
Sudah hampir seharian Kirana dan Dinda menghabiskan waktu mengelilingi sekitaran pasar untuk memanjakan mata ditoko-toko sekitar pasar, Kirana juga sejenak melupakan kerjaan yang menumpuk dikantor, dan setidaknya ia sedikit mengalihkan perhatian untuk tidak mengingat Indra saat ini.
Karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang, mereka pun memutuskan mengisi perut dengan semangkok bakso dan disinilah mereka saat ini, sebuah warung sederhana dipinggir pantai tak jauh dari pasar tradisional tempat mereka berkeliling tadi.
"Eh Ran, kemana lagii abis ini?" pertanyaan Dinda mengusik lamunan gadis itu, yang sedari tadi masih fokus dengan pikiran kosong menatap ombak dipinggiran pantai.
"Looh, kenapa baksonya gak dimakan sih dari tadi? Asik di aduk-aduk aja, kalau gak mau sini aku abisin" sambung Dinda lagi yang ditanggapi dengan helaan nafas berat dari kirana, sehingga sahabatnya itu menatap tajam menagih jawabannya.
Dinda ikut menghela nafas berat, dan menatap nanar kepada sahabatnya itu, dia sangat tau bahwa Kirana tipekal orang yang tidak suka akan keramaian, tapi dia terpaksa membawa Kirana berkeliling pasar hari ini, karena melihat Kirana yang akhir-akhir ini banyak pikiran, sehingga kehilangan semangat dan selera makan, dia mengetahui itu karena ibunya Kirana yang memberitahunya.
Dinda masih menatap Kirana saat ini, hingga membuat gadis itu menatap Dinda balik dengan tampang heran.
"Ada apa kamu menatapku begitu?" tanya Kirana yang hanya ditanggapi acuh oleh Dinda
"Gak ada" ujar Dinda, membuat gadis itu mengerti, lalu memasukkan bakso kedalam mulutnya.
Kirana tau saat ini Dinda marah padanya, karena tidak menyentuh makanan didepannya sedari tadi, dan Kirana juga tau kalau gadis yang sudah puluhan tahun menjadi sahabatnya itu, sedang khawatir dengan keadaannya, dan ia tidak menyukai raut wajah Dinda saat ini.
Melihat Kirana mulai menyuapi makanan kemulutnya, Dinda kembali tersenyum, melihat itu Kirana pun ikut tersenyum.
"Langsung senyum gitu, iya ini aku makan sampai habis gak bersisa" ujar Kirana pura-pura jengkel, tapi Kirana lega karena masih ada yang menyayanginya selain keluarga dan Indra tentunya, ah kenapa pikirannya kembali lagi pada pemuda itu.
"Oh ya Din, anterin aku kerumah mama Na boleh, udah lama aku gak kesana" pinta Kirana yang langsung disetujui oleh Dinda, mama Na adalah mamanya Indra, mereka berdua sudah menganggap mama Indra selayak nya orang tua sendiri.
...******...
Setelah makan dan membayar dikasir, mereka pun menuju mobil dan tancap gas kerumah Indra, akan tetapi sesampainya dirumah Indra, rumahnya terlihat sepi tidak ada satupun manusia dirumah besar tersebut, termasuk satpam dan mbok muna pembantunya Indra.
"Loh Ran, kok kayak gak ada makhluk hidup disini,? pak Slamet sama mbok Muna pun gak kelihatan batang hidungnya" ucap Dinda membuat Kirana mengerutkan dahinya tanda bingung.
Kirana pun semakin khawatir dan memilih mengeluarkan ponselnya mencoba menelpon Karina tapi usahanya nihil, dengan putus asa ia pun mengajak Dinda pulang.
"Ya udah kita pulang aja yuuk, nanti aja kalau ada waktu kita balik lagi" ucap Kirana sendu,
" ya udah kalau gitu, yuuk pulang" setuju Dinda, yang melihat tampang lelah sahabatnya.
...******...
Sesampai dirumah Kirana, Dinda tidak langsung pulang dikarenakan ibu dan ayah Kirana sedang tidak ada dirumah, ia memutuskan menemani sahabatnya itu sampai kedua orang tuanya pulang.
Mereka sedang asik membaca buku dan belajar di tempat biasa yaitu dipondok belakang rumah Kirana, bisa dikatakan rumah Kirana adalah tempat paling nyaman untuk Dinda maupun Indra.
Ketika mereka SMA dulu, pulang sekolah mereka sering sekali mampir kerumah Kirana untuk belajar bersama atau sekedar bersantai saja melepas penat sampai sore.
__ADS_1
Dibelakang rumah Kirana juga ada kolam renang mini dan banyak pepohonan, ada pohon yang berbuah seperti Mangga, Jambu, dan Sawo, atau sekedar pohon untuk berteduh.
Ayah Kirana sangat suka bercocok tanam, selain pohon berukuran besar, ayahnya juga punya kebun mini yang ditanami berbagai macam sayur-sayuran disana.
