
"HAJAAAR.....!!!"
"Hiyaat...."
Zian sekuat tenaga menghindar dan menangkis serangan demi serangan dari kedua pemuda pendek dan cungkring itu.
Zian selalu menghindar, karena sebenarnya dia tidak bisa berkelahi sama sekali, dia bukan ahli taekwondo atau silat dari berbagai daerah. Semua jurus nyata atau bayangan dia tidak punya bakat sama sekali, jadilah dari tadi dia hanya menghindar layaknya bocah dikejar maknya pake sapu.
"Brengsek, kenapa kau menghindar dari tadi? Takut kau hah?" tanya pemuda pendek geram,
"Guee? Takut sama kalian berdua? Gak level." ucap Zian percaya diri, padahal dia memang takut.
Pemuda pendek tersebut benar benar geram sekarang, ia mengeraskan rahangnya, mengejar Zian lagi, usahanya berhasil menendang perut Zian.
Bugh....
Zian terpelanting jatuh ketanah, darah segar ia muntahkan, memegang perutnya dan meringis kesakitan.
"Lu jan macam macam sama kita,"
Pemuda cungkring mendekati Zian hendak menghajar wajah tampan Zian, seketika Zian bangkit dan berdiri tegak.
"Eh....lu mau mukul wajah gue? aset ngegoda cewek ini mah," cerocos Zian cepat.
"Lu sebentar lagi kami matiin, jadi gak usah lagi berhayal mau ngegoda cewek, goda cewek di neraka aja" ledek pemuda cungkring.
"Astagfirullah, matiin? kek kutu aja gue,"
"Terus godain cewek di neraka macam mana bang abang? ada tips dan triknya?" timpal Zian lagi dengan mata polos dan bodoh.
"Ini anak banyak bacot juga" jawab pemuda pendek
"Ho oh, kayak emak emak dasteran, cerewet" sahut pemuda cungkring
Perkataan pemuda cungkring dan pendek membuat Zian tertawa terbahak bahak, mereka berdua pun mengernyitkan dahinya bingung.
"Ahahahaha....ahahaaha...Astaga, kalau sampai emak emak berdaster mendengar ucapan kalian, gue yakin kalian sekarang sudah babak belur" kekeh Zian
__ADS_1
"Iya juga ya, emak emak zaman sekarang kan ngeri ngeri kali kan? sein kanan belok kiri" curhat pemuda pendek
"Iya, seenak jidat nya kalau dijalanan mah, kayak preman jalanan emak emak sekarang, mengalahkan Valentino Rossi" timpal pemuda cungkring
"The power of emak emak bang, eh bang abang kok malah pada curhat ini?" tanya Zian dengan mata puppy eyes.
Seketika dua pemuda yang sedang berdiri itu saling tatap tatapan, setelah mereka berdua sadar, pemuda pendek langsung berteriak.
"Kurang ajar, kita dipermainkan. Hajaar diaa" teriak pemuda pendek.
...******...
Kirana dan kedua orang tuanya baru saja sampai di depan halaman rumah keluarga Indra. Karina yang mendengar suara mobil langsung berlari kedepan untuk membuka pintu.
"Kalian?"
Karina langsung menghambur memeluk Rita, Kirana dan Chiko hanya bisa diam saja. Kemudian mereka dipersilahkan masuk oleh Karina, lalu ia masuk menemui suaminya Teguh.
"Eh kalian jam segini kemari ada apa?" tanya Teguh ketika dia bergabung di ruang tamu.
"Ini...Rita khawatir ketika mendengar tangisan Karin ditelpon, jadi lah ia memaksa kemari" jawab Chiko membuat Teguh mengangguk dan memandang kearah Karina.
Rita penasaran akan sahabatnya itu, pasalnya dari tadi tidak ada penjelasan yang detail mengenai tangis Karin.
"Oh itu...tidak apa apa, aku hanya merindukan mu Rit" bohong Karina.
"Gak usah menutupi kejelekan anakmu, kamu ini menangis karena dia" sahut Teguh tegas.
Karina yang mendengar itu langsung menundukkan kepalanya, tidak menyangka suaminya akan membuka aib keluarga didepan sahabat anaknya ini.
"Ada apa dengan Indra pa?" tanya Kirana, ia akhirnya penasaran juga.
"Dia asik mendatangi tempat haram dan juga minum minuman haram, kerjaannya setiap malam pulang dalam keadaan mabuk" geram Teguh.
Kirana dan kedua orang tuanya melongo tak percaya, mendengar perkataan dari Teguh.
"Kau tidak sedang bercanda kan Guh?" heran Chiko
__ADS_1
"Apa ucapan ku seperti lelucon, apakah melihat kesedihan istriku itu masih bercanda?" Teguh malah balik bertanya.
Kirana menarik nafas berat, ia tak menyangka sahabatnya benar benar sudah berubah. Ia bahkan sudah tak mengenal Indra sama sekali.
Kenapa Indra begini sekarang, apa karena dia yang sudah menikah membuat Indra merugikan diri sendiri, dia menikah juga karena Indra yang menulis wasiat seperti itu. Tapi sekarang Zian suaminya, dan dia tidak ingin bercerai seperti permintaan Indra.
Melihat raut wajah Kirana berubah, Teguh pun berkata
"Ran, kamu jangan pernah mengikuti permintaan gila dari Indra dan juga mama,"
Ucapan Teguh otomatis membuat Karina mendongak menatap atensi hitam Teguh.
"Kenapa pa? apa permintaan ku salah?"sahut Karina
"Yaa salah Rin, kamu meminta seseorang yang sudah bersuami untuk bercerai agar bisa menikah dengan anakmu"
"Tapi pa, ini demi Indra" lirih Karina
"Maaf bu Karin, pemikiran bu Karin demi Indra itu sudah sangat salah, oke kalau Ran masih single tapi sejatinya sekarang Ran sudah bersuami, apakah bu Karin mau dianggap manusia yang tidak berperasaan karena memaksa seseorang bersuami bercerai hanya kata DEMI tadi?"
"Apakah ibu Karin lupa, siapa yang selalu ada ketika bu Karin dalam keadaan terpuruk? Zian yang selalu dengan kasih sayang dan perhatiannya berada disisi kalian berdua"
Tegas Rita, Karina menatap sendu kearah Rita, dia malu dan merasa bersalah karena telah berpikiran untuk merusak rumah tangga Zian dan Kirana. Dan juga ia sangat merindukan perhatian dan sikap lembut Zian.
Ketika Zian tinggal bersamanya dulu, Zian anak yang sangat baik, sopan dan lembut memperlakukan mereka berdua layaknya orang tua kandung. Bahkan ia dan suami sangat cepat melupakan kesedihan karena kehadiran Zian.
Tapi sekarang, karena kesalah pahaman dan juga demi Indra, ia memperlakukan Zian dengan buruk. Beberapa kali Zian menghubungi dirinya, tapi selalu ia menolak mengangkat bahkan pernah membentak Zian. Ah...rindu itu semakin kuat menjalar di hati kecilnya.
"Aku rindu Zian" lirihnya
Semua atensi tertuju padanya, mata mereka menghangat ketika kalimat itu keluar dari mulut Karina. Mereka semua tersenyum hangat kearah Karina yang sekarang sudah meneteskan airmata.
Tapi ada seseorang yang menatap mereka berlima dengan penuh amarah, wajah nya memanas hatinya terbakar. Pagar pembatas tangga dipegang erat membuat kuku kukunya memutih, ia menggertakkan gigi.
"Gue benar benar akan membunuh lu Zi"
ucap Indra dengan mengatup giginya geram.
__ADS_1
...*******...