The Crazy Testament

The Crazy Testament
Siapa Dalangnya? II


__ADS_3

"Kurang ajar, kita dipermainkan. Hajaar diaa!!" teriak pemuda pendek.


"Baang....dari episode di Ikuti II sampe episode ini masih aja teriak Hajar, gak bosen lu bang? eh" gerutu Zian


"Lu ngebacot apa sih? gak nyambung banget" pemuda pendek memiringkan kepalanya bingung.


"Udah bang gak usah d tanggepin, authornya lagi geser otaknya" Zian mendelik


"Ini anak emang udah gila, udah bang gak usah di dengerin, kasih pelajaran aja dia" seru pemuda cungkring


"Eh jan kasih pelajaran susah ya kek Matematika, gak suka gue, kepala otak gue gak bisa mikir kalau Matematika" Ucap Zian sambil mengetuk ngetuk telunjuk sama telunjuk tangannya dan bertingkah layaknya anak kecil.


"Astaga, kenapa kita dapat mangsa otaknya geser begini" geram pemuda cungkring frustasi


"Ya udah bang, makanya lepasin gue, gue mau antar sohib gue ke Bandara udah tertahan disini sampai 15 menit begini" ujar Zian memelas.


"Heh...gue mau bikin lu ko'id malah minta lepas, lu bener bener ya bikin kesabaran gue habis" balas pemuda pendek


"Bang abang ini disuruh siapa sih? siapa dalangnya?"


"Lu gak perlu tau" pemuda cungkring mendekati Zian di ikuti oleh pemuda pendek.


Zian sekarang terpojok, dia tidak bisa melawan dua orang sekaligus, tapi pikiran dia masih kepada Herry, ia takut tidak bisa dengan tepat waktu mengantar Herry ke Bandara.


"Lu kenapa diam? udah pasrah dengan hidup lu?" tanya pemuda cungkring


"Ini si abang gak konsisten 'kali, gue ngomong dibilang banyak bacot, gue diam dibilang pasrah, mau bang abang apa sih?" gerutu Zian menatap tajam kearah kedua pemuda tersebut.


"Ya salam, mimpi apa kita semalam, dapat perintah ngebunuh kok ya modelan gini sih"


Kedua pemuda suruhan Indra benar benar frustasi sekarang, bahkan mereka berdua sudah duduk sambil berjongkok tidak kuat menghadapi kekonyolan Zian.


"Bang abang mau minum gak? kelihatannya capek banget, kalau mau hayuk aku traktir" ajak Zian,


Mereka berdua menatap Zian jengah, kemudian bangkit memasang kuda kuda akan menyerang.


"Sekarang gue serius," ucap pemuda pendek maju berusaha menyerang Zian.


Zian juga tak mau kalah, dia kali ini juga serius. Serangan demi serangan bertubi tubi datang. Zian sudah beberapa kali kena pukulan dari kedua pemuda suruhan itu.


...******...


Drrrt.....Drrrtttt....

__ADS_1


"Siapa sih yang nelpon?"


Monolog seorang perempuan yang sedang makan disebuah Resto dengan seorang pemuda manis berkulit sawo matang. Pemuda manis yang tak lain Rifal hanya menatap perempuan yang menggerutu yang juga tak lain adalah Dinda.


Dinda menatap layar ponselnya, setelah menatap sebentar, ia pun memindahkan tombol merah kehijau.


"Assalamu'alaikum Her ada apa?"


"Wa'alaikum salam, Ada nomor Kirana gak sama lu? kirim bentar sama gue!"


"Untuk apa nomor Ran? ada masalah apa?"