Indra sangat suka membantu ayah Kirana ketika dia berkunjung kerumahnya, Chiko sama Indra juga sering bereksperimen membuat pupuk organik, dari sinilah Indra jadi sangat menyukai segala tentang pertanian.
...******...
Satu jam kemudian ibu dan ayah Kirana pulang, melihat anak gadisnya bersama sahabatnya lagi bercanda di pondok, Rita menghampiri dan diikuti Chiko yang menyusulnya.
"Owalah, anak gadis ibu dua-duanya disini..? Lagi ngapain, udah pada makan siang?" tanya Rita penuh perhatian pada keduanya, Kirana dan Dinda mengangguk bahwa mereka sudah makan siang, lagian sudah hampir senja makan siang apalagi dalam benak keduanya.
"Waaah......anak-anak ayah disini toh, gak jadi jalan-jalannya? Tadi ayah dengar dari ibu kalian jalan-jalan, makanya Ran gak kekantor" sambung Chiko sambil melirik istrinya disamping, dan Rita dengan sigap mencubit perut suaminya.
"Kenapa ikut-ikutan sih..?" tanya Rita pura pura kesal, tapi ditanggapi dengan deheman dan godaan kecil dari Kirana dan Dinda
"Masih mesra aja ya Ran, kami yang JOJOBA ini jadi iri deh sama ayah dan ibu" ucap Dinda tersenyum menggoda
"JOJOBA.? Apa artinya ituu?" tanya Rita sambil menatap suaminya bingung, membuat Kirana dan Dinda membelalakkan mata tanda tak percaya bahwa ibunya tidak mengetahui arti jojoba, seketika tawa mereka pecah.
"Serius ibu gak tau arti jojoba?" tanya Chiko masih tidak percaya yang dihadiahi gelengan kepala sang istri, Chiko hanya terkekeh melihat tampang bingung istrinya tersebut.
"Jomblo-jomblo bahagia bu artinya, masak ibu gak tau, padahal tiap hari kerjaannya nonton sinetron, dalam sinetron pasti ada kata-kata itu" jelas Kirana terkekeh, sedangkan Dinda dan Chiko sedari tadi asik menertawakan Rita.
Kirana hanya tersenyum senang melihat tingkah laku dan interaksi sahabatnya itu sama kedua orang tuanya tanpa canggung sedikitpun, kemudian pikiran nya pun melayang mengingat Indra yang juga sangat dekat dengan orang tuanya.
'aah.... apakabar pemuda itu' batin Kirana.
...******...
Tiba-tiba telpon Chiko berdering, ia pun segera mengangkatnya dan terdengar suara berat seperti menahan beban tangisan dari seberang telpon yang menyuruh mereka sekeluarga datang kerumahnya.
Chiko dengan muka panik dan khawatir mengajak Rita dan Kirana tidak lupa Dinda untuk ikut dengannya, mereka bingung dengan ajakan Chiko yang juga tiba-tiba diam membisu, bahkan ketika Kirana dan Rita bertanya berkali-kali ada apa sebenarnya, Chiko hanya mengatakan bahwa mereka akan tau setelah sampai disana dan kemudian diam kembali.
Hati Kirana tiba-tiba mulai tidak tenang dan gak enak bawaannya, dia seperti merasakan suatu hal yang buruk sedang terjadi, bukan hanya dia, Rita dan Dinda juga merasakan hal yang sama, Dinda dan Kirana hanya saling menatap dengan air muka penuh kekhawatiran.
20 menit perjalanan, sudah membuat hati Kirana tak karuan, apalagi ketika mobil ayahnya memasuki kediaman Teguh Jaya yang tak lain adalah rumah orang tuanya Indra, dihalaman rumah Indra sudah terparkir tiga mobil, yang satunya Kirana tau itu adalah mobil ayahnya Indra, tapi dua lagi punya siapa batin Kirana.
"apakah Indra sudah pulang? Tapi kenapa tak memberitahunya" gumam Kirana lirih
Mereka buru-buru turun dari mobil, terutama ayah Kirana yang langsung berlari kecil menyusuri halaman luas rumah Teguh Jaya, melihat sang ayah yang berlari, Kirana pun juga ikut berlari yang disusul oleh Rita dan Dinda yang mulai kebingungan.
Langit baru menampakkan warna jingga kemerah-merahan ketika mereka menginjak kaki didepan pintu rumah Indra.
__ADS_1
Ketika Kirana tepat berada di depan pintu, ia disuguhi pemandangan yang sangat membingungkan, bagaimana tidak, rumah itu dipenuhi barang berkoper-koper dan juga ada 4 orang asing sedang duduk disofa berhadapan dengan orang tua Indra.
Menyadari kedatangan keluarga Chiko, Karina langsung berlari memeluk Kirana, yang membuatnya tersentak kaget dengan pelukan dan isak tangis Karina. Kirana mencoba mencerna apa sebenarnya yang terjadi, dan situasi seperti apa didepannya sekarang ini.
