
Pesta berlangsung sangat meriah, para tamu mulai berdatangan memberi selamat kepada kedua mempelai. tapi kedua mempelai seakan tidak punya tenaga, mereka melayani tamu tanpa semangat.
"Apa mereka nikah karena dijodohkan?" tanya seorang tamu kepada yang lain
"Eh kenapa kamu bilang begitu?"
"Mereka tampak tak senang, bahkan tidak berbicara satu sama lain"
"Iya ya, kamu benar, kayaknya mereka menikah bukan karena cinta tapi terpaksa menikah" ucap yang lain
Dinda yang sedang didekat kerumunan orang tersebut, wajahnya langsung gelap, ia tau segalanya, tapi ia tidak bisa mencegah pernikahan ini.
"Huftt....bahkan tamu saja tau mereka berdua menikah bukan karena cinta" gumam Dinda lirih.
"Siapa yang gak bakalan tau, orang gila juga akan tau melihat gestur tubuh mereka yang gak nyaman sama sekali kalau berdekatan" jawab seseorang disamping Dinda membuat ia terlonjak kaget, hampir menjatuhkan gelas yang ia pegang.
"Gila lu...kalau mau ngomong samping gue kasih aba- aba kek, asal jeplak aja, bikin kaget ajaa" bentaknya
"Yaelah, lembek amat,.kek lansia aja" cibir Herry.
Ya orang tersebut adalah Herry, semenjak mereka bergumam serentak tadi, Herry jadi tertarik kepada Dinda, jadi kemana pun Dinda melangkah, Herry memperhatikan nya. (yeaaay....ada satu kapal lagi nih, ups kan masih ada rifal)
...***...
Setelah pesta selesai, mereka sedang duduk untuk beristirahat. Orang tua Dinda yang sedang berada disitu minta undur diri karena ada urusan lain.
"Kami pulang dulu pak Chiko, pak Teguh, sekali lagi selamat untuk pak Chiko." ucap Dendi ayah Dinda.
"nak Ran, mami sangat senang sekali, semoga kalian berdua selalu bahagia" Indri maminya Dinda beranjak memeluk Kirana dan juga Zian.
"Terima kasih mi, doain Kirana terus mi." jawab Kirana lembut, kedua orang tua Dinda juga sudah seperti orang tua kandung bagi Kirana.
"Tapi..mami sedih ni," ia memandang Dinda sebentar, Dinda dengan curiga juga balik menatap maminya
"Dinda masih sendiri sampai sekarang, takutnya malah gak laku nanti" sambungnya lagi. mata Dinda langsung melotot, wajahnya merah padam. Ia kesal bercampur malu sekarang.
__ADS_1
"Mamiiiiiii....ah mamiii jangan buka aib kenapaa.. maluu" teriaknya menggema diseluruh ruang tamu tersebut.
Sontak Herry yang berada disitu tertawa terbahak-bahak. Dinda langsung menatapnya seperti laser pembunuh.
"Pfffftt....mami jangan bilang begitu, kasian Dinda" kekeh Kirana, ia menahan tawa melihat muka merah padam sahabatnya. Semua yang disitu terkekeh, Dinda menghentak-hentakkan kakinya kesal.
Papinya Dinda mengelus lembut punggung anaknya. Dinda pun tenang.
"Papi tidak akan menyuruh mu cepat menikah, cuma berharap kuliahmu cepat selesai dan mengambil alih perusahaan papi yang satunya lagi" mendengar ucapan papinya Dinda langsung muram. Bukan. Bukan itu yang dia mau, dia masih punya cita cita dan keinginan lain.
Kedua orang tua Dinda pun berpamitan, tinggal lah Dinda dan juga Herry yang belum beranjak, mereka bilang sebentar lagi. Dan sekarang mereka masih duduk diruang tamu kediaman Chiko tersebut.
"Mau bulan madu kemana kalian berdua?" tanya Herry memecah keheningan
Deg....
'Bulan madu?' Kirana berteriak didalam hati, kenapa bajingan gila ini membahas bulan madu di pernikahan terpaksa. Apa zian tidak menceritakan pada sahabatnya ini. Itulah pikiran yang berkecamuk di otak Kirana
"Belum tau, apa Ran mau bulan madu?" tanya Zian lagi.
"Sayang..kok diam, kalau Kirana mau pergi honeymoon, mama akan pesan tiketnya kemana pun kalian mau" ujar Karina antusias.
