
...Lagi-lagi menyesakkan dada, benar-benar luar biasa. Dia menghilang bagaikan buih di sapu ombak lautan. Aku merindukan nya, rasa sesak di dada seakan menekan dan itu sakit. Apa aku harus kembali menginjak kaki di Negara tercinta?. Ah sudahlah, lupakan dia dan semuanya....
...Zian Avicena...
...****************...
"Curuts, lu berdua bisa hubungi Zian gak sih?" Dari arah belakang dengan menenteng minuman Herry berujar kepada Dinda dan Rifal
"Curut...curut.... apaan tuh panggilan" gerutu Dinda mendelik kearah Herry
"Bukan curut, tapi curuts. Ada S nya di ujung, berarti Jamak untuk kalian berdua" penjelasan Herry sukses membuat Rifal dan Dinda ternganga dan menggeleng kepala mereka.
"Astaghfirullah, apaan itu lagi," heran Rifal "Udah lupain masalah curut maupun cecurut, kita lagi cari solusi loh buat masalah Zian, dan titik terangnya hampir kita dapatkan, tapiiii....cara menghubungi Zian gimana nih? ada ide kagak sama kalian?"
Dinda, Herry dan Rifal memang sedang duduk di taman dekat dengan rumah Kirana. selepas meminta izin pulang dari rumah Kirana, mereka bertiga duduk di taman sambil berembuk apa rencana yang harus mereka tempuh setelah ini.
"Gue benar-benar curiga sama si Indra, cuma belum Nemu buktinya aja" ujar Rifal menengadah kan kepalanya ke langit.
"Haduuuuh" teriak Herry membuat Dinda dan Rifal terlonjak kaget
Plak.......
"Lu gila hah? teriak-teriak kek lagi di hutan" pekik Dinda spontan menampol pipi Herry seketika membuat Herry meringis kesakitan
"Lu yang gila, sembarangan nampol pipi mulus nan tanpa cacat milik gue ini" suara Herry tak kalah kerasnya dari pekikkan Dinda
__ADS_1
"Lama-lama gue didekat lu Her, bikin gue darting mulu, gak ada bahagianya gue disamping lu" ceplos Dinda tanpa melihat perubahan raut wajah Herry yang tiba-tiba berubah sendu.
"Ya udah, gak usah deket-deket gue" lirih Herry yang ditatap oleh Rifal.
Rifal menarik nafas berat dan berkata "Huftt....tidak bisakah kita sehari aja itu sedikit damai dalam berdiskusi masalah kita. Kedua sahabat kita lagi butuh bantuan kita, kenapa sih gak bisa serius walau sejam? Ini lagi gak main-main loh" ucap Rifal mengeraskan gerahamnya membuat Dinda dan Herry terdiam seketika.
"Oke, oke. Kita kali ini harus serius, jangan bercanda atau menyela dan menyeletuk lagi" ucap Herry berubah menjadi serius.
Mereka bertiga pun berdiskusi secara serius walau sesekali tingkah Dinda sukses buat kedua pemuda itu tertawa. Dinda tidak menyadari bahwa kedua pemuda yang selalu disampingnya ini menyimpan rasa untuknya.
...****************...
Zian bersiap-siap hendak ke kebun apel milik kedua orang tuanya, tujuannya adalah membantu orang tuanya memanen buah-buah apel yang mulai bisa di petik. Dia berangkat bersama Mommy dan juga Daddy nya.
Tak tahan melihat sikap anaknya begitu Claire, mommynya Zian pun bertanya. "Zi, Kamu kenapa banyak sekali melamun dan suka menyendiri sekarang?"
"Haah?" Zian yang asik dengan pikirannya tak mendengar apa yang di ucapkan Claire.
"Kamu tak mendengar apa yang mom tanyakan?" Diego dibuat bingung sama Zian.
"Gak dad" jawab Zian singkat
"Hadeeh, seperti nya tubuh aja yang disini. Hati di Indonesia" celetuk Claire membuat Zian tersenyum lirih
"Pulanglah kalau kamu merindukan dia!" saran Diego membuat Zian bersedih
__ADS_1
"Sepertinya itu tak akan terjadi Daddy, aku tak ingin pulang karena rumah kedua ku sudah tak menginginkan aku lagi" ucapan Zian membuat Claire berhenti melangkah
"Kamu yakin dia sudah tak menginginkan kamu lagi?" tanya Claire memandang punggung Zian.
Zian dan Diego juga berhenti melangkah kan kakinya tak kala mendengar suara Claire ternyata di belakang mereka.
Zian berbalik dan menatap lekat kearah mommynya. Menunduk dengan segudang kekalutan di pikirannya. Rasa rindu kembali menyeruak di dadanya yang membuat ia sesak, sehingga membuat sebening kristal menetes di pelupuk mata biru nan indahnya.
Claire panik melihat putra semata wayangnya menangis sesegukan didepannya, dengan penuh kasih sayang, Claire memeluk dan menenangkan putranya itu
"Jangan menangis, kamu harus kuat! bukankah dulu kamu seseorang yang sangat kuat dan hebat dalam menghadapi setiap masalah" ujar Claire menguatkan
"Ta-api mom, Cinta ternyata merubah kita menjadi lemah dan rapuh" jawab Zian dalam Isakannya
"Cinta juga akan membuat kuat dan semangat dalam memperjuangkan nya, apa kamu sudah berjuang demi cintamu?" pertanyaan Claire membuat Zian menatapnya dengan sendu
Sudah banyak kali Zian berjuang demi cintanya, tapi kali ini dia sudah menyerah. Rasa sakit dari luka di hatinya sudah kepalang tergores dan menganga. Tidak pernah jatuh cinta, sekali jatuh cinta malah patah dan tenggelam di dasar jurang yang dalam.
"Aku tak akan selemah ini jika tak begitu sakit. Sudah lah mom, lebih baik kita lupakan saja, aku akan tetap bersama kalian untuk beberapa waktu"
Zian melangkah meninggalkan Claire dan Diego yang saling melirik menatap satu sama lain, kemudian mengikuti langkah kaki Zian.
...****************...
up sebulan sekali ðŸ¤ðŸ¤ UPS sorry...
__ADS_1