
Drrrt.....Drrrrt.....
Getaran ponsel Kirana membangunkannya dari tidur. Ia melenguh sebelum mengangkatnya.
"Eeunnghh....Assalamualaikum" suara seraknya khas orang bangun tidur terdengar.
"Ran, ini mama Karin, kau bisa tidak datang kerumah bersama Zian?" Ternyata yang menelpon adalah mamanya Indra.
"Oh...ada apa ma?" Kirana langsung melek mendengar suara mamanya Indra, tidak biasanya Karina menyuruhnya kerumah.
"Datanglah, ada hal penting yang harus kau ketahui, datang bersama Zian, orang tua mu juga sudah disini" Ucap Karin lagi.
"Oke ma" Kirana pun bangun, membersihkan diri. Setelah itu berniat menuju kamar Zian, ternyata Zian tertidur di sofa depan televisi. Ia pun menepuk lengan Zian membangunkan nya.
"Zian, Zian...bangun,!" ucapnya lembut. Zian pun mengucek matanya dan menatap Kirana
"Ada apa?" tanya nya setelah kesadarannya terkumpul
"Tadi mama Karin telpon, dia menyuruh kita berdua datang kerumah, katanya ada hal penting yang harus kita ketahui" jelas Kirana.
"Hal penting apa?" Zian mengernyitkan dahinya bingung, Kirana mengedikan bahunya tanda tak tau.
"Ya sudah kau mandi sana, aku tunggu" ujar Kirana.
Zian pun bangkit menuju kamar mandi. 20 menit berlalu, setelah siap mereka berdua pun berangkat menuju kerumah Indra.
...*******...
Zian dan Kirana tiba dirumah Teguh Jaya, Zian melihat dua mobil terparkir di halaman rumah Teguh Jaya tersebut. Mobil milik mertua nya dan milik Teguh ayah Indra.
Mereka berdua pun melangkah masuk. baru didepan pintu, seseorang yang tidak Kirana kenal berlari pelan ke arahnya dan menubruk memeluknya erat. Zian terkesima.
Grep......
"Aku sangat merindukan mu Kirana"
Deg.....
Suara ini, suara yang sangat familiar, Kirana sangat mengenal suara ini. Ini suara Indra. Kirana tersentak kaget, ia melepas pelukan Indra menatap lamat mata bening Indra.
"I-Indra...?" tanya Kirana terbata bata.
"Iya...ini aku, ini aku sahabat mu, Indra"
Airmata Kirana mengalir deras, ia kembali memeluk sahabat yang telah menghilang selama hampir satu tahun tersebut. Dan melupakan fakta bahwa sekarang dibelakang nya berdiri seseorang dengan rasa sakit yang mendalam melihat Kirana memeluk orang lain.
"Indra...Alhamdulillah...kau masih hidup" ucap Zian dengan rasa senang. Ia benar benar senang melihat Indra masih hidup.
__ADS_1
Indra melepas pelukannya dari Kirana dan menggenggam tangan Kirana erat, matanya nyalang menatap Zian, dan sejurus kemudian, Indra membentaknya.
"Ini semua salah kau...karena kau, aku terjebak di gedung itu" Teriaknya nyaring
Zian tidak mengerti maksud Indra, apa salahnya? Ia mengernyitkan dahi dan balik bertanya.
"Apa maksud mu? aku tidak mengerti sama sekali"
"Ciiih...Kau pura pura tak mengerti? apa karena kau takut Kirana dan keluarganya tau kebusukan mu?" decih Indra bersmirk sinis.
"Demi Allah, demi Rasulullah, aku benar benar tidak tau apa yang kau bicarakan?" Zian panik, dia benar benar tidak tahu apa maksud dari Indra.
"Sudah Zian, kau jelaskan saja kenapa kau meninggalkan Indra digedung itu, Indra mengatakan pada kami bahwa kau meninggalkannya" sinis Karina mamanya Indra.
...******...
Kirana menangis, ia menatap Zian dengan wajah yang sulit di artikan, Zian menatap hangat ke arah Kirana.
Ia tidak takut sama sekali, karena memang ia tidak punya kesalahan yang dituduhkan Indra padanya.
"Aku tidak pernah meninggalkan Indra di gedung manapun, bahkan Indra yang meninggalkan ku ketika situasi sedang kacau," Bantah Zian pelan, ia menatap Indra tajam.
"Aku menganggap mu saudara ku Indra, tapi ternyata kau malah membalikkan fakta yang sebenarnya, apa kau mau aku menjelaskan secara detail kepada orang tua mu sekarang?" Ancam Zian masih menatap tajam ke arah Indra
"Ahahaha....kau pintar sekali bermain kata Zian, aku akan memaafkan mu kalau kau bercerai dari Kirana"
Jedaaaar.....
"Aku takkan pernah menceraikan Kirana" jawab Zian datar
"kau yang meninggalkan Wasiat yang harus aku penuhi, dan kau juga yang datang dan ingin aku menceraikan Kirana? orang macam apa kau ini?" sambung Zian lagi.
Indra berkacak pinggang marah, Karina sang ibu pun menyahut.
"kau..kau mengatai anak ku orang macam apa? kau sendiri orang macam apa? anak dari keluarga broken home, datang kesini tanpa apapun, hanya berbekal sebuah kertas tidak berguna, menikahi wanita baik baik, kami bahkan melimpahi mu kasih sayang tanpa tahu bahwa kau lah yang membuat anak ku menderita, bahkan pulang pulang dengan wajah baru"
Ucapan Karina menusuk dan menohok hati Zian. Ia tak menyangka, wanita yang sudah seperti mama kandung baginya melontarkan kata yang sangat menyakitkan.
