
Diruangan sebuah rumah sakit tampak seseorang yang sedang berkemas, membereskan pakaiannya. Setelah hampir setahun terbaring dirumah sakit, ia sekarang bisa menghirup nafas segar. Ia menduduki dirinya di tepi ranjang rumah sakit itu, pikirannya melayang.
(Flashback)
"Wajahku kenapa? kenapa wajahku berubah,?" teriaknya
"Karena luka bakar yang kau alami mencapai hampir 100%, kami pihak rumah sakit terpaksa melakukan operasi plastik untuk mu" ucap dokter menenangkan.
"Aarghhh....Kenapa ini terjadi kepadaku, kenapa ini menimpaku" pemuda tersebut meronta, berteriak frustasi. Dokter pun menyuntikkan penenang untuknya.
Setelah 2 jam pingsan, ia sadar kembali, tapi tidak sehisteris tadi, ia tenang dan sudah menerima apa yang terjadi padanya.
"Kirana" lirihnya.
^^^(flashback end)^^^
"Apa kau sudah siap?" seseorang membuat lamunannya buyar, ia tersenyum kemudian bangkit menenteng tas ranselnya.
"Aku ingin membuat identitas dan pulang ke indonesia." ucapnya
"Hhmm...Oke, apakah kau harus pulang?"
"Ya harus, aku merindukan seseorang, seseorang yang sangat aku cintai." senyum pemuda tersebut merekah.
"Oke...Ayo ikut aku Ndra" ya itu adalah Indra, setelah setahun koma, ia kembali bangun, membuka mata dengan wajah baru. Dan sekarang ia kembali pulang. karena merindukan Kirana. Tanpa tau bahwa Kirana sudah memiliki suami atas wasiatnya dulu.
...******...
Disisi lain, Kirana saat ini sedang makan siang bersama Zian dan Dinda. Pernikahan Kirana dan Zian sudah hampir setahun, tetap saja mereka berdua menjalaninya seperti layaknya teman diluar, tapi asing dirumah.
Zian, dia memang mencintai Kirana, tapi Kirana tidak ada yang tau bagaimana perasaannya terhadap Zian. Bahkan ia sendiri tidak pernah mengatakan apa apa pada Dinda sang sahabat, dan Kirana juga pernah menolak Zian.
"Ran, Zian kapan kalian memberikan ku keponakan?" tanya Dinda disela sela mereka sedang mengunyah makanan. Kirana langsung tersedak. Sedangkan Zian, dia hanya menanggapinya santai.
Uhuk...uhuk...
Zian langsung menyodorkan minuman untuk Kirana
__ADS_1
"Nih minum dulu"
"Kau...bisa gak jangan nanya masalah keponakan tiap hari,? gak bosan apa?" Ketus Kirana menatap Dinda tajam, yang di tatap malah balik menatap dengan wajah polos.
"Loh....Pertanyaan ku ada yang salah ya? Zian?" tanyanya lagi berbalik menatap Zian dengan puppy eyes nya.
"Huftt....sabar ya Allah, punya sahabat kok ya gini amat" gerutu Kirana, membuat Zian tersenyum hangat.
"Diin...Kirana kan sekarang sibuk banget, sibuk kuliah dan juga kerja di kantor ayah, makanya kami belum berencana memiliki momongan dulu" Jelas Zian menatap hangat Dinda.
"Ran, kamu berhenti kerja aja, terus cuma kuliah kan gak pa pa, ntar kalau Zian sibuk, aku bisa jagain kamu, kalau kamu hamil" Nah loh, pengen banget Kirana menabok mulut Dinda, untung sahabat.
"Mending kamu aja yang nikah dan punya anak, gak usah suruh aku. Beres urusannya" timpal Kirana, Dinda langsung menggeleng.
"Oh tidak bisaa...Aku kan maunya keponakan bukan anak, gimana sih, tumben otak mu gak nyampe buat mikir" bela Dinda.. Zian cuma menepuk jidatnya melihat kelakuan Dinda. Kirana jadi jengah sendiri menghadapi ke absurdan Dinda.
"Pokoknya gak bisa Din" tegas Kirana
Dinda mulai curiga, ia menatap Kirana dan Zian lamat. lalu mendengus kesal.
"Ada yang kalian sembunyikan dari aku" ucap Dinda tanpa memandang mereka berdua yang sudah gugup.
Ia memandang keluar jendela, menatap sayu kearah pejalan kaki di trotoar. Kirana menyadari bahwa raut wajah Zian berubah. Tapi ia hanya berlagak tak tau.
...******...
Di dalam mobil menuju rumah mereka berdua, Zian hanya diam dan terus menyetir. Hening. Kirana juga tidak berbicara, ia sibuk dengan pikirannya. Memikirkan Indra? bukan. Bukan Indra didalam pikirannya sekarang, tapi Zian.
