The Crazy Testament

The Crazy Testament
The Crazy Testament


__ADS_3

Tiga jam lebih Kirana tak sadarkan diri, ketika ia membuka mata, dia mendapati Dinda sudah terlelap disebelahnya, dengan memegang kepala yang masih berdenyut, ia sejenak berpikir dengan apa yang telah terjadi seketika ia mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan dan matanya menangkap bingkai foto didinding ruangan yang tak lain kamar Indra sahabatnya.


Air matanya langsung tumpah melihat gambar seorang pemuda manis nan tampan yang sedang tersenyum dalam foto tersebut. Dengan masih terisak dia mencoba bangun dari ranjang sambil memegang kepalanya yang semakin berdenyut, mungkin akibat banyak mengeluarkan airmata dari tadi.


Kirana keluar menuju ruang tamu, ia mendengar suara orang-orang sedang membaca surat yasin, ternyata memang sudah banyak orang yang datang tahlilan, mengirim doa untuk Indra, Kirana hampir saja jatuh lagi kalau tidak dengan sigap Dinda memegang pundaknya.


"Din, aku bermimpikan??" tanyanya kepada Dinda yang disambut gelengan Dinda, pertanda bahwa dia tidak bermimpi dan ini kenyataan yang sangat memilukan.


Dinda menuntun Kirana untuk duduk disebelah Rita, Rita hanya sanggup mengelus lembut garis punggung anak gadisnya itu menguatkan, Kirana yang diperlakukan seperti itupun memeluk ibunya dengan terisak.


Kirana melepas pelukan ibunya dan mengedarkan pandangan keseluruh manusia yang sedang khusyuk membaca tahlilan, matanya menangkap sesosok pemuda disudut ruangan yang juga saat ini memandangnya iba, pemuda tersebut dengan cepat mengalihkan pandangannya ketika atensinya bertemu pandang dengan Kirana.


Kirana lalu beralih menatap Karina yang saat ini sangat kacau, Karina menyandarkan badannya kedinding dengan wajah pucat, matanya bengkak dan sembab, sesekali ia mengusap hidungnya dengan tissu, tidak terdengar isakan tangis darinya, hanya saja airmata terus mengalir di mata wanita paruh baya yang sudah seperti ibunya tersebut.


Dalam isak tangis, Kirana masih tidak percaya bahwa sahabat baiknya itu telah meninggal, dia masih percaya bahwa Indra masih hidup, ntah kenapa pemikirannya seperti itu, tapi dia sangat yakin, seyakin-yakinnya bahwa Indranya masih hidup.


...***...


Malam ini adalah malam terakhir tahlilan dirumah Indra, yang sudah dilaksanakan 6 hari berturut-turut, semua sanak saudara Indra dari kampung pun sudah ada dikediaman rumah duka sejak hari pertama., kedua orang tua Kirana dan Dinda juga selalu dirumah Indra,. Dinda selalu setia menemani Kirana walau mereka berdua harus absen kuliah selama seminggu ini.


Saat kirana sedang berdiri memandang foto Indra, tapi tiba-tiba


"Jeleek,...ngapain lu dikamar gue? Sambil mandang foto gue lagi, lu rindu banget sama gue?" suara seseorang yang selama ini ia rindukan,


Kirana otomatis  berbalik dan mencari asal suara tersebut, dan atensinya mendapati sosok Indra berdiri dengan menyandarkan tubuhnya dipintu,


Kirana ternganga tidak percaya, dia hanya bisa memandang lekat kearah sosok tersebut, lututnya lemas dia terduduk dilantai dengan airmata sudah berhasil menggenangi pipi putihnya, ia masih menatap lekat sosok Indra yang kini mulai mendekatinya dengan muka cemas.


"Hey...hey...lu kenapa? Lu nangiis? Gue udah balik dan akan terus disini sama lu, dan gak akan pergi kemana- mana lagi, gue janji akan terus lindungi lu" sambungnya lagi sambil menghapus airmata dipipi chubby Kirana.


Kirana menggeleng tanda ia tidak percaya, sambil menutup mata ia mencoba berpikir jernih "apakah ini hanya mimpi, atau hayalan ku saja, tuhan tolong buat ini  kenyataan" batin Kirana


"Loh Raan, kenapa duduk dilantai? Kamu nangis?" Kirana bingung ketika ia membuka mata dia tidak  menemukan Indra yang tersenyum tadi, malah Dinda yang lagi menatapnya cemas. Dinda membantu Kirana berdiri dan memapahnya menduduki ranjang Indra.

__ADS_1


"Tadi aku lihat Indra Din, dia bilang dia kembali dan gak akan pergi kemana-mana lagi" jelas Kirana, airmata yang sedari tadi menganak sungai semakin membuatnya terisak-isak sesak.