"Kepo banget sih lu,"


"Kasih tau gak, kalau gak, gue gak kasih nomor Ran"


"Oke fine....Zian janji anterin gue ke Bandara, tapi dia gak muncul dari tadi, terpaksa gue naik Taxi online," gerutu Herry


"Lu serius? kemana si kulkas pergi?" bingung Dinda


"Mana gue tempe," Kesal Herry


"Tahu nya kagak ada bang? hehe...Ya udah, bentar gue kirim"


"Astagfirullah, Ziaan...Pak stop stop...itu saudara saya lagi di hajar itu" teriak Herry,


"Her....Her....siapa yang di hajar? Herry?"


"Eh ya Din, nanti aku telpon lagi, Zian lagi berantem itu sama dua preman, bye"


Tut.....tut....tut...


...*******...


"Ini bule gak da Kom, gak da Lam langsung dimatiin" kesal Dinda


"Ada apa memang? tadi gue dengar sekilas sekayaknya Herry minta nomor Ran? ada urusan apa?" tanya Rifal bertubi tubi


"Aku juga kurang paham ini, tadi tiba tiba aja si Bule sengak teriak manggil nama Zian dan bilang kalau Zian lagi berantem gitu, kok gue jadi khawatir ini" raut wajah Dinda berubah cemas.


"Ya udah kita susul Herry aja, mungkin dia di sekitar jalan Apartemen dia, dan lu coba hubungi Ran" usul Rifal.


Mereka berdua pun beranjak bergegas ke parkiran, Rifal mengemudi dengan kecepatan tinggi dengan Dinda yang terus berusaha menghubungi Kirana.

__ADS_1


"Ya salam, ini anak pasti gak megang ponsel. Kalau udah begini kacau urusannya" ujar Dinda panik


"Heh....santai aja, lu kalo panik bikin gue juga panik, coba lu telpon ayah atau ibu..!" saran Rifal lagi, Dinda langsung tersenyum cerah.


"Ya Allah, kok gue gak mikir sampai kesitu ya, dasar otak ayam" ejek Dinda untuk diri sendiri.


"Lah, malah ngeledek diri sendiri, udah cepat telpon ayah!"


Dinda pun menekan nomor Chiko dan tidak berapa lama Chiko mengangkatnya.


"Yah, ayah dimana?" tanya Dinda tanpa mengucapkan salam.


"Assalamualaikum dulu Din, kenapa langsung nyerocos tanpa salam ini?"


"Astagfirullah yah, panik yah, panik banget ini,"


"Ada apa memangnya? ayah lagi dijalan ni baru pulang dari rumah Indra sama ibu dan Ran"


"Ngapain ayah, ibu dan Ran kerumah cowok gila itu? ada urusan apa lagi larut malam begini?"


Ya salam, Dinda malah kepo urusan Chiko kerumah Indra dan melupakan tujuan awalnya mau memberitahukan masalah Zian yang berantem dengan preman.


"Ayah ada urusan dengan kedua orang tua Indra, kamu nelpon ayah ini ada apa sih?"


"Ada apa sih yah sama Dinda?" di seberang Rita bertanya


"Astagfirullah kan lupa, ini yah, mau kasih tau kalau tadi Herry bilang Zian lagi berantem sama dua preman di pinggir jalan"


"Astagfirullah, kamu serius?" pekik Chiko di seberang membuat Dinda sedikit menjauhkan ponselnya.


"Yah...ada apa?" Terdengar suara Kirana yang juga ikut panik.


"Yah, gini aja kita telusuri jalan rumahnya Herry, Ran tau jalan rumah Herry, nanti kita ketemu disana atau nanti aku hubungi ayah lagi. Ayah jangan panik dulu, bilangin Ran juga, karena kita belum tau ceritanya."


Dinda sedikit menenangkan Chiko di seberang sana, agar tidak perlu cemas.


"Ya sudah, tolong kabar kabari ayah, ini ayah menuju kesana"


Dinda memutuskan percakapan mereka, dan menyuruh Rifal mempercepat laju mobilnya.


...*******...


...**Hallo readersnim kesayangan aku......

__ADS_1


...terima kasih sudah like dan koment dan berharap ada votenya...hehehe...Selamat membaca**......


__ADS_2