
Indra masuk ke sebuah Club, dimana dua anak buahnya sudah menunggu dengan sebuah gelas minuman di masing masing tangan mereka berdua. Sesekali mereka mengikuti irama dentuman musik yang menggema di seluruh Club itu.
Indra langsung menduduki bokongnya di sofa dekat dengan si pendek yang di panggil bang Man oleh si cungkring yang tak lain bernama Gerald. Man yang bernama asli Tukiman membuka suara, ketika melihat Indra duduk tidak berbicara satu patah kata pun. Indra hanya menatap mereka berdua dingin.
"Hhm...eng.. eh... Bos... Apakabar?" basa basi Tukiman
"I-iya bos... apakabar?" timpal Gerald takut takut, apalagi menatap sorot mata nyalang Indra.
"KALIAN MASIH BISA MENANYAKAN KABARKU?"
Bentak Indra meninggikan suaranya, bahkan suara Indra melebihi suara dentuman musik di Club tersebut. Alhasil Tukiman dan Gerald terlonjak kaget. Tukiman saja sampai menumpahkan alkohol yang hendak ia minum. Para pengunjung Club juga menatap kearah mereka bertiga penasaran.
"Eng.... Eng.... Eng.. " Tukiman tidak mampu lagi menyelesaikan ucapannya karena terlalu takut
"Hufttttt..... Hhhhhh..... " Helaan nafas kasar keluar dari mulut Indra.
"Coba kau katakan padaku, kenapa kau bisa gagal menghabisi laki laki brengsek itu?" tanya Indra lagi sambil menatap geram ke arah Tukiman dan Gerald.
"Baru kali ini dapat bos kejam nya luar biasa, aku jadi ciut dibuatnya" batin Tukiman
"Maaaaak..... Tolongin aku... aku tobat jadi penjahat, bosnya kejam, suka ngebentak. Mak aja gak pernah ngebentak aku." batin Gerald mewek
"KENAPA KALIAN BERDUA DIAM AJAA" suara keras Indra keluar lagi.
"Bos bisa gak, gak usah teriak teriak, bukan dalam hutan ni" celetuk Gerald tanpa sadar, dan ia langsung menutup mulut cepat.
"Kau berani menyela ku? kau berani membantah aku?" geram Indra mengatup giginya.
"Gak... gak bos... gak berani aku mah" ucap Gerald cengengesan ngeri.
__ADS_1
Melihat Gerald yang terpojok karena Indra terus memarahi nya. Tukiman berinisiatif mencari ide. Ia pun dengan takut menegur Indra dan sepakat agar sama sama memikirkan ide untuk bisa menjalankan rencana.
"Bos... Hmm... sepertinya kita harus mencari ide lain agar bisa menghabisi musuh bos itu" saran Tukiman
"Sepertinya begitu? hmm apa kalian punya ide?" Tanya Indra balik.
Mereka bertiga pun merapat mendekat untuk berembuk memikirkan sebuah ide. Hingga tiba tiba sebuah teriakan mengalihkan atensi Indra untuk menoleh ke asal suara tersebut.
"Eh kurang ajar... Kenapa aku kau seret Bartender bajingan?" teriak seorang wanita berdress mini berwarna hitam gelap cocok dengan kulitnya yang putih bersih.
"Keluar kau dari Club ini wanita sialan...! kau tidak punya uang membayar minuman mahal, sok sok an mau minum disini" bentak bartender tersebut ke wajah wanita itu sambil menunjuk wajahnya.
Kening Indra mengkerut, ia seperti mengenal wanita yang sedang berdebat dengan bartender itu. Ia pun bangkit dari duduk dan berjalan mendekati wanita dan bartender yang masih beradu mulut. Dan benar saja, ketika ia sudah dekat dengan mereka berdua. Indra menegur keduannya.
"Ada apa ini?" tanya Indra dan ketika si wanita berbalik ia pun terkejut.
"Gak usah ikut campur. Ini urusan ku dengan lelaki kurang ajar ini." ujar wanita itu angkuh.
Luna. Teman Indra Kirana dan Dinda ketika masih Sekolah Menengah Pertama dulu. Merasa nama nya disebut, Luna kembali menoleh ke arah Indra. Dia bingung karena merasa tidak mengenal wajah Indra sama sekali. Dan dengan penasaran Luna menanyakan siapa Indra.
"Kamu siapa? kamu kenal sama aku?" ucap Luna penasaran.
Karena wajah Indra yang sudah berbeda membuat Luna sama sekali tidak mengenal pemuda yang tak lain Indra. Indra hanya tersenyum menampilkan deretan gigi putih. Indra pun mengajak Luna ikut duduk ditempatnya sambil memesan satu botol Sampanye.
"Ayo ikut dengan ku !, akan aku ceritakan siapa diriku" ajak Indra, sebelum beranjak dari tempat dia berdiri dia berkata dengan angkuh kepada bartender yang berdebat dengan Luna tadi.
"Dan kamu, bawakan kami sebotol Sampanye kualitas terbaik!" ucap Indra angkuh.
Dia pun meninggalkan bartender yang menggelengkan kepalanya heran. Luna pun juga mengikuti Indra dari belakang.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu siapa?" tanya Luna yang semakin penasaran ketika dia mendudukkan pantatnya disofa Club. Dia semakin bingung ketika menatap dua pemuda yang aneh bagi nya.
"Mau bekerja sama dengan ku? maka aku akan memberitahu mu" Smirk Indra menyeringai
...********...
Dirumah Kirana, Teguh dan istri masih bertandang tanpa berniat pulang. Apalagi Karina yang memang tidak mau pulang. Dia ingin bertemu Zian lagi. Tekatnya untuk mendapat maaf dari Zian sudah sangat bulat. Bahkan Karina memaksa Kirana untuk membujuk Zian untuk bisa makan siang dirumah.
Dan saat ini Kirana dibuat pusing dengan bujukan Karina yang terus menerus meneror nya untuk menghubungi Zian agar mau makan siang dirumah. Karina tidak menyerah walaupun Kirana terus menolak untuk menghubungi Zian.
"Ayolah....Hum... Bujuk Zian pulang Ran! biar dia makan dirumah" rengek Karina. Ran hanya memijit pelipisnya.
"Ma.. Zian biasa pulangnya malam. Kalau siang, dia memang jarang pulang makan dirumah. Kecuali gak banyak kerjaannya"
Lembut Kirana menjelaskan kepada Karina. Tapi tetap saja perempuan paruh baya itu keras kepala dan memaksa Kirana menelpon Zian.
"Kalau gak, kamu telpon Zian aja Ran. suruh dia makan siang dirumah. Kita makan siang bersama sama" bujuk Karina lagi. Kirana hanya menarik nafas pasrah.
"Ya sudah, tunggu sebentar, aku ambil ponsel di atas" Ia berlalu ke atas mengambil gawainya, setelah menemukannya. Kirana kembali kebawah menenteng ponsel dan duduk disofa sambil mencari nama Zian dikontak ponsel.
Sebenarnya Kirana sangat tidak enak menganggu Zian. Apalagi Karina adalah seseorang yang saat ini tidak ingin ditemui Zian. Tapi dia juga tidak ingin mengecewakan Karina yang sudah berusaha meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengan Zian.
"Hufftttt.... Hhhhhh... " Berulang kali Kirana menarik nafas membuat atensi Teguh menatap padanya.
"Kamu kenapa Ran? apa terlalu berat menelpon Zian?"
Kirana semakin serba salah. Ia menatap sendu Teguh dan berusaha tersenyum tipis.
"Tidak ada apa apa pa" jawabnya berusaha tenang
__ADS_1
......********......