The Crazy Testament

The Crazy Testament
Salah Paham


__ADS_3

...Percayalah Pada ku.!!...


...Walau Dunia Runtuh sekalipun....


...Aku takkan pernah mengkhianati mu....


...Namamu terukir Indah disetiap hembusan nafasku....


...Karena aku sangat mencintaimu....


...Zian Avicena...


...****************...


Mobil melaju memasuki sebuah hotel sederhana dipinggiran kota dekat dengan rumah Kirana dan Zian. Seorang pemuda bertubuh pendek dan cungkring turun, mereka berdua memapah pemuda yang pingsan itu dengan susah payah. Terang saja, tubuh kekar dan tinggi pemuda itu sangatlah membuat kerepotan.


"Ya Allah, ini orang makan apa yang waktu kecil. Bisa seberat ini" keluh si cungkring yang tak lain adalah Gerald


Tukiman juga menyetujui perkataan Gerald.


"Bener Ger, luar biasa beratnya. Banyak dosa kali ya" timpal Tukiman.


"Sembarangan lisan bercakap. yang ada yang banyak dosa itu lu. lu gak nyadar bang kita sedang melakukan dosa" lirih Gerald sendu.


"Eh, lu kenapa tetiba ingat dosa. Pekerjaan kita ya mank selalu berlumur dosa" cerocos Tukiman menggeleng kan kepalanya.


"Tapi bang, gue kok ya gak tega sama ini bocah. Bos kenapa sih mau menghancurkan rumah tangga dia,? Segitu cinta kah bos sama ini laki?" tanya Gerald dengan polos. Tukiman berhenti berjalan dengan wajah bengong.


"Astaga... Lu bego banget sih, bukan ini orang yang jadi incaran bos, tapi istri nya" seru Tukiman sedikit meninggikan suaranya.


"Eh.... Istrinya ni bocah? waduh jadi penasaran sama istrinya" tutur Gerald membuat Tukiman memutar bola matanya malas.


Ya. Dua pemuda yang sedang memapah pemuda pingsan yang tak lain Zian itu adalah anak buahnya Indra. Indra juga berada disitu sedang memesan kamar kepada Resepsionis hotel tempat mereka akan melancarkan rencana yang ntah apa.


...**********...


Ting........


Sebuah pesan muncul di gawai milik Kirana. Kirana sedang menyantap makanan dengan santai di meja makan. Dia meraih ponsel tersebut dengan tangan sebelah kiri dan tangan sebelah kanan sambil memegang sendok penuh makanan untuk ia suapkan ke mulutnya sendiri.

__ADS_1


Betapa terkejutnya dia ketika melihat pesan didalam ponselnya tersebut. Sebuah foto yang berobjekan Zian dan seorang wanita. Sendok yang dipegang Kirana jatuh membentur meja makan membuat suara dentingan yang sangat keras. Dinda, Herry dan Rifal yang memang sengaja mengunjungi Kirana, pun kaget mendengar suara nyaring sebuah benda jatuh.


"Astaghfirullah... Suara apa? Ada apa?" Rifal bertanya dengan kebingungan


"Kayaknya dari Dapur" ucap Herry panik


"Tunggu apalagi? Ayo kita periksa" Dinda yang sedari tadi juga panik pun langsung meninggalkan mereka berdua dan mulai masuk kedalam.


Dinda, Herry dan Rifal berlari menuju kearah asal suara. Dinda langsung panik melihat keadaan Kirana yang memegang ponsel sambil menutup mulut dan terisak. Ia bergegas menghampiri Kirana.


Menyadari Dinda yang sedang berjalan kearahnya. Kirana pun langsung bangkit dan memeluk Dinda.


"Ada apa Ran?" tanya Dinda panik bercampur khawatir.


Kirana pun menyodorkan ponselnya. Dan betapa terkejutnya Dinda melihat pemandangan indah didalam ponsel tersebut. Wajahnya langsung merah padam.


"Gilaa... " teriaknya membuat Herry dan Rifal terkejut. Herry langsung menarik paksa ponsel yang dipegang Dinda.


"Lu liat apa sih, sampe teriak begitu---" suara Herry tercekat tatkala matanya menangkap sosok yang berada didalam ponsel tersebut.


"Ada apa Her..? Her, lu kok malah diem?" Rifal juga ikutan bingung dan meraih ponsel ditangan Herry.


"Kita harus ke alamat ini, untuk membuktikan nya. Kita harus percaya bahwa Zian tidak mungkin melakukan ini" Rifal menenangkan.


...*******...


Zian masih setia menutup mata tanpa mengerti keadaannya yang sudah kacau sekarang. Dia masih terlelap tanpa menyadari kalau masalah besar akan menghampiri dirinya.


Sebuah sedan hitam terparkir didepan hotel sederhana yang menjadi tempat Zian terlelap dengan seorang perempuan antah berantah.


