
Indra memasuki halaman luas kediaman Teguh Jaya. Ia dengan percaya diri masuk kedalam rumah setelah memarkirkan sedang hitam miliknya. Bingung mendapati rumah yang sepi tanpa satupun manusia. Masih dengan posisi berdiri menatap ruangan tengah yang sepi. Bi Muna menepuk pundak Indra hingga Indra terlonjak kaget.
"Astaghfirullaaaaah....... Bibi. Kenapa ngagetin aku, ya Allah. Jantung ku gak aman ini" teriak Indra sambil memegangi dadanya.
Berbeda dengan Indra yang kesal dengan bi Muna, bi Muna malah tersenyum merekah dengan mata berkaca kaca. Bi Muna mendekati Indra dan memegangi pundak Indra.
"Alhamdulillah... Akhirnya den Indra tobat juga, bibi senang mendengar den Indra menyebut nama Allah gini" raut wajah bi Muna berbinar binar.
Indra mengernyitkan dahinya melihat sikap wanita yang sudah menginjak usia yang tak muda lagi. Merasa sang bibi aneh, Indra memegangi dahi wanita tua itu. Sebelah kanan di dahi bi Muna dan sebelah kiri di dahinya sendiri.
"Oooh pantes... Bibi lagi demam, istirahat gih!" ucap Indra meninggalkan bi Muna yang cengo.
Tapi langkah kaki Indra berhenti kembali melangkah mendekati bi Muna yang masih dengan posisi cengo.
"Bi, mama sama papa mana? Kok rumah sepi banget kek kuburan?"
Bi Muna tersadar dan langsung menjawab pertanyaan Indra cepat.
"Masih dirumah nya non Kirana den. Mungkin nanti sore pulangnya" sahut bi Muna dengan tergesa gesa.
"Oh... Mau ngapain mereka berdua kesana? Ketemu Ran atau ketemu pemuda tak tau diri itu?"
"Kurang tau den, bibi gak nanya tadi pagi pas mereka pergi. Tuan Teguh cuma bilang kerumah tuan Chiko, tapii.." bi Muna seperti berpikir sebentar dan melanjutkan ucapannya lagi.
"Bibi sempat mendengar kalau nyonya ingin ketemu sama den Zian, jadi tuan mengajak nyonya kerumah tuan Chiko untuk ketemu den Zian" jelas bi Muna dengan polosnya
Mendengar penjelasan bi Muna, Indra kembali terbakar api cemburu. Cemburu kepada Zian yang telah berhasil merebut hati Kirana. Dan sekarang Zian juga berhasil merebut hati kedua orang tuanya. Semakin besar rasa benci Indra terhadap sahabatnya itu.
*Pra**ng*.......
Indra membanting Vas bunga yang bertengger di atas meja samping sofa. Bi Muna terlonjak kaget dan mengusap dadanya juga refleks memukul bahu Indra.
"Astaghfirullah.... Allahu Akbaaar.... "
__ADS_1
Plak....
Satu pukulan dari bi Muna membuat Indra malah tertawa. Kelucuan bi Muna mampu membuat Indra melupakan amarahnya. Padahal 1 menit yang lalu Vas bunga sudah melayang satu.
"Ya Allah deen... Kenapa lempar Vas bunga sembarangan, untung gak kena bibi loh, kalau kena macam mana? udah ko'id bibi" cerocos nya
"Ahahahaha.... Bibi ngadi ngadi, gak bakalan ko'id bi. Mana ada kena Vas bunga langsung ko'id, pembohongan publik si bibi mah" ucap Indra nyeleneh.
Bi Muna menepuk jidatnya ketika mendengar jawaban dari Indra. Sedangkan si pelaku masih tertawa seakan tidak terjadi apa apa. Puas tertawa Indra beranjak naik menuju kamarnya meninggalkan bi Muna yang mulai membersihkan sisa sisa Vas bunga yang berserakan sambil ngedumel sendirian.
"Dasaar den Indra, piye toh,. Mosok abis marah malah ketawa ngakak, udah gak beres kayaknya tu otak. Nanti bilang sama tuan dan nyonya deh, den Indra biar di ruqyah aja!"
Dasar bi Muna ada ada aja. Indra se sehat itu ingin di ruqyah. Indra hanya butuh disadarkan.
...***********...
Zian menghampiri kumpulan manusia yang sedang bercanda dan tertawa di meja makan. Atensi Karina menatap lembut ke arah Zian yang sedang menarik kursi duduk disamping istrinya. Zian pun sama dia juga menatap Karina dan pelan menarik bibirnya tersenyum kepada Karina.
Senyuman Zian untuk pertama kali untuk Karina, setelah berbagai kejadian mereka alami sebulan terakhir membuat Karina tersentuh. Karina meneteskan airmata tanpa sadar, bahkan semua yang berada di meja makan menyadari bahwa tadi Zian tersenyum pun ikut terharu.