"Raan, pleaseee....aku mohooon terimalah kenyataan yang Indra sudah gak ada, Indra bisa gak tenang kalau lihat keadaan kamu kayak gini" ujar Dinda memelas dengan mata berkaca-kaca, dia sama sekali tidak ingin melihat sahabatnya yang satu ini masih belum bisa menerima kenyataan.


"Tapi Din, aku beneran lihat Indra, aku gak bohong, apa Indra diluar sekarang?" tanya Kirana berharap Dinda menjawab 'iya', tapi Dinda dengan cepat memeluk Kirana sambil menggelengkan kepalanya lemah, airmata yang sedari tadi ditahan sudah keluar membasahi baju Kirana.


Kiranapun ikut terisak menyadari bahwa apa yang dilihat tadi hanyalah halusinasi semata, apakah mungkin akibat rindunya yang mendalam.


"Kenapa Indra ninggalin aku Din??, kenapa Indra tegaaa, dia udah janji bakalan selalu ada untuk aku, dia juga janji bakalan pulang jenguk aku akhir tahun ini, kenapa dia bohoong Diiin, kenapaaa....?" Kirana terus berteriak dan merutuki Indra, dia menangis sejadi-jadinya dipelukan Dinda,


Dinda hanya terdiam kelu tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk sekedar menenangkan sahabatnya itu, dia hanya mengeratkan pelukannya dan ikut menangis bersama Kirana, Dinda sangat tau sebesar apa rasa sayang Kirana untuk Indra.


Diam-diam ternyata mamanya Indra sedari tadi mendengar dan memperhatikan mereka dari luar, apalagi pintu kamar yang tidak sepenuhnya tertutup membuat Karina mendengar semua percakapan kedua anak gadis yang sudah di anggap anak sendiri itu, Karin sangat terpukul melihat keadaan Kirana, dia berpikir bahwa yang paling hancur kehilangan Indra hanyalah ia, kenyataannya Kirana yang lebih hancur dan tidak menerima kematian Indra sama sepertinya.


Karin pun mendekati Kirana dan Dinda yang masih berpelukan, menyadari ada seseorang yang masuk kekamar, Dinda melepaskan pelukan Kirana dan beralih menatap Karin yang sudah berlinang airmata mendekati mereka berdua.


"Kenapa kamu menangis sebegininya Ran, kenapa kamu lebih menyedihkan daripada mama, mama mohon...jangan begini, hati mama hancur melihat kamu seperti ini nak," sambil terisak dan memegang pundak Kirana, kemudian ia menarik Kirana kedalam pelukannya.


Dinda masih mematung ditempatnya sambil menahan tangis, dia benar-benar tidak tega melihat Kirana dan Karin harus kehilangan orang yang sangat berharga dihidup mereka, sebenarnya dia juga sangat sedih kehilangan sahabat sekaligus teman berantemnya itu, tapi dia harus kuat didepan Kirana, agar ia bisa menyemangati sahabatnya itu.


Setelah sekian lama menangisi keadaan, Karin melepas pelukannya dari Kirana, dia mengusap surai panjang Kirana dengan kasih sayang seorang ibu.


"Ran, kita sama-sama coba ikhlaskan Indra Ya nak, walaupun mama yakin dan percaya kalau Indra masih hidup, tapi kita gak boleh egois nak, kita serahkan semuanya sama yang di Atas, kalau seandainya memang Indra masih hidup dan baik-baik saja, dia pasti akan kembali pulang untuk kita, tapi kalau memang Indra sudah tiada, kita harus benar-benar mengikhlaskannya" ucap Karin sambil terus mengelus kepala Kirana.


"Iya Ran,..ibu setuju sama mama Na, kamu jangan terus berlarut dalam kesedihan seperti ini, kita hadapi sama-sama, walaupun berat, ibu yakin kamu bisa,"  Rita menarik nafas dan menatap Dinda juga menatap Kirana ia kembali berbicara.


"Jangan mengabaikan orang yang sekarang selalu disamping mu, lihat lah Dinda, dia sangat terpukul melihat kamu seperti ini, dan ibu juga gak mau nanti kamu malah jatuh sakit" Rita sedari tadi juga mengawasi anak dan sahabatnya yang menangis dan berpelukan melepas kesedihan.


Mendengar nasihat dari Rita dan juga mama Indra, Kirana menarik nafas berat, ia memandang satu persatu wanita didepannya saat ini, matanya menatap sendu kearah Dinda, Dinda membalasnya dengan senyuman tipis. Kirana pun mengangguk dan tersenyum getir, ada rasa lega menyelimuti dirinya, karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya, hingga ia tak sendiri menghadapi perihnya kehilangan.


