
Setelah diputuskan dengan antusias oleh kedua wanita paruh baya kemarin. Malam ini di adakan lah acara syukuran rumah baru Kirana dan Zian. Tapi ada satu hal yang berbeda, di antara kerumunan di kediaman Zian dan Kirana. Karina nampak murung, ntah apa yang sedang ia pikirkan.
Teguh pun menghampiri istrinya. Seraya mengusap bahu Karina. Zian melihat tingkah aneh kedua orang tua angkat nya pun mendekati.
"Ma, Pa. Ada apa hum? kok sepertinya kalian berdua tidak bersemangat begitu?"
"Oh Zian, gak pa pa Zi, biasa mama lagi banyak pikiran"
Zian mendekat memegang tangan wanita paruh baya itu, yang sedikit pun belum mengerut. Malah wanita yang sudah dianggap seperti ibu itu masih sangat awet muda.
"Ada apa ma, cerita sama Zian!" Zian memaksa maka Karina pun menceritakannya semua kepada anak angkat nya itu.
(Flashback On)
"Darimana saja kalian baru pulang?"
Suara Indra menggelegar, ia yang berdiri di tangga bertanya tanpa sopan kepada kedua orang tua yang telah susah payah membesarkan dirinya.
"Yang sopan kamu Ndra sama orang tua, kami ini orang tua mu, bukan anakmu" Nasehat Teguh kepada anak semata wayangnya itu
"Sopan untuk apa? Kalian berdua saja sudah tidak mempedulikan ku, malah asik sama orang lain daripada aku"
"Maksud kamu apa nak? Mama sama papa kerumah nya ayah Chiko sama ibu Rita" jelas Karina
"IYAAA.... Ketemu Zian kaaaan?" Bentak Indra.
"INDRAA... " suara Teguh tak kalah tinggi dari Indra.
Teguh geram dengan kelakuan anak nya itu. Sedangkan Indra malah menatap Teguh dengan tatapan tajam penuh sorot kemarahan.
"APA? Omongan aku ada yang salah? " smirk Indra menyeringai.
__ADS_1
Karina mendekati Indra mengelus punggung tegap anak tercinta. Tapi Indra menepis tangan Karina dan mengatakan hal yang sungguh menyayat hati Karina sebagai seorang ibu untuk anak semata wayangnya.
"Jangan pernah sentuh aku! Kau sangat tidak pantas menyentuh ku lagi, kau seorang mama yang tidak berguna. Yang bisanya membuat ku kecewa"
Plaak...
Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi putih tegas Indra. Indra terdiam menatap orang yang menampar nya. Bukan Teguh tapi Karina yang mendaratkan telapak tangan untuk Indra. Karina tidak sengaja, ia refleks setelah mendengar kata-kata kasar dari Indra anak yang sangat ia cintai.
Melihat Karina tega menamparnya, Indra semakin membenci dan marah kepada orang tua nya. Dengan emosi membuncah, ia keluar dari rumah dan membanting pintu. Karina sudah berteriak meraung menangis memanggil nama Indra. Indra buta mata dan hati tanpa peduli mama nya sudah menangis.
"Sayang.... Indra... Nak... " teriak Karina memanggil dan mengejar Indra
"Ma...! " Teguh berusaha mengejar Karina.
"Jangan dikejar Indra nya, biarkan dia pergi, dia butuh waktu"
"Tapi Pa"
"Udah Ma.... Biarin Indra tenang dulu. Nanti juga dia bakalan pulang kesini lagi, dia kan gak punya teman disini selain Ran dan Dinda" ucap Teguh sambil memeluk Karina. Tanpa tau bahwa anak nya itu punya tempat tujuan lain.
"Udah 2 hari Indra gak pulang kerumah, Mama dan Papa udah coba menelpon dan mencari dia, tapi hasilnya nihil. Kami berdua tidak tau dia dimana dan tinggal dimana" ucap sendu Karina dengan mata berkaca-kaca
"Apa Papa dan Mama gak mencoba mencari dia di club malam?"
