
...Sahabat bukan tentang siapa yang telah lama kamu kenal, tapi tentang siapa yang menghampiri hidupmu dan tidak pernah meninggalkanmu dalam situasi dan kondisi seburuk apa pun itu....
...Sahabat sejati akan muncul dan menghibur di saat kita hancur, bukan malah kabur di saat kita lebur....
...Karena itulah kami takkan pernah membiarkan kalian berdua menderita. Kalian berdua bagaikan sodara bagi kami. Yang selalu ada disaat kami susah. Kami akan mengembalikan kebahagian kalian lagi. Itu Janji kami bertiga....
...HE. RB. DAP....
...****************...
Dinda yang sedang sarapan pagi di sebuah cafe dekat kantor ZIHER Group merasakan getaran dari ponsel disaku celananya. Ia pun merogoh saku mengambil benda pipih tersebut.
Drrrtt.... Drrrttt..... Drrttt....
"Assalamu'alaikum... Iya ada apa Her?" jawab Dinda setelah ia tau yang menelpon Herry
Herry menjawab salam Dinda di seberang sana dengan terburu-buru seperti dikejar preman pasar.
"Wa'alaikum salam... Lu ada dimana sekarang Din? ayo kita ketemu" ucap Herry dalam satu tarikan nafas.
"Oh man... Calmdown, kenapa hah?" bukan menjawab Dinda malah balik bertanya
"Lu ada dimana gue tanya" geram Herry
Mendengar suara Herry yang kesal, Dinda mulai mengerjai Herry "Gue? Gue ada dimana? gue siapa?" canda Dinda cekikikan
"Lagi gak bercanda munaroh, gue serius ini" Herry menggigit giginya geram
"Munaroh gak ada disini, yang ada anak gadis satu-satunya pak Dendi Surya Putra. Dinda Ananda Putri" Kesal Dinda menggerutu
Herry tertawa diseberang sana mendengar gerutuan Dinda. Dinda memasang ekspresi wajah datar walau Herry tidak melihatnya sama sekali.
"Lu lagi apa sih Din?" tanya Herry masih dalam tawanya
"Lagi kayang, mau ikut lu?" Dinda semakin kesal mendengar tawa Herry.
"Hahahahaha..... Lu kesambet mbak kunkun kayang Din" tawa Herry kembali meledak. Rifal yang melihat Herry sebahagia itu langsung sendu.
"Sebahagia itu kamu dengan Dinda Her, apa yang harus aku lakukan?" Rifal membatin
__ADS_1
"Her, ada urusan penting apa sampe nelpon gue?" akhirnya Dinda pun berubah serius
"Dari tadi kek lu serius, gak bikin gue geram. Lu kasih tau posisi lu dimana. Gue sama Rifal nyamperin lu. Ada yang perlu kita lakukan" Herry juga berubah serius.
"Gue lagi di cafe depan kantor. Kalian berdua kesini aja! gue tunggu" ujar Dinda
"Oke sip. Kami meluncur komandan" kekeh Herry sambil menutup ponselnya.
Dinda menyeruput jus jambu nya sambil berpikir.
"Mereka berdua ada masalah penting apa sampai ingin bertemu dengan ku. Apa jangan-jangaan? udah stop berpikir aneh-aneh Dinda. Kembali ke kenyataan" batin Dinda sambil menepuk-nepuk kepalanya.
...****************...
Di sebuah taman.
Seorang wanita cantik sedang duduk termenung menatap hamparan danau di depan mata indahnya. sesekali ia menarik nafas berat. Sepertinya ia sedang banyak pikiran atau masalah yang menimpa, terlihat dari wajah cantiknya yang beraut sedih. Sesekali tangan kurus dan putihnya mengelus lembut perut ratanya.
Sedang asik merenung seorang perempuan paruh baya menghampiri wanita berparas cantik tersebut. Menepuk pundaknya pelan dengan menyunggingkan senyum teduhnya. Melihat senyum perempuan paruh baya itu membuat wanita muda itu sendu. Airmatanya seketika menetes, tapi dengan cepat ia menghapus sebelum perempuan paruh baya itu menyadari bahwa ada rasa bersalah yang menyelimuti hatinya.
...****************...
"Sabar atuh neng. Aa baru juga duduk" sahut Herry menggoda Dinda
"Aa... Aa... lu lagi gak waras ya Her? dari ditelpon tadi bikin gue darting mulu" gerutu Dinda yang mengalihkan pandangan ke Rifal yang juga ikut duduk di samping Herry. "Sohib lu ni ada masalah hidup apa sih Fal?" tanya Dinda lagi sambil menyeruput jusnya.
