
Mobil milik Chiko membelah jalanan yang sepi dan lengang, maklum saja sudah hampir jam 2 dini hari, dan mereka masih berada dijalanan.
Chiko yang memang sudah sangat penasaran Zian punya masalah apa sampai harus berkelahi dengan orang pun bertanya.
"Kamu punya masalah apa Zi sama itu orang?"
Tanya Chiko dengan masih fokus menyetir, dan sesekali melihat kesamping dimana keberadaan Zian.
"Ntah ayah, aku juga bingung. Tiba tiba mobil mereka menyalip mobil ku yang sedang berjalan. Alhamdulillah masih selamat" jelas Zian lancar tanpa tau bahwa mata Kirana sudah mulai berkaca kaca.
"Eh eh.... Mewek... Jan mewek donk, kan Zian udah gak pa pa" ujar Dinda yang panik melihat airmata sudah mulai menetes dari Kirana.
"Kenapa menangis lagi? apa tidak cukup tadi sebelum ketemu Zian menangis sesegukan?" tanya Rita.
Zian langsung menoleh kebelakang, matanya tepat menatap manik hitam Kirana. Zian tersenyum tipis dan mengangguk tanda dia tidak apa apa.
"Aku gak pa pa, hapus airmata nya. Aku gak mau kamu menangis"
Lembut suara Zian membuat Kirana mengangguk tenang dan menghapus airmata.
"Ternyata begitu ya kalau orang jatuh cinta, sekali disuruh hapus airmata, langsung gercep" sindir Dinda
"Makanya jatuh cinta lah Din, supaya tau bagaimana indahnya jatuh cinta" sergah Chiko
"Eileh, memang nya ayah pernah jatuh cinta?" sanggah Dinda cepat
Chiko yang sedang menyetir pun terbatuk ditanya begitu, apalagi sekarang ini banyak mata yang memandang kearahnya. Chiko berdehem beberapa kali sebelum menjawab.
"Yaa...pernah lah, sama ibu kan. Ayah menikahi ibu karena cinta" senyum Chiko mengembang menampilkan deretan gigi putih.
"Eileh....Ayah bohong itu, ayah mah masa mudanya playboy banget, ketika pacaran sama ibu baru ayah tobat"
__ADS_1
Rita mencibir dan tersenyum ketika menceritakan kisah dia dan juga sang suami.
"Woaa.....Ayah mantan playboy rupanya, ahahahahaha" tawa Dinda pecah, Zian dan Kirana juga ikut terkekeh.
"Gak gitu loh, aish ibu mah buka aib" rengek Chiko, sontak saja hal itu membuat semua yang berada di mobil terperangah, terutama Dinda.
"Ya Allah ayah, kayak bayi aja merengek"
Dinda tidak habis habisnya meledek, mencibir Chiko. Tapi memang begitulah mereka kalau sudah bersama. Dari dulu hingga sekarang.
Chiko dan Dinda masih saling melempar guyonan. Sampai Chiko berhasil menggapai rumah Dinda. Setelah mengantar Dinda, mereka berempat kembali kerumah Chiko.
...******...
Pagi menyapa. Seorang pemuda manis menggeliat di atas kasur. membuka mata perlahan dan mengerjap ngerjap. pemuda tersebut duduk memegang kepala karena pusing, di akibatkan pengaruh alkohol yang ia minum cukup banyak semalam.
Dia menatap ke sekeliling untuk menetralkan pikirannya, sampai sebuah getaran kuat terdengar dari gawai yang berada di atas nakas.
"Hallo....sudah dari tadi gue menunggu kabar dari kalian berdua, kenapa gak da kabar? kalian bisa kerja gak sih?"
Indra mengangkat telpon dan langsung membombardir orang diseberang dengan suara tinggi dan menggelegar.
"Maaf bos, kami berdua gagal. Dia adalah orang aneh yang pernah kami temui"
"Bre**sek....Aku suruh bunuh satu orang saja, kalian tidak bisa, kalian bisa nya apa hah?" Indra membentak pada orang di seberang.
"Makan"
Ketika mendengar jawaban orang di seberang, wajah Indra memerah menahan amarah. Dia meraih sebuah gelas yang berada di atas nakas dan membantingnya.
"Kalian berdua, kita bertemu siang ini di club biasa!"
__ADS_1
"Oke bos....siap!"
Indra mematikan gawainya, memutar mutar benda pipih tersebut berpikir. Sejurus kemudian Indra menyeringai seperti menemui sebuah ide.
"Hmmm....gue rasa kali ini, bakalan sukses, gue yakin" monolognya
Indra bangun dan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dengan sempoyongan ia berusaha menuju kamar mandi. Tapi ada seseorang yang mengetuk pintu kamar.
Dengan wajah ditekuk dan jalan sempoyongan ia membuka pintu dan mendapati mama nya didepan pintu.
"Pagi sayang, gimana keadaan kamu sekarang? ada pusing?" lembut suara Karina bertanya.
Karina datang membawa nampan berisikan sarapan pagi untuk Indra, yaitu segelas susu dan sepotong Roti. Tapi Indra hanya menatap datar kearah Karina, ia yang sudah mendengar ucapan Karina semalam membuat rasa benci menelusup di hati.
"Loh... Indra kok diam aja, ada apa?" sambung Karina lagi karena tidak mendapat respon dari Indra.
"Mama keluar aja dari kamar aku, aku mau mandi" Datar Indra menjawab.
"Tapi---" belum habis Karina berbicara, Indra langsung memotongnya.
"Keluar sekarang, aku sedang tidak ingin di ganggu" datar dan dingin ucapan Indra kepada Karina membuat Karina meneteskan airmata.
"Iya...mama keluar, sarapannya dimakan"
Karina keluar dengan menghapus airmata yang sudah mengalir di kedua sisi pipi. Indra hanya menatap itu dengan tatapan dingin tanpa dosa.
"Semoga kamu segera bertobat dan sadar nak" gumam Karina berlalu meninggalkan Indra yang termangu, karena perkataan Karina sangat jelas didengar Indra.
Indra linglung, ia bangkit menuju kamar mandi. Pikirannya berkecamuk, dan ia butuh berendam untuk menghilangkan beban pikiran.
...******...
__ADS_1