
...Kamu adalah orang yang sangat aku cintai...
...Aku manusia biasa yang selalu ingin bersama mu. Selalu ingin mengetahui hari-hari mu....
...Selalu ingin menjadi bagian dalam cerita mu....
...Selalu ingin memahamimu, dan tak ingin jauh darimu....
...Karena aku ingin menua bersama mu....
...Aku memang gak sempurna, jauh dari kata sempurna....
...Tapi cintaku padamu adalah sebuah kesempurnaan....
...Zian Avicena...
...****************...
"Kalian kenapa ada disini?" ternyata Indra yang menyapa mereka yang sedang berada di parkiran hotel.
"Lu ngapain disini?" Dinda menatap tajam ke arah Indra yang mulai mendekati mereka dengan santai.
"Loh suka-suka gue donk mau dimana, masalahnya apa sama lu?" ketus Indra santai
Zian menatap Indra tidak suka. Dia beralih menatap Kirana dan kembali membujuk.
"Ran... Pleasee sayaang, tolong percaya sama aku. Aku tidak tau apa-apa" mata Zian mulai berkaca-kaca menatap sendu kearah Kirana, tangan Zian meraih menggenggam tangan Kirana.
"Buktinya didepan mata, bagaimana bisa aku percaya sama kamu" isak tangis Kirana kembali pecah.
Indra yang melihat Kirana menangis pun mendekati dan merangkul Kirana. Kirana tidak menolak sama sekali rangkulan dari Indra. Membuat Zian emosi.
"Lu kenapa sentuh istri gue. Bangsat" Zian mulai kehilangan kendali
"Eh, suka-suka gue donk. Ran nya ajak gak nolak" bela Indra bangga malah semakin mengeratkan rangkulannya.
"Lu gak usah ikut campur deh Ndra, mending lu pulang!" cerocos Dinda meraih bahu Kirana dan menarik Kirana kesamping nya.
Herry dan Rifal menghampiri Zian mereka juga membawa wanita yang kedapatan bersama Zian tadi. Melihat itu, Zian berlari dan menarik pergelangan si wanita.
__ADS_1
"Jelaskan sama istri gue cepat! Gue gak kenal sama lu" Zian menghempaskan tangan wanita yang hanya bisa tertunduk itu.
Wanita yang sekarang mendapat tatapan tajam dari kelima orang disitu hanya terdiam. Malah balik menatap mereka satu persatu dengan rasa takut. Matanya bertemu dengan Indra yang sudah menyeringai kepadanya.
"Ka-kami berdua sudah se-sebulan ini bertemu disini dan melakukannya" ucap wanita itu terbata menggigit bibir bawahnya dengan masih menatap Indra.
Bagai petir di siang bolong. Hati Kirana hancur berkeping-keping, ia tak menyangka kalau suami nya bermain dibelakangnya. Sedangkan Zian, ia begitu geram. Karena semua yang dikatakan si wanita itu tidak seperti kejadian sebenarnya. Bagaimana bisa ia difitnah didepan istrinya sendiri.
Merasa tak terima. Zian pun menarik kasar si wanita dan berteriak pada wanita yang telah membuat ia buruk didepan istri yang sangat ia cintai.
"KAU.... Apa yang kau katakan? Aku bahkan tidak pernah melihat kau sebelumnya" teriak Zian frustasi.
"Jangan mengelak kak, kita sudah beberapa kali melakukannya. Masa habis manis sepah dibuang, kau jangan pura-pura tak mengenal ku" sinis si wanita
"Wanita gila, aku bahkan tidak pernah melihat wajah mu. Bagaimana bisa kita melakukan yang kau bilang itu. Siapa yang menyuruh mu menjebak ku?" ujar Zian sukses membuat si wanita gelagapan termasuk Indra.
"Aku akan menuntut mu kalau sampai aku hamil" ujar wanita itu dan kemudian melangkah meninggalkan mereka semua.
"Arrghh.... Wanita sialan, siapa yang membayar mu?" teriak Zian tanpa dipedulikan oleh wanita antah berantah itu.
Indra merasa terancam oleh ucapan Zian. Ia pun melontarkan kata-kata yang membuat hati Kirana semakin sakit.
"Astaghfirullah hal azim" lirih Kirana berlinang airmata.
Kirana pun berjalan menuju mobil. Zian mengejarnya dan memeluk Kirana dari belakang.
"Aku mohooon...! Percayalah padaku, aku tidak pernah menghianati mu. Aku sangat mencintaimu" isak Zian mencium ceruk leher Kirana yang juga sudah terisak.
