
"Ayo siap siap, kita kerumah ku" ajak Zian, ia beranjak dari kursi dan masuk kekamar untuk mandi.
Selesai mandi Zian mendapati Kirana sedang berdiri di balkon memandang ke danau dengan mata sayu. Ia penasaran dan mendekati Kirana.
Dalam hati ingin sekali ia memeluk Kirana dari belakang. Kayak kisah kisah romance, tapi ia tidak punya hak untuk berlaku seperti itu saat ini.
"Kau kenapa? lagi sedih?" tanya Zian membuat Kirana tersentak kaget.
"Eh...ya dikiit....lagi ingat Indra aja," ucap Kirana sendu.
'*Ter*nyata kau tak pernah bisa melupakan Indra Ran' batin Zian lirih.
"Kok kamu diam?" tanya Kirana menatap lekat kearah Zian.
Zian hanya tersenyum " Tidak apa apa" bohongnya
"Ya sudah kau mandi sana, katanya mau kerumah mertua bohongan" sambung Zian lagi, tapi perkataannya serasa menohok hatinya sendiri.
"Hehehe...Kau bisa aja, ya sudah aku mandi dulu" kekeh Kirana.
"Huft...Dia biasa saja aku bilang begitu, berarti memang dia tidak mencintai ku" gumam Zian lirih.
...***...
Zian dan Kirana sedang didepan pintu, dengan Zian yang akan mengunci pintu bungalownya...Ringtone ponsel Kirana berdering nyaring. On the Groundnya Rose Blackpink menggema.
Drrrrt......drrtttt.....
Everything I need is on the ground...
Nah, but they don't hear me though...
(Yeah, what goes up, must come down)...
Nah, but they don't hear me though...
(You're runnin' out of time)...
Deringan ponsel Kirana terus berteriak minta di angkat, dan Kirana dari tadi mengobrak abrik tasnya, ponsel sialan tersebut tidak juga ketemu.
Dengan lembut, Zian mengambil tas Kirana dan membantu mencari ponselnya. Tarraa...Ketemu. Kirana kesal, dia yang cari sedari tadi tidak ketemu.
"Ini...Ckk...masak gak nampak ponsel segede gajah gini" cibir Zian sambil menyerahkan ponsel Kirana.
__ADS_1
"Gue lagi gugup juga, dia malah becanda" lirih Kirana, bahkan Zian sendiri tidak mendengarnya
Hufft...ternyata jauh dilubuk hati, Kirana sedang gugup. maklum lah mau ketemu mommy mertua. wkwkw
"Yaaaaaak......kenapa lama kali angkatnya" teriak Dinda di seberang, Kirana sampai menjauhkan ponselnya, bahkan Zian mendengar suara lantang Dinda.
"Assalamu'alaikum Din" ucap Kirana lemah lembut,
"Wa'alaikum salam" ketus Dinda.
"Kenapa marah marah hah? tarik nafas dulu" balas, Kirana sambil memberi isyarat pada Zian untuk mulai berjalan. Zian yang mengerti pun mengikuti Kirana dari belakang.
"Kau sih, selama honeymoon gak pernah nelpon aku..hiks, aku kan rindu" rengek Dinda
"Sorry, aku belum sempat menelpon mu Din, rencana kalau gak hari ini, mungkin besok aku menelpon mu, eh malah kau duluan yang nelpon aku" tutur Kirana santai, tanpa ia tau Dinda sudah memoutkan mulutnya kesal.
"Iisshhhhh......menyebalkan, pengin aku bom online kamu" sebal nya. Kirana hanya tertawa ringan.
"Ya sudah, nanti aku kabari lagi, pas aku pulang aku ceritain semua perjalanan aku ke kamu, sekarang aku lagi dijalan sama Zian"
"Oke, aku tunggu kamu pulang, jangan lama banget honeymoonnya, oiya aku ingin kamu bawa oleh oleh kalau pulang" harap Dinda.
"Oleh oleh apa, apapun aku akan belikan untuk sahabat tercinta aku ini" jawab Kirana.
"Hehehe.....AKU INGIN OLEH OLEH KEPONAKAN YANG LUCUU...." teriak Dinda lantang dan mematikan panggilannya sepihak.
"Dasar gila, bikin aku spot jantung aja" gumam Kirana, ia berbalik dan menatap Zian.
"Gak usah didengar perkataan Dinda, dia memang sedikit gila" jelas Kirana, hati Zian langsung mencelos mendengar penuturan Kirana. Harapannya melebur.
'Bodoh kamu Zian, mana mungkin dia mau punya anak bersama mu' batin Zian, hatinya pedih.
"Ya udah yuk, nanti kesiangan sampai sana" ajak Kirana berbalik dan berjalan lagi, Zian hanya mengikutinya dari belakang tanpa ada niat untuk berjalan sejajar.
