The Crazy Testament

The Crazy Testament
Cemburu?


__ADS_3

Zian saat ini sibuk dengan berkas berkas kantor yang menumpuk, maklum banyak yang harus Zian urus sebagai Direktur.


Terdengar dengusan nafas kesal seseorang yang baru masuk ruangan Zian, Zian menatap orang yang baru masuk tersebut.


"Ada apa lagi? berat banget masalah yang lu pikul? sampai tarikan nafas lu terdengar sama gue?" ledek Zian kepada Herry, ya orang itu Herry.


"Gak konsen gue kerja dari tadi, gue pengen pulang Zi, udah lama banget gue gak pulang" lirih Herry


"Ya salam, jadi lu misuh misuh begini cuma karena ingin pulang?" tanya Zian melongo


"Yaah....bisa dibilang begitu" Herry cengengesan


"Oke, lu boleh pulang" ucap Zian, kembali menatap


"Gue mau pulang ke london Zi" ucap Herry membuat Zian menghentikan aktifitas nya dan matanya langsung menatap tajam ke arah Herry


"Lu lagi demam apa kesambet?, ngapain pulang ke london kalau keluarga lu semua disini?" tanya Zian tak percaya


"Gue rindu bokap gue, udah lama gue gak lihat beliau, jadi gue mutusin gue pulang ke london untuk sementara waktu"


Zian bangkit dari kursi kebesarannya, menghampiri Herry di sofa, dan duduk disamping Herry. Zian bertanya sama Herry semakin intens.


"Lu ada masalah apa sih? Gue tau lu lagi nyimpen sesuatu sama gue"


"Looh, gue cumaa--"


Ucapan Herry terpotong tatkala suara melengking terdengar dari arah pintu.


" Hello everybody, iam coming." Dinda masuk dengan bergelayut dilengan Rifal,


"Assalamualaikum bro, untung kalian berdua ada disini, kebetulan aku bawa makan siang untuk kita"


Rifal masuk bersama Dinda, ditangannya ada beberapa paperbag berisi makanan, mereka berdua mendekati Zian dan Herry, melihat keakraban Dinda dan Rifal, ntah kenapa hati Herry panas, dia hanya tersenyum kecut kearah mereka berdua, dan hanya Zian yang menyadarinya.

__ADS_1


"Aaah Zian, gue permisi dulu ya, masih banyak pekerjaan yang harus gue selesaikan" Herry bangun dan berjalan kearah pintu.


"Loh loh Her, kita mau makan siang loh, nanti aja kerjanya kita makan sama sama dulu," Zian berusaha menghentikan Herry, Herry berbalik dan menjawab.


"Oh tidak apa, nanti gue makan di ruangan aja" jawabnya.


"Loh Her, lebih enak makan sama sama" timpal Rifal


"Aduuh kalian berdua, gak usah repot repot ajak dia, kalau dia gak mau kan, jatah makanan untuk gue jadi banyak, apalagi ini makanan semua enak enak, lama lagi kalau terus maksa dia makan bareng kita" sambung Dinda, dasar Dinda, apa dia tidak sadar bahwa wajah Herry sekarang berubah kesal.


Herry pun langsung keluar, ia membanting pintu kesal. Sampai mereka bertiga terlonjak kaget.


"Astagfirullah, kok dia childis kali sih?" Dinda mengelus dadanya karena sakit akibat kaget tadi.


"Lu tu, mulut kok ya lemes amat, mulus aja kalau bercakap" timpal Rifal.


Dinda bingung, 'kenapa jadi salah dia' batinnya bingung


Mereka bertiga pun makan dengan hikmat, tapi tidak terasa nikmat, karena pikiran mereka sekarang berkecamuk.


...*****...


Kirana sedang duduk diruang televisi dirumahnya, ia tidak punya kegiatan hari ini, dikantor pun pekerjaan sudah diambil alih oleh Chiko dan asistennya. Sedangkan kuliah, Kirana sedang menyusun Thesis jadilah ia sedikit senggang.


Kirana dirumah sendirian karena Chiko dan Rita sedang keluar menemui sanak saudara di kota sebelah. Terdengar bel berbunyi, ia pun bangun berniat membuka pintu.


ceklek......


"Hay sayang, apakabar?" Indra langsung memeluk Kirana yang terdiam mematung.


Kirana mendorong tubuh Indra dan mundur menjauh.


"Apa apain sih lu Ndra, peluk orang sembarangan" dengus Kirana kesal

__ADS_1


"Aku peluk calon istri ku sendiri kan gak pa pa?" Smirk Indra tersenyum kepada Kirana.


"Lu gila, gue masih istri orang udah lu klaim calon istri lu, gue gak mau nikah sama lu" seru Kirana semakin kesal


"Hey hey sayang, kok lu ngomong gitu sih?" Indra mendekati Kirana dengan wajah panik.


Kirana tetap berjalan mundur, hingga ia terbentur dengan dinding dibelakang, Indra merengkuh tubuh Kirana lamat. Kirana hanya pasrah mendapat perlakuan seperti itu, dia ingin berontak tapi tenaga Indra tidak mungkin ia bisa melawan.


Mereka masih berpelukan didepan pintu, tanpa Kirana dan Indra sadari bahwa ada sepasang mata yang menatap mereka penuh dengan kecemburuan. Zian berada didalam mobil, hatinya panas, ia bahkan sudah memukul stir mobil dengan amarah membuncah.


Zian turun dari mobil, melangkah mendekati anak manusia yang masih setia berpelukan.


Zian berdehem " Ehem" membuat Kirana melepas pelukan Indra dengan sekuat tenaga. Dan sukses terlepas.


"Zi, sayang.. kamu pulang kesini?" Kirana langsung berlari mendekati Zian, ia memeluk Zian erat.


Indra yang melihat tingkah Kirana kepada Zian, wajahnya panas, matanya berkaca kaca. Zian membalas pelukan Kirana sambil menatap Indra tajam, jadilah mereka saling menatap, mata mereka berdua bak laser ingin membunuh.


"Iya, aku pulang ingin ambil barang semalam yang tertinggal" bohong Zian, padahal ia pulang ke rumah Kirana bukan kerumahnya, karena rindu ingin memeluk Kirana.


Jengah menatap dua insan saling berpelukan itu, Indra melengos pergi. Melihat Indra pergi, Zian melepas pelukan Kirana dan masuk kedalam rumah dengan amarah.


"Zi, kamu marah?" tanya Kirana takut, pasalnya wajah Zian sangat muram sekarang.


"Hemm" Dingin Zian hanya menjawab sekenanya, siapa yang tak marah dan cemburu, melihat istri tercinta berpelukan dengan lelaki lain. Apalagi lelaki itu saingannya sendiri.


Sama halnya dengan Indra, dia sekarang didalam mobil memukul mukul stir, berteriak marah dengan mata memerah penuh airmata. Kok gue jadi drama, au ah gelap.


"Aarrgghhhhhh.....Ziaaan...lu selalu bikin gue meradaang, lu tunggu tanggal mainnya, gue bener bener akan hancurin lu berkeping keping" ucapnya dengan nafas memburu.


...******...


Lagi kurang fit, makanya agak lama update. nanti di usahain akan update cepat. Terima kasih yang sudah membaca cerita gue, jan lupa like koment an votenya. dukungan kalian sangat berarti. Thanks u.

__ADS_1


__ADS_2