Ucapan seseorang membuat ketiga yang sedang berbicara itu pun tersentak lalu menoleh ke asal suara. Terlihat Herry berjalan ke arah mereka bertiga. Ya, orang itu adalah Herry yang menyarankan untuk mencari Indra di sebuah Club. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Indra memang sering sekali mengunjungi Club atau pun Bar di kota mereka itu.
"Herry... Lu kok nyaranin cari ke tempat seperti itu sih?" Dinda ikut mengangkat suara apalagi ini mengenai Indra sahabat nya dan Kirana.
Dinda tidak yakin kalau Indra berada di Club ataupun Bar. Walau bagaimana pun ia tetap berpikir positif terhadap sahabat nya itu.
"Lu gak tau Indra itu gimana. Jadi, gak usah berpikiran positif Indra gak bakalan kesitu, karena sudah pasti Indra bakalan ke tempat haram itu"
__ADS_1
"Lu kenapa sensi banget sih sama Indra? Indra ada berbuat apa sih sama lu?" Dinda membela Indra, walau sebenarnya tidak ingin.
Adu mulut antara Dinda dan Herry pun terjadi. Dinda tetap keukeh membela Indra. Menyakinkan diri bahwa Indra gak mungkin begitu. Kirana dan kedua orang tua nya pun melihat perdebatan yang ditengahi oleh Zian. Kedua orang tua Indra hanya menjadi penonton di antara perdebatan itu.
"Lu kenapa keras kepala banget sih? Hampir 4 tahun kami tinggal sama-sama. Gue udah tau sifat dia luar dalam" geram Herry
"Heleeeh.... Baru juga 4 tahun, gue udah dari SMP sampe kuliah ya sama-sama. Indra itu gak bakalan ke Club malam, dia benci Alkohol" ucap Dinda dengan mata melotot.
Herry geram dan geregetan, jadi dengan lantang ia berteriak.
"DIA ITU PLAYBOY di Texas" teriak Herry
Zian yang menyadari kalau Herry akan membuat Karina dan Teguh sedih, apalagi dengan kenyataan yang akan keluar lagi dari mulut Herry selanjutnya. Jadi dengan sigap ia langsung membekap mulut Herry.
"Hmm.... aayaknha anyak dihmmm... hhhmmm... "
teriak Herry dalam bekapan tangan Zian.
Herry bahkan sudah menjilati telapak tangan Zian. Zian tetap tidak bergeming. Ia menarik Herry ke atas dimana letak kamar Herry berada. Kedua orang tua Indra hanya menatap sendu kepada anak muda yang sedang bergulat itu.
"Memang Indra sering mabuk-mabukan" Batin Teguh semakin menyorotkan kesedihan di mata, apalagi hatinya sekarang dipenuhi banyak beban.
...*******...
Di sebuah Club yang menyediakan ruangan untuk orang-orang yang membutuhkan kamar sekedar melepas penat atau untuk melakukan dosa dengan para wanita panggilan. Indra sedang dipengaruhi Alkohol ditemani seorang wanita yang tak lain adalah Luna.
Mereka sedang memadu kasih tanpa peduli resiko yang akan terjadi. Indra yang dipengaruhi oleh Alkohol pun tak menyadari perbuatannya kepada teman sekaligus partner nya dalam melakukan sebuah rencana.
"Ran.... Sayaang... ah... Aku sangat mencintaimu"
Bibir Indra terus memanggil wanita yang sangat ia cintai sekarang. Sedangkan Luna juga sudah dipengaruhi Alkohol. Dia melakukan karena sudah tidak mengetahui apa yang terjadi dengan tubuhnya sendiri yang sudah dalam kungkungan Indra.
__ADS_1
Mereka mendesah dan menikmati malam tanpa tau, dengan siapa mereka melakukan itu. Luna hanya mengikuti irama yang terjadi. Indra masih dalam halusinasi bahwa ia sedang melakukan nya dengan Kirana.
...*********...