"Biasaa... Dia kan lagi gila karena ditinggal sohib tercinta balik ke Swiss" ujar Rifal membuat Dinda menyemburkan jus yang sedang di minum ke wajah Herry.
"Yaaak.... Lu gila, kenapa wajah tampan nan rupawan gue lu sembuur.. ck.. " Decak kesal Herry
Dinda dan Rifal yang mendengar perkataan narsis Herry pun tertawa terpingkal-pingkal. Herry tidak menghiraukan mereka berdua dan sibuk mengambil tissu membersihkan wajahnya yang belepotan jus. Puas tertawa Dinda pun menanyakan kenapa Zian kembali ke Swiss dan bagaimana dengan Kirana.
"Kenapa? kenapa Zian balik ke Swiss?" Dinda panik menarik dan mencengkram kerah Herry.
"Astaghfirullah, kenapa gue mulu jadi sasaran kebrutalan lu sih Din?" ujar Herry sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Dinda.
"Jawab dulu, kenapa Zian balik ke Negerinya?" teriak Dinda membuat Herry dan juga Rifal tercengang hingga susah payah menelan salivanya.
"Woow... Tenang dulu! gak payah teriak-teriak, udah kek di hutan aja" Ucap Herry dengan suara tak kalah lantang dari Dinda.
__ADS_1
"Kalian berdua sama aja" tutur Rifal sambil memandang Herry dan Dinda bergantian. Rifal membenarkan duduknya dan memandang Dinda lekat.
"Gini Din, gue akan menceritakan semuanya"
Rifal mulai menceritakan semua kejadian yang di alami Zian selama 3 minggu tanpa Kirana disampingnya. Bahkan cerita bagaimana kejadian yang menimpa Zian. Dan kecurigaan mereka bertiga terhadap wanita yang dipergoki mereka semua.
Herry dan Rifal ingin memulai misi mencari tahu dan mengusut kebenaran dibalik kejadian yang menimpa Zian. Apa benar Zian jujur dan benar-benar tidak selingkuh dan wanita itu adalah orang suruhan seseorang.
"Maka dari itu, ayo kita sama-sama mengusut hingga tuntas sampai ke akar-akarnya masalah ini" tutur Herry dengan penuh kobaran semangat
"Jadi kita main detektif-detektifan ini?" tanya Dinda dengan polosnya
"Astaghfirullah, masa main detektif-detektifan, serius ini. Kita usut sampai tuntas agar Zian dan Kirana bisa kembali bersama" ucap Herry dengan wajah datar.
"Iya... Gue juga bakalan minta bantuan sama temen-temen gue yang berada di kepolisian. Karena ini udah menyangkut pencemaran nama baik seseorang" tegas Rifal, yang disambut sorakan dan tepuk tangan Dinda dan Herry.
"Ya udah tunggu apalagi? kita langsung bergerak sekarang" semangat Herry membara lagi, mereka bertiga pun bangkit dan melangkah keluar dari cafe tersebut.
Ketika tiba di parkiran, ponsel Dinda berbunyi. Dinda melirik sekilas kemudian mengangkat telpon seseorang tersebut.
Drrrt.... Drrttttt..... Drrttttt.....
"Assalamu'alaikum Ran.. Ada ap-... "
Dinda terdiam, dia tidak mampu mengatakan apa-apa ketika suara isak tangis terdengar diseberang sana. Airmata juga ikut menetes, lidahnya kelu hanya sekedar menjawab panggilan diseberang yang sudah beberapa kali memanggil namanya dan menanyakan apa dia masih disitu.
"Aku akan segera menemui mu" hanya itu yang mampu keluar setelah sekian lama mendengar cerita dari si penelpon.
Herry dan Rifal yang melihat perubahan raut wajah dari Dinda pun bingung. Sampai Dinda mengajak mereka berdua untuk ikut bersamanya.
"Ayo ikut gue kerumah Kirana" ajak Dinda
"Untuk apa?" jawab Rifal
"Iya Din, ada apa?" sahut Herry
"Udah... kalian berdua jangan banyak tanya, ikut aja!"
Tanpa ba bi bu, mereka bertiga pun meluncur menuju kerumah Kirana.
__ADS_1
...****************...