hubungi Bram, tadi dia bilang ada yang menaruh sebuah tas jinjing di simpan di atas mobilnya dan itu laporan milik perusahaan Atmajaya. Dia sudah menyuruh Chandra untuk mengambilnya," kata Andra mengingat-ingat pembicaraan mereka saat makan siang tadi.
"Apa?" Wajah Bonie mendadak pucat.
Dia teringat saat dirinya menginjak permen karet. Saat hendak membersihkan sepatunya dari permen karet itu, tanpa sadar dia meletakan tas jinjing itu di atas atap mobil seseorang.
"Oh, tidak." Bonie memegang kepalanya.
Dia pun segera berlari ke luar kantor polisi dan pergi. Bonie lupa kalau tadi dia datang bersama Adelia. Kini pergi meninggalkan istrinya Andra.
__ADS_1
"Lalu, aku pulang sama siapa?" Adelia yang kesal pada Bonie karena sudah kabur duluan.
"Tenang, Bu Adelia. 'Kan ada Pak Andra," ucap Adi.
"Eh, benar juga. Suamiku, aku ikut kamu pulang, ya?" Adelia bergelayut di lengan suaminya.
"Iya. Tapi, kita tunggu polisi selesai introgasi terlebih dahulu, ya," balas Andra.
Sudah 2 jam kedua orang itu diinterogasi. Akhirnya polisi membebaskan kedua orang tadi. Mereka tidak terbukti bersalah karena tidak mengikuti Andra.
Tentu saja itu membuat Andra kesal dan kecewa. Sudah jelas-jelas kedua orang itu mengikuti ke mana pun dia pergi hari ini.
"Apa mereka suruhan seseorang?" tanya Adelia dengan tatapan mata yang memancarkan ke khawatiran pada suaminya.
"Pintar sekali istriku ini. Kamu saja sadar akan hal ini masa polisi tidak peka," jawab Andra.
"Kamu orang kedua orang bilang aku pintar," ucap Adelia dengan senyum-senyum malu, tetapi senang.
'Hah. Ada orang lain yang pernah bilang Adel itu pintar! Siapa dia?' (Andra)
***
😅 Andra tidak percaya ada yang mengakui kepintaran Adelia. Apa yang akan terjadi saat Bram bertemu kembali dengan Bonie? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.
Ayu gadis belia yang suka rebahan dan menonton anime sambil ngemil. Kurangnya gerak membuat tubuh Ayu menjadi gendut. Karena tubuhnya yang besar dia dijuluki "Baby Hui". Saat menghadiri pesta ulang tahun Aries–orang yang disukainya, Ayu dipermalukan di sana, sehingga berjanji akan membalas dendam kepada semua orang yang suka membully dan menghinanya.
Dengan bantuan dan dukungan dari Aprilio, hanya dalam waktu dua Minggu berat badan Ayu turun dari 80kg menjadi 45kg. Penampilan Ayu pun berubah menjadi cantik, langsing dan singset. Membuatnya menjadi incaran para kaum Adam.
Leo salah satu Pangeran Kampus menjadi panik karena kini banyak laki-laki yang suka kepada Ayu. Maka dia pun berbagai cara untuk mendapatkan cinta Ayu.
Setelah berhasil membalas kepada orang yang sudah membully dan menghinanya dahulu, kini Ayu memutuskan untuk mencari cinta sejatinya. Dia dilema harus memilih antara Aries si cinta pertamanya, Leo si Pengagum Rahasia, atau Aprilio yang selalu bersamanya sejak kecil di saat suka maupun duka.
Pilihan Ayu ternyata membuatnya harus banyak melakukan perjuangan dan pengorbanan. Siapakah yang dipilih oleh Ayu?
__ADS_1