"Aku tidak bisa mempercayai mu lagi Zi. Aku tidak mau bertemu dengan mu. Pleaaseee.... lepaskan aku.! " lirih Kirana lemah, memang tenaga Kirana sudah sangat lemah dan lelah.
Indra yang memang benci melihat adegan mesra Zian dan Kirana pun ikut menimpali.
"Lu mau Ran percaya gimana lagi Zi, Bukti didepan mata"
"Tolong donk, lu diem aja Ndra.! ini masalah rumah tangga orang, dan dari tadi lu nyerocos aja kayak kereta api" Dinda tak tahan melihat keadaan Zian dan Kirana saat ini.
"Kami dari tadi diam aja karena ingin Kirana dan Zian yang memiliki masalah untuk dapat menyelesaikannya,. Eh ini malah lu yang banyak bacotnya dari tadi" kesal Herry menatap Indra dengan mata menyalang.
Rifal hanya mengelus punggung Dinda menenangkan. Indra tersenyum sinis kemudian kembali membela diri.
__ADS_1
"Gue salah apa? yang salah disini kan Zian. Zian yang tidak bisa menahan gejolak ***** hingga jajan diluar"
Bugh....
Sebuah pukulan mendarat di pipi Indra. Zian yang melakukannya, hatinya panas. Tidak pernah terlintas dalam hidupnya untuk mencari wanita lain dan menghianati Kirana. Karena dia hanya mencintai dan menyayangi Kirana sebagai istrinya. Kenapa Indra malah menuduhnya yang tidak-tidak membuat emosinya memuncak.
"Lu memang kurang ajar Ndra, mulut lu tidak bisa lu jaga dalam mengucapkan kata-kata" lirih Zian
Kirana meraih pintu mobil dan hendak memasuki mobil. Tapi Zian kembali meraih tubuh Kirana dan memeluknya erat. Tidak seperti tadi, kali ini Kirana memberontak mendorong tubuh Zian sekuat tenaga.
"Aku gak mau disentuh laki-laki sepertimu. Lebih baik kamu pergi dari hadapan ku" teriak Kirana terisak. Kirana mulai emosi karena mendengar kata-kata dari Indra tadi.
"Raan... Aku mohon, tolooong. Percayalah padaku walau cuma setitik dihatimu" lirih sendu Zian dengan linangan airmata.
"Setelah apa yang aku lihat, dan aku dengar? kamu menyuruh ku mempercayai mu? Susaaah" tutur Kirana
"Pleaaseee....!!!" Zian memelas dengan mata sudah merah karena menangis. Tapi tak sedikitpun Kirana luluh.
Kirana sudah dipenuhi kebencian dia sudah tidak mempercayai betapa Zian mencintainya dan tidak menghianati nya. Lelah menangis Kirana mengajak ketiga sahabatnya untuk pulang.
"Din, Her, Fal.. Aku ingin pulang. Bawa aku pergi dari sini" ajak Kirana tapi Herry menolak, ia ingin menemani sahabatnya.
Dimata Herry Zian masih sahabat yang sangat ia sayangi terlepas apa yang telah terjadi. Setidaknya ia ingin berada disamping sahabatnya ini.
"Kalian pulang lah. ! Aku ingin menemani Zian" ucap Herry.
Kemudian mereka bertiga pun pergi dari parkiran hotel tersebut dengan Zian yang terus menerus mengejar dan mengedor pintu mobil dimana Kirana berada. Herry sudah berulang kali menarik tubuh Zian dan menenangkan nya Zian tetap tak bergeming.
"Raan.... Pleaseee.... " ucap Zian berlutut dilantai dingin tersebut
"Zi... Jangan begini, kita susul Ran kerumah! Lu harus jelasin dengan pikiran tenang, situasi saat ini itu kacau loh. Ran gak bakalan denger apa kata lu. Gue juga butuh penjelasan dari lu, agar gue benar-benar bisa percaya sama lu" jelas Herry
"Lu percaya kan sama gue Her? Demi Allah Her, Gue gak melakukan hal yang menjijikan seperti itu. Gue sangat mencintai Kirana" suara Zian bergetar, ia tak mampu menghadapi masalah rumit seperti ini. Apalagi melihat linangan air mata istri yang sangat ia cintai.
Herry hanya mengangguk. Memang benar, ntah kenapa hati kecilnya berkata bahwa sang sahabat tidak mungkin melakukan perbuatan dosa seperti ini. Pikiran nya langsung melayang kepada Indra. Ah. tidak mungkin kan Indra melakukan ini semua. Mereka berdua pun menuju mobil.
...********...
...*Haa**aaah....... akhirnya selesai juga.... selamat membaca readers*...
__ADS_1