The Crazy Testament

The Crazy Testament
mencari solusi


__ADS_3

Paginya keluarga Chiko beserta Rita dan Kirana berangkat kerumah kediaman Teguh Jaya dan Karina.


Dilain sisi saat ini, Teguh dan Karina lagi bersiap-siap ingin berangkat ke Jogjakarta kerumah orang tua mereka.


"Ma, cepetan siap-siapnya, kita berangkat sekarang biar gak terlambat" seru Teguh kepada istrinya yang masih sibuk memasukkan beberapa barang kedalam tasnya.


"Iya paa, sabar dikit kenapa...ini masih banyak barang yang mau dibawa" ujarnya kesal menghadapi kelakuan suaminya yang tidak sabaran.


Seketika ia terdiam mengingat kalau Indra juga punya sifat seperti suaminya yang tidak sabaran, kalau ia dan Indra mau kemana saja, Indra yang menunggunya pasti akan mengomel dan bawel menyuruh ia cepat-cepat.


"Ah jadi ingat Indra kan" gumamnya kemudian.


"Maa...maa....kok lama kali siih..?" teriakan Teguh Jaya membuat ia tersentak dari lamunan, dan bergegas keluar menuju halaman depan dimana suaminya, Teguh menunggu.


"Baweel kalii kook? sabaar sedikit kenapaa pa?" tegur Kiran kesal, tapi kemudian atensinya menangkap sebuah mobil yang menuju kearah mereka, setelah pemilik mobil dan penumpangnya turun, senyumnya mulai merekah.


"Ya Allah, saya kira siapa tadi, tamu istimewa ternyata, ayo masuk dulu" mereka pun saling melepas rindu dengan berpelukan


Teguh dan istrinya pun menuntun Kirana dan kedua orang tuanya masuk kerumah, Karina tidak henti-hentinya mengecup pipi Kirana, rindu yang membuncah terhadap Indra di tumpahkan kepada Kirana, Kirana pun tidak memprotes perlakuan Karina, ia malah bersyukur memiliki Karina yang sangat baik kepadanya.


"Sepertinya bapak Teguh sama bu Karin mau ke suatu tempat? Mau kemana?" tanya Chiko ketika mereka sudah duduk di sofa ruang tamu rumah Teguh


"rencananya mau berangkat ke Jogja, menjenguk ibu, neneknya Indra sedang sakit" Jelas Teguh

__ADS_1


"Yaah....semenjak kehilangan Indra, beliau jadi sering sakit-sakitan, beliau masih belum bisa trima kalau Indra udah gak da" ujar Karina dengan mata berkaca kaca.


"Aduh maa, mulai lagi deh, kan papa udah bilang jangan berlarut dalam kesedihan, kasian Indra ma, gak tenang nantinya ia disana" ucap Teguh mengingatkan


"Tapi pa, mama yakin Indra masih hidup, jasadnya sampai sekarang belum ditemukan, bahkan sisa tubuh Indra gak da," ucap Karina, mendengarkan perkataan Karin, Rita dan juga Kirana mengangguk tanda setuju.


"Raan juga percaya Indra masih hidup, Indra pasti pulang" seru Kirana dengan keyakinan kuat


"Raan, ayah kan sudah bilang jangan percaya hal yang tidak mungkin, itu sama saja kamu menyalahkan takdir Allah, kita sekarang hanya perlu percaya sama takdir Allah" ucap Chiko mengingatkan anak semata wayangnya itu.


Airmata Kirana sudah mengalir kembali, ia akhir-akhir ini sering sekali menangis saat mengingat Indra, Rita dan Karin pun kompak memeluk Kirana dari samping.


"Tapi yah, ntah kenapa firasat Ran mengatakan bahwa Indra masih hidup, tapi mungkin ia sekarang lagi berjuang untuk bisa kembali ke sisi kita lagi" yakin Kirana yang membuat kedua orang tuanya dan Indra terdiam terpaku, memikirkan nasib Kirana kedepannya.


"hmmm Ran, a.apa Ran mendapat surat wasiat dari Indra?" tanya Teguh hati-hati,


"maksud kedatangan kami kesini itu, memang mau membahas masalah surat wasiat itu pak Teguh" jawab Chiko


"iyaaa, kami ingin mencari jalan keluar atas permintaan dalam surat wasiat Indra ini, bagaimana baiknya, apa kalian berdua ada solusi yang terbaik untuk Ran" timpal Rita, Kirana hanya diam mendengarkan pembicaraan orang tuanya dan orang tua Indra ini. ia juga bingung harus bersikap bagaimana.


"saya sangat senang, ternyata masalah ini kalian datang kepada kami, kami pikir kami tidak akan punya hak untuk memberi solusi apapun" jawab Teguh dengan tersenyum tipis.


"jangan berkata seperti itu pak Teguh, anda dan bu Karin sudah seperti orang tua kedua bagi Kirana, jadi apapun yang bersangkutan tentang Kirana dan Indra,anda berhak Teguh, saya mengizinkannya" tegas Chiko kepada Teguh.

__ADS_1


"iya bu Karin, jangan anggap kami orang lain, kan kita sudah pernah membahasnya" giliran Rita yang meyakinkan mereka sekarang.


"kalau begitu bolehkah saya memberi solusi?" tanya Karina dengan senyum tipis, ia memandang suami, Kirana dan kedua orang tua kirana sendu. Kirana yang melihat itu langsung mengangguk tanda setuju.


Chiko dan Rita pun setuju, namanya juga lagi cari solusi, mau bagaimana akhirnya keputusan tetap sama Kirana.


...***...


Texas, 20.00 malam


Suara alat-alat medis masih menggema di ruangan bernuansa putih tersebut, terbaring seseorang yang berbalut perban disetiap inci tubuhnya. Ia mengalami koma dan masih berjuang dengan sekuat tenaga, walau para dokter sudah menyerah akan kehidupannya.


...***...


Disebuah balkon hotel seorang pemuda menatap nanar ke penjuru jalan raya, ia adalah Zian, yang masih berkecamuk dengan pikirannya, bagaimana tidak, orang


Yang sudah hampir 2 tahun ini jadi sahabatnya tiba-tiba meninggalkan wasiat yang menurutnya sangat sulit tuk ia jalani.


ia masih tidak ingin membina sebuah rumah tangga, mengingat ia yang tidak mengenal perempuan itu, ditambah lagi ia sangat anti untuk menikah setelah melihat pernikahan orang tuanya yang hancur, sejak saat itu ia berjanji takkan menikah sampai kapanpun.


Tapi, ini adalah wasiat permintaan seorang sahabat yang sudah dia anggap sebagai saudara sendiri. bagaimana mungkin ia menolak..


"aaarghh" geraman frustasi akhirnya keluar dari bibir manisnya, ia pun masuk dan menghempaskan badannya keranjang empuk hotel yang ia tempati dan memilih untuk beristirahat untuk menenangkan pikirannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2