...***...


Dua minggu berlalu sudah, kenangan menyakitkan dan memilukan itu terjadi, walau ia takkan pernah bisa melupakan sakitnya kehilangan sahabat tercinta, sekarang ia bisa sedikit demi sedikit melanjutkan aktifitasnya, walau sesekali Kirana melamun dan menangis saat terlintas kenangan ia dan Indra berkelebat di pikirannya.

__ADS_1


Untungnya ia masih punya orang tua yang selalu mengerti dan paham akan perasaannya yang tidak akan mudah melupakan Indra. Ditambah ada seorang lagi sahabatnya yang selalu setia menghibur dan menguatkannya, ia tidak ingin membuat Dinda khawatir padanya, maka dari itu, ia akan mati-matian mencoba tegar didepan Dinda. Hingga sebuah pertemuan dan kejadian konyol yang tidak masuk akal dan logika terjadi dihidupnya.


Daan, disinilah Kirana sekarang, diruang tamu bernuansa biru putih dilengkapi dengan sofa berwarna krim susu ini, duduk manis ayah dan ibunya termasuk Dinda yang kebetulan berada dirumahnya, berhadapan dengan seorang pemuda antah berantah, tapi berwajah tampan tanpa ekspresi, mengaku sahabat baiknya Indra ketika sama-sama bekerja di Texas sana. Membawa secarik kertas yang katanya tiket dari Indra untuk melamar Kirana.


Bak petir disiang bolong Kirana beserta kedua orang tuanya kaget, bahkan shock mendengarnya. Mereka masih mencerna kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut pemuda tampan nan datar tersebut, raut wajahnya susah ditebak Kirana, karena wajahnya yang tampan hanya menampakkan ekspresi dingin, ketika ia dengan fasih berbicara bahasa inggris saat menyampaikan maksud kedatangannya kepada ayah dan ibu Kirana, mereka masih menunjukkan wajah kaget bahkan Dinda tidak mampu menutup mulutnya yang ternganga.


"Kegilaan apa lagi ini" gumam Dinda mencoba menetralkan dirinya, pemuda tersebut hanya menatap tajam kearah Dinda, membuat Dinda balik menatapnya tajam.


Chiko yang mulai tenang pun bertanya pada pemuda tersebut apa benar tujuan pemuda tersebut datang untuk melamar Kirana.


"Maaf nak, anda ini berasal dari mana kalau boleh saya tau? Dan tujuan anda serius apa hanya bercanda? Tolong dalam hal sepenting ini jangan bercanda" ucap Chiko tegas


"Yah, memangnya dia ngerti yang ayah omongin, dilihat dari wajahnya aja dia kayak bukan dari Indonesia" ucap Rita yang membuat Chiko mengangkat bahu tak tahu


"Saya bisa bahasa Indonesia bu" jawabnya masih tanpa ekspresi


"Oh saya pikir anda tidak bisa bahasa Indonesia" ujar Rita malu, sedangkan Kirana dan Dinda menatap pemuda yang belum juga mengenalkan dirinya dengan jengah, mengerti dipandang tajam oleh Kirana, pemuda tersebut mulai mengenalkan diri.


"Nama saya Zian Avicena saya datang kesini karena mendapat surat wasiat" ujarnya dengan bahasa indonesia yang sedikit kaku dan berlogat bahasa asing, langsung disambut kekehan dari Dinda, Kirana dengan sigap menyikut Dinda supaya diam,


"Wasiat apa? Apa hubungannya dengan melamar Kirana?" tanya Chiko tajam dan penasaran dengan pemuda yang dengan santainya berani datang dan melamar anak kesayangannya. Kirana, Dinda dan Rita hanya menghela nafas tanpa bisa mengatakan apa-apa.


Zian menarik nafas dan mulai menjelaskan secara detail tentang surat wasiat itu yang ternyata adalah surat wasiat dari Indra.


"Saya datang kesini, karena mendapat surat wasiat dari Indra," setelah itu Zian dengan lancar menjelaskan bahwa Indralah yang menyuruh ia melamar Kirana,


"karena keinginannya lah saya datang jauh-jauh kesini untuk mewujudkan semua keinginan Indra...ia sahabat saya dan juga sahabat Kirana" menutup omongannya.


Semua yang ada diruangan tersebut terdiam, Kedua orang tua kirana jadi bingung, Dinda pun ikut terpaku, Kirana juga terdiam tak percaya


'masalah apalagi ini ya Allah' batin Kirana dengan tatapan kosong.


...****...

__ADS_1


__ADS_2