Karina melepas pelukannya dan kini beralih memeluk Rita sambil bergumam sesuatu yang membuat Rita terkejut dan bingung, Kirana yang melihat perubahan muka ibunya menjadi semakin bingung, ada apa sebenarnya.
Di sisi lain Kirana melihat Teguh yang sedari tadi menunduk mengacak rambutnya, ada Chiko disamping nya berbicara dengan salah satu orang asing tersebut yang sayup-sayup Kirana dengar namanya Mr. Kuba Smith, pemilik perusahaan dimana Indra bekerja,
nampak jelas keterkejutan diwajah Chiko, Rita menangkap wajah terkejut Chiko hingga menuntun Karina mendekat dan ikut duduk di sofa, Karina masih memeluk tubuh Rita.
Dinda juga ikut duduk disamping Rita, hanya Kirana yang tidak beranjak sedikitpun dari tempat ia berdiri, ia mematung tubuhnya tidak bisa bergerak setelah ia sayup-sayup mendengar perkataan yang tidak mengenakan dari orang asing itu.
"What did you say...?? I am still can't believe it.." ucap pak Chiko dengan penuh penekanan.
Ia ingin penjelasan yang mendetail saat ini, masih dengan wajah sedih dan merasa bersalah, Mr Kuba menjelaskan bahwasannya Indra sudah tiada.
Karina yang masih tidak percaya dengan perkataan Mr Kuba tentang anak semata wayangnya telah tiada pun langsung mengamuk, Rita semakin erat memeluknya untuk menenangkan Karina.
Sedangkan Kirana yang sedari tadi berdiri mematung mencoba mendekat untuk mencari kebenaran disetiap perkataan Mr Kuba, kini Rita dan Dinda sudah tidak bisa mengontrol keterkejutannya, mereka mendekap mulut mereka dengan tangan, masih tak percaya.
"Are you sure mister? One of the victims is my son? Pleaseee......say it's not my son
(kamu yakin tuan? Salah satu korban adalah putraku? Toloong, katakan itu bukanlah putraku)" ujar pak Teguh dengan menatap Mr Kuba dan ketiga rekannya dengan mata sudah berlinang air mata.
Airmata Kirana pun tumpah menganak sungai, ia yang sedari tadi belum mengerti situasi pun tak dapat membendung airmatanya ketika mendengar Karina berteriak histeris
"Gaak....gaaaaak.....mana mungkin ini terjadi, ini tidak mungkiiiin, oooh malaangnya anak ku, aku mau ketemu anakku, lepaaaskaaan aku..."
Karina terus mengamuk dan memberontak dalam pelukan Rita, sehingga Teguh mengambil alih tubuh lemah istrinya itu, disaat itu juga Kirana terduduk lemas, ia limbung kedua kakinya tak bisa lagi menahan untuk menompang tubuhnya yang mulai kehilangan kekuatan, Dinda yang melihatnya pun berlari memeluk tubuh lemah Kirana.
"Its your son sir, and We tried to find him in the rubble of the building fire, but we didn't find his body, not even the remains of his body.
(Itu anak anda pak, dan kami sudah mencoba mencarinya dalam puing sisa kebakaran gedung tersebut, tapi kami tidak menemukan tubuhnya, bahkan sisa dari tubuhnya)" jelas mister Kuba panjang lebar.
Seketika tubuh Kirana menegang dan bergetar menahan tangis, Dinda yang disampingnya pun mulai terisak kembali, Kirana tidak mampu lagi menahan beban pikiran seketika tubuhnya melemah dan akhirnya ia tak sadarkan diri, melihat Kirana pingsan Dinda berteriak memanggil Rita dan Chiko, mereka yang berada disitu pun semua panik dan Rita terus menerus memanggil anak gadisnya itu.
"Ya Allah Ran, bangun nak, bangun sayang" Rita terus menepuk nepuk pipi Kirana, Dinda sudah terisak memeluk tubuh lemah Kirana.
Hari itu, disaat senja menyapa, rumah besar Teguh Jaya kehilangan cahaya mata mereka, Teguh masih terduduk dengan pandangan kosong, pikirannya berkecamuk dengan sejuta penyesalan, menyesal karena telah mengizinkan anak semata wayangnya bekerja ditempat yang sangat berbahaya.
Disudut lain, didalam sebuah kamar, ada Karina yang berbaring diranjang dengan tatapan kosong menerawang setiap sudut kamar, dia masih bergumam tak percaya bahwa buah hatinya telah tiada, dan ia punya keyakinan kuat dalam hati bahwa anak kesayangannya itu masih hidup, mengingat mereka yang disana belum menemukan mayat sang buah hati tercinta.
Sedangkan Kirana, masih belum sadarkan diri, Dinda masih setia menemani sahabatnya itu, dia bahkan tidak beranjak dari ranjang sama sekali, ia berpikir bahwa Kirana butuh dikuatkan saat ini.
__ADS_1
...****************...