The Crazy Testament

The Crazy Testament
Mulai Mesra


__ADS_3

Zian sudah berada didapur mencari stok mie instan yang di punya Rita. 5 menit mencari cari pucuk dicinta ulam pun tiba, mie nya ketemu.


"Yeees....ketemu.. Mie Indo selera kuuu" Zian bersenandung senang.


"Hon, masak satu aja, jangan banyak kali, nanti sakit perut"


Kirana mengingatkan Zian yang sekarang memegang tiga bungkus mie instan tersebut. Sedari tadi Kirana membuat hati Zian tak karuan ini, tadi Sayang sekarang Honey, Zian mendelik menatap Kirana tajam.


"Ada apa hum? kok natapnya gitu amat?" sambung Kirana lagi


"Sekali lagi kamu panggil aku dengan mesra begitu, awas kamu" tunjuk Zian memanyunkan bibirnya


"Hehe....awas apa? kamu mau apain aku hayooo?" Kirana terkekeh geli melihat Zian ketar ketir dibuatnya.


"Ya Allah, berikanlah aku kekuatan..!!, yang dibawah sana, pleasee sabar" Batin Zian, ia tidak mempedulikan Kirana lagi, ia fokus memasak mie, perutnya sudah minta di isi dari tadi.


...******...


Disisi lain, Herry sedang packing dan prepare menyiapkan segala hal untuk keberangkatannya ke london. Gawainya di atas nakas berdering tak karuan, ia melihat Rifal lah yang membuat ponselnya berisik.


Drrt...drrrt...drrt...


"Assalamualaikum, bro dinner diluar yuk"


"Wa'alaikum salam, maaf bro, gue gak bisa"


"Kenapa gak bisa huh? Memangnya lu ada urusan apa?"


"Gue lagi prepare dan packing ini, mau pulang ke London"


"What...lu bercanda kan Her,? Gila lu mau ninggalin kita?"


Suara Rifal menggema di seberang membuat Herry menjauhkan ponsel dari telinga.


"Ya salam, suara lu Fal bikin gue pekak"


"Ya lu jelasin dulu kenapa mau ke London?"


"Herry mau ke London? untuk apa?"


Seseorang bertanya, suaranya sangat familiar di telinga Herry,.

__ADS_1


"Itu Dinda ya Fal?"


"Oh iya,. Makanya gue ajak lu dinner, karena Dinda ajak dinner diluar"


"Gue gak bisa Fal, satu jam lagi gue harus ada di bandara,"


"Lu mau ninggalin kita,? gila lu, ke London gak bilang bilang" Dinda berteriak


"Lah, ngapain bilang ke elu? elu siapanya gue?"


Dinda terdiam, pertanyaan Herry membuat hatinya tercubit sakit. Herry benar, dia siapanya Herry hingga Herry harus melapor padanya.


"Gue memang bukan siapa siapa lu, tapi setidaknya lu kasih tau gue karena gue dan Rifal kan sahabat lu."


"Oke, ini kan kalian sudah tau, ya udah kalian dinner berdua aja, sekalian ngedate"


Ntah kenapa, ada rasa sakit yang menjalar di hati Herry ketika mengatakan 'sekalian ngedate'.


"Lu lama di london?"


"Belum tau ini, mungkin untuk selamanya"


"Lu gila, kalau lu gak balik lagi kesini, jan harap gue mau jadi sahabat lu lagi, ini gue disini, lu nya yang pergi"


"Hadeuh...berisik lu"


Tut....tut...


Herry mematikan ponselnya, dan mulai mepacking lagi,. Sedangkan Rifal dan Dinda diseberang sana geram dengan tingkah Herry yang mematikan ponselnya, berulang ulang Rifal mendial nomor Herry kembali. Nomor tersebut tetap tidak aktif.


"Ini anak bener bener sudah gila"


Kesal Rifal,. Dinda hanya menatap sayu keluar jendela mobil, ada perasaan gak tenang ditinggal Herry, ntah perasaan apa itu, bingung sama perasaannya saat ini.


...******...


"Yeees....siap juga Mie kuah ala chef Zian" Senang Zian sambil menenteng semangkok mie lengkap dengan onderdilnya.


Kirana menatap semangkok mie punya Zian itu dan berkata


"Kamu cuma bikin semangkok? cuma buat kamu doang? buat aku mana?"

__ADS_1


"Eh...lah,... Tadi kamu ngelarang aku makan mie, aku pikir kamu gak suka sama mie" Zian bingung, bukannya tadi dia berkoar koar gak boleh makan mie? kenapa malah sekarang ingin.


"Aku bukan ngelarang, tapi cuma gak boleh makan banyak banyak loh, kamu mah gitu" rengek Kirana, Zian melongo tak percaya, sejak kapan Kirana bisa semanja ini sama dia.


"Hmm...." Zian mengangkat mangkok mie dan menaruhnya di meja.


"Ya udah, kita makan semangkok berdua aja" ajak Zian, lalu kembali kedapur mengambil sesuatu.


Kirana tersenyum senang, ia tak menyangka Zian bisa seromantis ini, makan mie semangkok berdua, kayak dalam lagu aja, makan nasi sepiring berdua.


"Romantis banget sih kamu" Kirana menoel hidung mancung Zian ketika Zian sudah berada di hadapannya lagi.


"Heeeh....Bukan dalam mangkok itu makannya, tapi dalam ini"


Zian mengangkat dua piring kecil dan dua sendok yang berada di kedua tangannya. Kirana jadi tersipu malu, pikirannya salah sedari tadi, dia pikir mereka akan makan semangkok dan saling suap suapan. ahaha


"Wait...jangan jangan kamu berpikir kita bakalan makan semangkok berdua?" Terka Zian


"Gak...mana mungkin aku berpikiran seperti itu, ya gak lah" sanggah Kirana cepat.


Sedetik kemudian, Zian tertawa terbahak bahak. Dia tau bahwa tebakan dia betul. Melihat Zian tertawa lepas, Kirana tersenyum berbinar, sudah lama ia tidak melihat Zian tertawa lepas seperti itu.


"Ahahahaha....ahahahaha.... kentara banget bohongnya, kalau mau bohong jan kentara banget..Ahahahaha" Zian memegangi perutnya sangking kerasnya ia tertawa.


"Oke, nistain aja aku, nistain...! rela aku mah, rela...demi kau dan sibuah hati...eh" Kirana tanpa sadar mengucapkan itu


Zian berhenti tertawa, menatap hangat ke mata Kirana. Ia berjalan ke arah Kirana dan..


Greep...


Zian memeluk Kirana erat, bahkan sangat erat. Kirana yang mendapat pelukan gitu, kaget. Tapi dia membalas pelukan Zian. Lama mereka saling berpelukan.


"Sayang, apa kita akan terus begini? nanti mie kamu ngembang loh, udah gak enak lagi nanti."


Kirana mengingatkan Zian, membuat Zian tersentak.


"Ya ampuun, lupa.. kita makan sama sama. satu mangkok berdua"


Kirana mengangguk cepat, mereka berdua duduk dan menyantap mie dengan nikmat dan sesekali bercerita, bersenda gurau dan tertawa. lontaran kasih sayang dan kemesraan mulai berani mereka lakukan.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2