"Ayo Zi, kita makan dulu. Terus papa ingin berbicara berdua dengan mu" tutur Teguh
Mendengar penuturan Teguh, Zian menatap lamat Teguh dengan pikiran berkecamuk. Apa mau Teguh papa angkatnya ini. Tapi dia pun menyetujui permintaan Teguh tersebut.
"Oke pa, aku ikut aja" sahut Zian singkat.
Teguh tersenyum berbinar mendengar persetujuan Zian. Dia melahap makanannya cepat dan penuh semangat. Mereka pun makan siang dengan khitmad dan sesekali berbicara dan tertawa. Tapi tidak dengan Zian yang hanya menanggapi satu atau dua patah kata yang ditanyakan Teguh, Chiko, Rita atau pun istrinya.
Sedangkan Karina hanya diam tanpa kata. Mungkin tak berani menegur sapa Zian karena takut tak ditanggapi. Jadilah ada kecanggungan di antara Karina dan Zian.
"Gimana makanan nya Zi? enak?" tanya Rita
"Enak bu. Ibu yang masak?" tanya Zian menatap Rita
__ADS_1
"Gak, itu mama Na yang masak" Zian mengangguk dan hanya ber oh ria.
"Oh... " Zian tersenyum tipis.
Selesai menyantap makan siang, Rita Karina dan Kirana sedang membereskan peralatan makan yang kotor untuk dicuci. Kirana yang bertugas untuk membersihkan meja makan.
Teguh dan Zian sudah beranjak ke Gazebo dibelakang rumah Chiko. Chiko juga ikut serta dengan teman dan menantunya itu.
"Duduk disini sambil memandangi pohon pohon rimbun mengingatkan aku pada Indra yang sering mengunjungi rumah dan duduk di Gazebo ini bersama Dinda dan Ran"
Teguh membuka suara dengan mengenang kisah ketiga sahabat itu. Kedekatan mereka bertiga memang tak bisa dipungkiri. Bahkan Zian juga cemburu mendengar betapa dekatnya Indra dan Kirana dulu. Tapi takdir tidak bisa diubah, yang terpenting Kirana adalah istri nya sekarang.
"Iya, mereka bertiga sangat sering disini. Bermain bahkan berantem. Tapi mereka sekarang pada jarang kesini apalagi Indra. Semenjak pulang dari Texas dan berubah dia menjadi orang asing" timpal Chiko sendu, Teguh pun ikut sendu mendengar ucapan Chiko
"Memang anak itu sudah sangat berbeda, bahkan mengubah istri ku yang lembut menjadi seseorang yang bersikap kasar kepada orang yang sudah menjadi penawar luka untuknya"
Teguh menatap lamat kearah Zian, Zian jadi bingung. penawar luka? apa maksud Teguh. Zian juga bertanya tanya. Dia pun semakin penasaran seakan meminta Teguh untuk mengatakan apa maksud dari perkataannya menjadi penawar luka.
"Maksud papa apa? penawar luka?" Zian bertanya dengan sangat penasaran
"Kamu tau gak, kalau kamu itu adalah penawar luka untuk mamamu, " tutur Teguh,. Zian menatap heran kearah Teguh
"Ketika Indra dinyatakan meninggal, kamu lah yang selalu membuat mama mu tertawa bahkan tidak beranjak sekalipun dari mama mu. Mama mu itu sayang banget sama kamu, cuma karena mendengar perkataan dari Indra mama mu ikut emosi karena Indra yang juga emosi"
"Aku hanya orang lain yang merasa sedih melihat seorang ibu kehilangan anaknya. Jadi aku bukan lah penawar luka untuk mama Pa, lagian mama benar kok berpihak pada Indra. Indra anak kalian berdua"
"Apa kamu masih tidak bisa memaafkan mama Zi?"
"Aku sudah memaafkan mama, pa. Insya Allah. Tapi aku butuh waktu untuk bisa bersikap seperti dulu. Papa bisa kan kasih pengertian sama mama agar bersabar"
"Terima kasih Zi, papa senang mendengar kamu mau membuka hati untuk mama kembali. Tenang saja, nanti papa akan memberitahu mama masalah ini. Pelan pelan saja oke. Kami berdua akan selalu menunggu anak kami kembali"
Teguh sangat senang mendengar penuturan Zian. Dia bahkan dengan cepat memeluk Zian. Zian tersenyum tipis. Ada sedikit rasa lega di hati benar kata Kirana bahwa dia harus berdamai dengan hati.
__ADS_1
Chiko ikut tersenyum menatap teman dan menantu nya berpelukan, dia tadi hanya diam tanpa ikut campur urusan mereka berdua. Tak tau harus mengatakan apa untuk sekedar membujuk Zian untuk membuka hati. Tapi ternyata sang menantu memiliki hati yang besar. Dia sangat senang melihat Zian mau membuka hati kembali untuk keluarga angkatnya itu.
...********...