Zian memandang Chiko dan Rita juga Kirana,. Apakah selama ini ia hanya benalu yang masuk ke kehidupan mereka.
Memang selama ini dia tidak menunjukkan kesuksesan nya membangun sebuah perusahaan di Kota mereka, dan hanya bekerja di perusahaan milik Teguh Jaya. Karena ia menghormati Teguh Jaya yang memaksanya mengelola perusahaan bersama dengannya. Tapi ia diam diam membangun perusahaan bersama Herry, tanpa siapapun yang tau.
"Papa...Jadi selama ini aku hanyalah benalu di kehidupan kalian? ayah ibu jelaskan padaku?" tanya nya tanpa menatap Kirana maupun mamanya Indra. Sedangkan Indra bersmirk senang melihat kekalahan Zian.
"Kenapa kalian diam saja? berarti apa yang dikatakan mama adalah benar adanya?" sambungnya lagi.
Rita menangis, ia menangis sekarang, pilu rasanya melihat menantu yang sangat ia sayangi di hina di depan matanya, dan dia sendiri tidak bisa membelanya. Karena ia bimbang, setelah mendengar cerita Indra ia ragu dengan ketulusan menantunya sendiri.
__ADS_1
"Sudah berdramanya, dan jangan pernah panggil aku mama lagi, aku tidak sudi dipanggil seperti itu oleh mu"
"Ceraikan Kirana, aku akan menikahinya" Zian beralih menatap Indra yang masih bersmirk sombong.
"Kemana sahabat ku yang dulu? apa yang ku lakukan padamu sampai kau begitu kejam padaku?" Zian sekarang menangis, setelah sekian lama ia menahan nya.
Kirana terisak, hatinya semakin perih melihat airmata menetes di pelupuk mata Zian. Dia masih mematung tanpa mengucapkan apa apa. Melihat Kirana menangis, Zian pun berinisiatif ingin mendekatinya. Tapi Indra memukul Zian.
Buuugh....
Sebuah pukulan mendarat di pipi Zian. Zian pun terhuyung kebelakang tersungkur dilantai, Kirana berteriak dan menghentikan Indra dengan memeluk badannya. Zian menatap nanar kearah Kirana. Mengapa Kirana bukan membantunya, tapi malah memeluk Indra. Rita mendekati Zian membantu Zian berdiri.
"Apa apaan kau Ndra, memukul menantu ku sembarangan" bentak Chiko. Chiko yang sedari tadi diam angkat suara.
"Loh ayah membela laki laki kurang ajar ini, dia telah membuat Indra hampir kehilangan nyawa, bahkan wajah Indra harus di operasi untuk itu" ucap Indra berkaca kaca.
"Aku baru mendengar cerita dari sisi mu, belum dari sisi Zian" tegas Chiko, Indra panik, bahkan sangat panik.
Deg.....
"Ayah gak percaya dengan perkataan ku? buktinya sudah ada, aku sendiri jadi buktinya" bela Indra
"Iya loh pak Chiko, kenapa kau malah membela orang asing yang baru setahun mengenal mu, kami ini sudah seperti keluarga untuk mu" Karin juga berbicara.
Tidak dengan Teguh, ia hanya diam mengamati suasana, ia seperti mengetahui sesuatu. Rita juga begitu, ia hanya bisa menangis melihat nasib anak dan menantunya, ia tidak mau Kirana bercerai menjadi janda dimasa muda.
Disisi lain, Zian masih menatap nanar kearah Kirana, sejurus kemudian ia tertawa miris, dari tadi ia ingin melihat Kirana membelanya atau sekedar membuka suara mencegah agar mereka tidak bercerai. Tapi harapannya tidak sesuai sama sekali, jadi ia pasrah. Toh selama ini ia tau bahwa Kirana tidak pernah mencintainya.
Lain Kirana, di hatinya saat ini penuh dengan kebimbangan, ia mencintai Indra tapi bukan lagi Cinta seorang Wanita untuk seorang laki laki, tapi Cinta seorang sahabat.
Hatinya sekarang penuh dengan nama Zian. Tapi ia egois untuk sekedar mengakuinya. Dan ia juga yakin Zian tidak akan pernah menceraikannya, setahunya Zian sangat mencintainya. Namun keyakinannya pun runtuh setelah Zian mengucapkan sesuatu yang akan membuatnya menyesal seumur hidup.
"Aku akan menceraikan Kirana secepatnya"
Jedaaaar.....
Bagai petir di siang bolong, Kirana tertegun. Bukan hanya Kirana, Rita, Chiko dan Teguh pun sama. Hanya Indra dan Karina yang tersenyum kemenangan.
Setelah mengatakan itu, Zian pun berlalu pergi dari rumah keluarga Teguh Jaya. Tersadar Zian telah pergi, Kirana baru mengejarnya dan tidak menemukan siapa siapa lagi. Zian bahkan tidak membawa mobilnya.
Kirana luruh ketanah dan menangis sejadi jadinya. Rita mendekati Kirana dan memeluknya erat. Indra hanya menatap Kirana penuh dengan pertanyaan.
'Apakah mungkin Kirana mencintai Zian?' batinnya, tapi ia menggeleng gelengkan kepalanya, menepis kemungkinan itu.
...****...
...Ayooo....siapa yang nangis bacanya, author juga nangis pas nulis..ckckck...sedih nian nasib Zian.....
__ADS_1