
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 34
Andra hendak menagih apa yang sudah diucapkan oleh Adelia tadi. Setelah dia pulang ke rumah dan melihat Adelia sedang menyiapkan makan malam di dapur. Terlihat kalau perempuan itu sedang memotong sayuran.
Seakan tidak mau melepaskan kesempatan, laki-laki itu langsung memeluk dan mencium bibirnya dengan rakus. Adelia merasa sangat terkejut mendapatkan serangan dadakan seperti ini.
"Andra hentikan! Biarkan aku bernapas dulu," ucap Adelia setelah suaminya itu melepaskan ciuman karena dia pukul punggungnya.
"Ini untuk hukuman kamu," bisik Andra, kemudian dia kembali mencium bibir sang istri.
Kali ini dengan lembut dan mesra, ciuman yang paling Adelia sukai. Perempuan itu pun membalas ciumannya dengan tidak kalah mesra.
"Ini untuk ciuman yang kamu janjikan di kafe tadi," lanjut Andra dan kembali mencium sampai dia merasa puas.
'Sepertinya nanti aku harus lebih berhati-hati saat berbicara. Aku kira Andra akan lupa, ternyata tidak. Malah aku sendiri yang lupa.' (Adelia)
__ADS_1
***
Setelah selesai makan malam Andra pun mengajak Adelia berbicara empat mata. Dia ingin mendengar dari mulut istrinya sendiri tentang yang dia bicarakan dengan Bram tadi.
"Ayo kerjakan dengan jujur ada apa yang terjadi antara kamu dan Bram?" tanya Andra yang duduk di samping gadis berambut panjang.
"Maksudnya? Aku dan dia baik-baik saja." Adelia memiringkan kepala dengan kedua mata berkedip.
"Kamu sedang tidak merencanakan kawin lari dengan dia, 'kan?" Andra menatap Adelia dengan tajam dan membuat Adelia tidak suka.
"Apa?" Adelia saat terkejut saat mendengar ucapan Andra barusan.
"Andra apa kamu ini jadi bodoh karena pusing terlalu banyak pekerjaan?" Adelia menduga-duga dengan ekspresi wajah yang menaruh rasa kasihan.
Andra selalu kehabisan kata-kata jika sedang berbicara sesuatu yang sangat penting dengan Adelia. Seakan apa yang dikatakan oleh istrinya itu benar. Kalau sekarang ini dia merasa jadi bodoh. Namun, bukan karena pekerjaan melainkan karena tingkah Adelia.
"Yang bodoh itu kamu, bukan aku," bantah Andra tidak terima dibilang bodoh oleh orang oon.
Mata Adelia berkaca-kaca, dia sakit hati karena sudah dibilang bodoh oleh suaminya. Meski dia akui kalau dirinya tidak sepintar dan secerdas Abbas, tapi dia merasa tidak bodoh.
__ADS_1
Andra merasa bersalah sudah bilang bodoh pada istrinya. Dia pun memeluk dan meminta maaf pada Adelia.
"Kamu jangan menangis. Bukan maksud aku untuk menghina atau merendahkan. Tadi kamu duluan yang bilang aku ini bodoh. Seharusnya seorang istri tidak boleh bicara seperti itu kepada suaminya," kata Andra.
"Jadi, kalau suami boleh bilang bodoh pada istrinya, gitu?" Adelia mendongak dengan mata melotot dan pipi yang mengembung.
"Ya, sama. Itu juga tidak boleh. Kita harus bicara yang baik-baik kepada pasangan. Tidak boleh bicara sesuatu yang buruk," jelas Andra.
Keduanya saling menatap. Andra yang selalu gemas dengan wajah cantik sang istri tidak tahan kalau tidak menyentuhnya. Dia membelai lembut pipi milik Adelia dan berakhir dengan sapuan lembut di bibirnya.
'Aku jadi lupa mau membahas apa sama Adel tadi. Hah, memang dekat dengan Adel, aku menjadi bodoh.' (Andra)
'Yang bodoh itu bukan aku, 'kan? Kata Abbas aku hanya kurang beruntung saja saat pembagian otak sewaktu dalam rahim mama. Karena otak yang aku dapatkan lebih kecil dan otak Abbas lebih besar.' (Adelia)
***
😅 Menurut aku keduanya sama-sama bodoh, deh, biar adil 🤣. Sebenarnya apa yang ingin dikatakan oleh Andra? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.
__ADS_1