Kirana benar-benar ingin mengubur dirinya sekarang. Ia memandang Dinda, Dinda sepertinya tau isi hati Kirana. begitu juga Rita sang ibunda yang sedari tadi diam saja. Ia juga tau isi hati dan pikiran anak gadisnya itu. ia pun tersenyum menguatkan.
"Hmmm....Ran ikut Zian saja ma, gak tau juga mau pergi honeymoon atau gak, cuma kalau Zian ingin pergi, Kirana sih oke-oke saja" Jawabnya santun. ia ingin berteriak diwajah Zian mengatakan 'tidak' tapi kata itu tercekat ditenggorokannya.
"Gimana Zian? pergi saja ya, mama tidak sabar ingin cucu dari kalian, kalau saja Indra ada--..." suara Karina bergetar ketika mengingat Indra, tapi sekarang dia sudah menganggap Zian anak lelakinya.
"Maaa..." Zian memegang kedua tangan Karina,
"Bukan kah kita sudah membahas masalah ini? mama sudah berjanji tidak bersedih lagi, asal Zian jadi anak laki-laki mama? sekarang Zian disini," kata-kata Zian yang lembut membuat Karina langsung memeluknya dan menangis.
"Apa kalian mengangkat Zian menjadi anak?" bisik Chiko ketelinga Teguh. Teguh hanya berdehem lalu mengangguk. Chiko pun mengerti.
setelah melepas pelukannya dari Karina.
__ADS_1
"Kami akan pergi honeymoon ma, pilihlah kemana pun saran mama, kami berdua akan pergi, iyakan Ran?" ditanya seperti itu, Kirana terkejut tapi dengan cepat ia mengangguk. Karina langsung tersenyum senang.
"Jadi kalian mau kemana?" Herry saat ini menatap Zian
"Kemana aja, asal jangan lama, aku gak mau ditinggal lama-lama sama kamu Ran" Dinda bersuara
Hello Din.! Dinda sedang apa,? dia pikir Kirana juga mau lama-lama. Kirana mengernyitkan dahinya.
"Eh bocah ingusan, orang mau bulan madu, kok lu yang ngatur" Herry shock mendengar Dinda mendikte.
"Looh....suka-suka gue donk...masalah buat lu?" cibiir Dinda, Herry mendengus sebal
"Udaah, tenang aja Din,gak bakalan lama kok, lagian aku juga kuliah dan kerja" jawab Kirana.
"Iya, kami pergi cuma sebentar" timpal Zian santai
"Oke kalau begitu, nanti mama cari tempat yang pas untuk honeymoon, besok mama kasih tau lagi" ucap Karina antusias.
Rita hanya mengikuti alur, terlalu malas berurusan. lagian dia tau anaknya menikah tanpa cinta. jadi apa yang harus diharapkan.
Akhirnya setelah lama berdebat kemana mereka akan pergi honeymoon. Keputusan baru besok kemana dan dimana tempatnya. Mereka pun satu persatu berpamitan pulang. Dinda yang duluan meninggalkan kediaman Chiko disusul kedua orang tua Indra dan Herry setelah itu.
Zian dan Kirana sekarang didalam kamar dalam keadaan canggung parah. Kirana hanya duduk di depan meja rias melepas semua aksesoris dan juga membersihkan make up nya.
Sedangkan Zian duduk disofa juga melepas sepatu dan baju pengantinnya. Hening. Zian pun mulai berbicara
"Aku pake kamar mandi duluan, dan akan tidur disofa ini, dan seterusnya akan seperti itu" ucapnya, Kirana hanya mendengar tanpa berniat menjawab. Malas.
Zian pun menuju kamar mandi, setengah jam berlalu kemudian ia keluar dari kamar mandi, ia mendapati Kirana juga sudah berganti pakaian dan juga sudah segar. bersiap untuk tidur.
Zian bisa memastikan kalau Kirana sudah selesai mandi. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya mengambil bantal dan selimut lalu menuju sofa dan tidur. Badannya lelah sekali, setelah seharian melayani tamu, ia pun terlelap.
Kirana hanya menatap lelaki tampan berwajah dingin diatas sofa tersebut. Ia masih tidak percaya bahwa sekarang statusnya sudah berubah menjadi istri orang. orang yang tak ia kenal sama sekali. Ia menarik nafas, menarik selimut dan menuju peraduan.
...***...
__ADS_1