...*****...
Setelah 10 menit menempuh perjalanan dengan kaki, Zian dan Kirana sampai kekebun buah milik Diego. melihat kedekatan Diego dan Claire kemarin, Zian menebak bahwa mereka sekarang adalah suami istri.
"Kau yakin uncle Diego suami mommy mu sekarang?" tanya Kirana masih ragu
"Aku yakin, lagian dulu, uncle Diego menyukai mommy, cuma mommy belum bisa menerima uncle Diego karena masih trauma untuk menikah" jawab Zian menyakinkan.
"Okelah, ayo kita samperin anak buahnya, tanya rumah Uncle Diego dan Mommy mu" ucap Kirana antusias. ia berlari kecil menuju segerombolan manusia yang sedang memilah buah di sebuah pondok.
__ADS_1
Percakapan dengan bahasa inggris lagi ya.
"Permisi paman paman dan bibi semua, bolehkah kami berdua bertanya" ucap Kirana sopan. Ketiga orang disitu menelisik Kirana dari ujung rambut sampai ujung kaki, Kirana jadi gugup. Tapi sejurus kemudian, mereka pun tersenyum ramah.
"Oh tentu, ada yang bisa kami bantu? kalian mau bertanya apa? panggil saya Walden, yang itu Dario dan bibi itu Blerina" paman pertama bertubuh tambun, yang memperkenalkan dirinya bernama Walden itu menjawab Kirana dengan sangat ramah.
"Terima kasih uncle Walden atas keramahan mu, saya hanya ingin menanyakan rumah uncle Diego alamatnya dimana?" tanya Zian sopan.
"Oh...Diego sekarang sedang berada dirumah Claire, Claire menangis meminta pulang kesana kemarin, katanya ia rindu bau anaknya, kasian wanita itu, ia sangat terpukul dan menyesal setelah anaknya pergi dari rumah"
Jelas Blerina panjang lebar tanpa menyadari perubahan aura wajah Zian sangat kentara. Kirana mengenggam erat tangan Zian menguatkan.
"Kalian ini siapa nya Diego maupun Claire?" tanyanya lagi, seketika mereka saling pandang, melihat mata biru Zian mereka ingat dengan putra Claire.
"Astagaa.....kau...kau...Samuel? putranya Claire, apakah kau tidak ingat kepada kami?" tanya Dario terbata bata.
"Aku ingat uncle, aku memang Sammy anaknya Claire, tapi sekarang nama ku Zian Avicena uncle, aunty. Aku pikir mommy tinggal disini bersama uncle Diego, ternyata malah pulang kerumah." senyum Zian ramah.
"Aku tidak percaya ini, lalu wanita disamping mu siapa?" tanya Walden
"Dia istri ku uncle" jawab Zian tersenyum, Kirana pun ikut tersenyum sambil mengangguk.
"Kau hebat Sam,. Sekarang kau sudah dewasa dan pulang bersama seorang istri yang sangat cantik, pulang lah kerumah mu cepat, mommy mu pasti sangat senang, sudah lama sekali ia ingin bertemu dengan mu" ucap Blerina.
...***...
Mereka berdua sedang berdiri kikuk digerbang rumah sederhana milik Zian. Rumah yang bisa dikatakan tidak besar juga tidak kecil. Rumah yang halamannya ditumbuhi beberapa pohon apel, plum, mangga dan juga pir.
Di kiri dan kanan ada taman bunga yang sekarang bunganya bermekaran. Rumah Zian sangat terawat. Ia pikir setelah ia pergi, rumah ini akan terbengkalai. Tapi ternyata pemikirannya salah.
"Ini sungguh cantik" gumam Kirana
"Aku tidak percaya, aku pulang kerumah sekarang, i'm coming home" tetes airmata sudah membasahi pipinya, ini bukan tangis pilu dan sedih, tapi tangis bahagia dan terharu. Karena akhirnya ia bisa berdamai dengan hatinya dan melangkah pulang.
Brugh.....
Suara barang barang jatuh tepat terdengar dibelakang Zian dan Kirana.
Mereka berdua pun serentak berbalik. Dan menemukan Claire yang membekap mulutnya karena sudah terisak menangis, dan disampingnya berdiri Diego dengan mulut menganga. Mereka berdua tak percaya mendapati pemandangan yang mengejutkan di depan mereka berdua sekarang ini.
"My son..." isak Claire, tapi tak berani memeluk Zian. Zian pun berinisiatif memeluk mommynya duluan.
"I'm coming home mom... I'm coming home" bisik Zian dipelukan mommynya. (kok gue kayak nyanyi ya? ups...hehehehe).
__ADS_1
Kirana meneteskan airmata melihat adegan drama ibu dan anak di depannya ini. Begitu juga Diego, ia terisak tapi ada senyum di tangisannya. Senyum bahagia.
...*****...