
Karina mendekati Zian mencoba menyapa, Zian langsung menarik pergelangan Kirana menuju kamar. Dia ingin membersihkan diri sebelum makan siang berlangsung.
Melihat sikap Zian yang masih dingin. Hati Karina tercubit sakit, dia menyadari betapa memang dulu perlakuannya sangatlah kejam. Kirana ikut sedih melihat sikap Zian kepada Karina. Apalagi ia sempat melihat perubahan aura wajah Karina yang murung. Ketika mereka dikamar pun Kirana mencoba berbicara dan membujuk Zian.
"Hubby. Kamu beneran masih sakit hati sama mama Na?"
Kirana bertanya dengan mata sayu. Zian hanya terpaku tanpa tau harus menjawab apa. Zian menarik nafas berat dan duduk di tepi ranjang menarik tangan Kirana berdiri di depannya. Zian memeluk Kirana yang dengan posisi berdiri dan menenggelamkan wajahnya kepelukan sang istri.
"Aku juga gak tau sayang, bingung dengan hati sendiri. aku tidak ingin marah. Tapi hati masih menolak untuk menerima semua yang telah terjadi" Sendu Zian.
Kirana hanya bisa mengelus lembut surai hitam kecoklatan punya Zian. Dan juga menepuk nepuk pelan pundak kekar suami tercinta.
"Cobalah berdamai dengan hati Honey.! Kamu pasti bisa Insya Allah."
Tidak mudah bagi Zian berdamai dengan hati yang telah terluka. Dulu ketika ia mempunyai luka dan membenci kedua orang tua nya, dia juga butuh waktu yang sangat lama. Apa hal ini, Teguh dan Karina hanya lah sebatas orang tua dari seorang sahabat lama yang sudah ia anggap orang tua sendiri, tapi kemudian ia didorong menjauh.
Setelah semua yang terjadi, mereka kembali datang memohon maaf dan ingin kembali membina hubungan baik. Zian bukanlah malaikat yang bisa memaafkan orang dengan begitu mudahnya. Dia hanya punya hati, tapi sudah sering sekali di gores luka.
"Hmmm.... ntah lah sayang, aku mau mandi dulu dan setelah itu kita makan siang bersama. Lebih baik kamu tunggu aku dibawah, temenin ibu dan yang lain!"
Karina menghela nafasnya. Susah membujuk suami yang lumayan keras kepala. Tapi Kirana juga mengerti perasaan sakit Zian. Dia pun beranjak meninggalkan Zian yang sudah berlalu ke kamar mandi.
"Nanti kalau sudah siap, langsung turun ya!" ucapnya ketika sudah membuka pintu dan menatap punggung Zian dari belakang. Zian hanya mengangguk mengiyakan.
...********...
__ADS_1
ZIHER Group
Herry sedang beristirahat dengan mengunyah makanan yang dipesan dari situs Online. Tadi Zian meminta izin pulang makan siang, tinggal lah dia sendiri meratapi nasib akibat gagal pulang ke London.
"Hmm.... Kalau gak ada kejadian konyol kemarin, aku pasti sudah berada di London menikmati secangkir teh hangat di cafe sana sekarang ini. Huftt.... " desah nya sambil menikmati nasi padang.
Tangannya masih sibuk menyendok nasi yang berada didepan sampai seseorang membuka pintu ruangannya.
seseorang tersebut berdiri di pintu menatap Herry yang sedang menatapnya juga.
"Ada apa lu liatin gue? terpesona sama gue?" ketus Herry bertanya
"Terpesona sama lu? , ogah banget gue" sanggah Dinda. Ya orang itu adalah Dinda.
"Terus apa coba? atau.... mau gangguin gue makan? mau minta jatah makanan gue?" curiga Herry sambil menunjuk ke arah Dinda.
Herry masih menatap bingung ke arah Dinda yang masih menyandarkan punggungnya dipintu.
"Terus lu mau apa kesini?" tanya Herry penasaran.
Dinda mendekat dan menghempaskan badannya disofa dekat Herry.
"Lelah juga berdiri di pintu dengan cool" ucap Dinda tanpa menjawab pertanyaan Herry. Herry menatap jengah kepada Dinda.
"Crazy... gue nanya loh sama lu, lu kenapa gak jawab pertanyaan gue? mulai Budeg kayaknya" gerutu Herry sambil terus melanjutkan makannya tanpa menghiraukan Dinda lagi.
__ADS_1
"Sensi amat lu, kenapa akhir akhir ini lu sensian selalu sama gue? Gue jadi bingung ngehadapin lu. Serba salah. " sahut Dinda memutar bola matanya malas.
"Dah ah, lu gak seru. Padahal gue mau nanya nanya tentang London sama lu. Gak jadi deh, lu selalu PMS kalo sama gue. kekeke" Kekeh Dinda berlalu pergi.
"Yaak.... Mau kemana lu?" teriak Herry menggema
"Gak usah teriak teriak!! Ya Allah, pengang kuping gue"
Suara Dinda gak kalah besar dari Herry. Bahkan beberapa karyawan yang tidak sengaja melewati ruangan Herry sampai menutup daun telinga mereka. Salah satu karyawan mendekati temannya dan berucap.
"Kayaknya mereka berdua bakalan nikah suatu hari nanti deh Bob" ucap Karyawan 1
"Ngomong apa lagi kamu, asal jeplak aja" sahut karyawan yang bernama Bobby
"Lah, kok kamu malah bilang gitu? aku yakin banget mereka bakalan bersama dan nikah" karyawan 1 yang bernama Bella tetap keukeh
"Ngadi-ngadi kamu, kamu gak liat mereka udah kayak anjing sama kucing, Tom and Jerry Bel" jawab Bobby lagi
"Eh... Bob, Bel. Jangan ngerumpi mulu, kelarin tugas kalian. Kalau tugas kita gak selesai pak Herry bakalan ngamuk sama kita" percakapan Bobby sama Bella di tengahi oleh salah satu karyawan lagi.
"Ah kamu gak seruuu Revan" Bella dan Bobby melengos meninggalkan Revan yang menggelengkan kepala melihat tingkah dua temannya.
Ternyata percakapan ketiga karyawan tadi didengar oleh Rifal yang kebetulan datang berkunjung untuk sekedar menyapa Dinda dan Herry. Terlintas di pikirannya apakah benar apa yang dikatakan ketiga karyawan Zian dan Herry tadi. Ntah kenapa hatinya berdesir sakit, ada rasa gak rela mendengar Herry dan Dinda cocok bila bersama.
Tengah sibuk berkecamuk dalam kepala. Dinda menepuk pundak Rifal dan tersenyum manis. Kupu kupu memenuhi perut pemuda manis asal Malaysia itu. Dia ingin sekali egois untuk bisa memiliki Dinda seutuhnya. Tapi sepertinya. Dinda tidak menyukainya.
__ADS_1
"Ahh... mudah mudahan Dinda punya perasaan sama kepadaku" batin Rifal membalas senyum Dinda.
...*********...