Dua perempuan dan dua lelaki sedang berjalan tergesa-gesa menuju sebuah kamar yang alamatnya tertera di foto dalam ponsel Kirana. Mereka berempat tepat berada didepan kamar itu.


"Ini bener kamarnya?" tanya Dinda pada Kirana


"Difoto sih iya, bener.... " Herry yang menjawab karena Kirana hanya diam terpaku, bahkan tangan dan tubuhnya sudah bergetar.


"Ayo! Kita cari pelayan hotelnya dulu untuk bantu buka pintu" Rifal menengahi dan mencoba mencari bantuan pelayan hotel. Herry ikut membantu.


"Gue ikut" mereka berdua pun pergi mencari pelayan hotel.

__ADS_1


Herry dan Rifal mendatangi pelayan hotel untuk bisa membuka kamar didepan mereka. Setelah pintu terbuka dengan kartu salah satu pelayan. Tangan Kirana bergetar ketika meraih gagang pintu kamar hotel tersebut. Betapa shocknya Kirana dan yang lain ketika melihat pemandangan yang berada didepannya.


"Allahu Akbar.... " teriak Dinda menggema.


Zian pelan-pelan membuka mata dan menggerakkan tubuhnya. Remuk terasa pada tubuh ketika digerakkan, pandangan matanya bertemu dengan Kirana yang masih berdiri kaki didepan pintu. Zian melemparkan senyum dan menyapa Kirana, karena dia masih tidak tau situasi yang terjadi.


"Beby sayang, kamu kok berdiri disitu?" tanya Zian dengan tersenyum manis.


Melihat tidak ada balasan senyuman hangat dari Kirana. Zian berusaha bangkit, tapi matanya menangkap ketiga sahabat nya dibelakang Kirana dengan berbagai aura wajah.


Zian sadar, sepertinya ada yang salah. Karena dia melihat situasi ruangan yang berbeda. Ini bukanlah kamarnya. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Barulah dia sadar ada seorang wanita yang tidur di sampingnya dengan tanpa busana, dia terlonjak kaget karena dia juga tanpa busana.


"A-apa yang terjadi?" pekiknya terbata, Herry mengambil pakaian Zian yang berserakan dilantai dan memberikan nya pada Zian.


Zian menerima dan memakainya terburu-buru. Matanya tak lepas memandang mata Kirana yang sudah berlinang air mata.


"Her. Percaya sama gue, gue gak tau apa yang terjadi" ucap Zian ketika dia memakai kemejanya.


"Nanti aja lu jelasin, kita pulang aja dulu. Kalau kelamaan disini, nanti malah tersebar berita yang gak bagus" jawab Herry memandang satu persatu dengan iba ke arah Kirana dan Zian.


"Sayang... " Zian memanggil lirih nama Kirana.


Kirana menatap sendu Zian kemudian mengambil langkah seribu meninggalkan Zian dan ketiga sahabatnya. Dinda yang melihat Kirana mengikutinya dari belakang. Zian juga mengikuti mereka dari belakang. Sedangkan Herry dan Rifal mencoba membangunkan perempuan yang tidak tau asalnya itu untuk mencari informasi.


"Ran.... Ran.... Ran... " teriakan Dinda memanggil Kirana yang terus berlari didepannya.


Tapi kecepatan larinya Dinda layaknya kuda, dia berhasil menangkap tangan Kirana dan menarik bahu Kirana. Dinda membalikkan tubuh Kirana menghadapnya. Kirana yang sudah berlinang airmata pun hanya pasrah, apalagi kondisi tubuh yang tiba-tiba mulai lemah dan tak berdaya. Kondisinya memprihatinkan.


"Lepasin aku Din,! Aku mau pulang" isak Kirana. Dinda memeluk tubuh ringkih Kirana yang mulai bergetar karena menangis


"Iya kita pulang. Kita tadi kesini barengan, jadi pulangnya juga harus bareng" Dinda ikut meneteskan airmata tatkala merasa bahwa bahunya sekarang sudah basah dengan airmata sang sahabat.


Kirana mengangguk dalam pelukan Dinda,. Dinda pun melepas pelukan mereka dan menarik tangan kiri Kirana menuntunnya pulang. Tapi Zian mencegah dengan menggenggam tangan sebelah kanan Kirana, menyebut nama Kirana lirih.


"Sayang. Ran... Dengarkan penjelasanku dulu" lirih Zian


Tapi tiba-tiba ada suara seseorang yang sangat familiar menegur mereka bertiga hingga mereka berpaling menatap seseorang yang berbicara tersebut.


"Eh kalian kenapa ada disini?"

__ADS_1


...*********...


...Hufft.... Terima kasih yang selalu menunggu dan membaca tulisan amburadul ini.. love kalian yang selalu mendukung.. semangat untuk kita semua mau dalam keadaan terluka ataupun bahagia... 🤗🤗...


__ADS_2