Zian sudah pernah menyatakan Cinta padanya ketika pernikahan mereka memasuki 3 bulan bersama. Tapi Kirana menolaknya, karena ia tidak atau belum siap untuk mencintai Zian.
Cintanya terlalu besar untuk Indra pada saat itu. Tapi sekarang, ntah kenapa hatinya akan berdetak tak karuan ketika melihat Zian, dan akan rindu ketika jauh dari Zian. Tapi ia masih mengelak dan menepisnya jauh jauh.
"Kita sudah sampai, ayo turun" ajak Zian ketika mereka berdua sampai kerumah mereka.
Zian dan Kirana memilih tinggal jauh dari orang tua Kirana, mengingat pernikahan mereka hanya pura pura dan mereka pun tak tidur sekamar, jadilah mereka membeli rumah dan tinggal bersama dengan kamar terpisah.
"Oh..ya.." ucapnya singkat. Zian pun hanya bisa pasrah, pasalnya ia pun sudah menyerah untuk mengejar cinta Kirana. Ia hanya percaya, bahwa waktu akan mengubah segalanya.
__ADS_1
Dan ia hanya bisa berdoa supaya Allah bisa membuat Kirana jatuh cinta padanya. Bukankah Allah Maha membolak balikan hati manusia?. Ia yakin itu, dan ia akan menunggu untuk beberapa bulan kedepan.
Ceklek....
Kirana masuk meninggalkan Zian yang mematung di badan mobil, ia menarik nafas pelan lalu mengikuti Kirana dibelakang.
Tidak ada yang tau bahwa mereka seperti orang asing kalau dirumah, termasuk Dinda sendiri. Semenjak Zian menyatakan cintanya pada Kirana, Kirana seperti menjaga jarak dan menghindar dari Zian. Dan Zian pun mengerti dan juga mulai menjaga jarak dengan Kirana.
Kirana masuk kekamarnya dan menutup pintu. Menghempaskan badannya yang lelah kekasur empuknya lalu memejamkan mata. Sedangkan Zian, ia membuat susu coklat hangat dan duduk di depan televisi menyaksikan berita atau apapun itu.
Drrt....drrrt....
Ponsel Zian bergetar, membuat sang empunya melirik sekilas kelayar ponsel tersebut. Rifal Vcall. Sahabat yang sudah hampir setahun tidak ada kabar. Kembali menghubunginya, ada apa gerangan.
"Hallo Rif, ada apa?" tanya tanpa basa basi, ia cukup muak menghadapi seseorang yang sudah lama menghilang malah datang kembali. Malah ia tidak memandang sedikit pun kewajah sahabatnya itu, dan asik menatap televisi.
"Kamu tak rindu padaku? sudah setahun kita tidak bertemu" ucapnya diseberang sambil tersenyum, Zian tidak menghiraukannya.
"Gak, untuk apa, lu pergi tanpa kabar dan malah datang kembali, dimana lu saat gue butuh?" cibir Zian, Rifal hanya terkekeh.
"Sorry bro, aku pulang kerumah orang tua ku, mereka membutuhkan ku untuk mengelola perusahaan. Apakah kau tetap tidak mau melihatku?" Rifal menghembuskan nafasnya berat.
"*Ak*u mendengar semua tentang mu dari Herry, maafkan aku sobat, tak ada disamping mu, bahkan saat kau patah hati, lupakan lah dia, carilah orang yang mencintaimu dengan tulus, aku akan mengenalkan seseorang padamu" Saran Rifal panjang lebar.
Zian hanya mendengarkannya tanpa membalas ucapan Rifal. Tanpa Zian tau bahwa dibalik pintu sebuah kamar, ada seseorang yang mendengar dengan hati terluka. Kirana. Ntah kenapa hatinya sakit dan ia tidak suka mendengar temannya Zian menyuruh melupakannya dan mencari pengganti. Perih rasa hatinya. Ia menghela nafas berat.
"Ntah lah...Nanti gue pikirkan lagi, kapan kita bisa bertemu?" Zian mengalihkan topik pembicaraan.
"Nanti aku kirim alamat, kalau kau kembali ke Swiss atau Malaysia, datanglah padaku" ucap Rifal, ia pun menutup panggilannya.
Zian bangkit menuju dapur, mencuci piring, itu adalah kegiatan rutin baginya, ia sangat suka membereskan rumah, membantu meringankan pekerjaan sang istri.
Mungkin karena rasa Cinta yang terlalu dalam hingga apapun akan ia lakukan agar Kirana bisa bahagia dan senang. Tapi Kirana tidak pernah memandang itu. Ia jadi rindu sikap Kirana ketika mereka di Swiss dulu.
"Haaah....Kapan kau kembali bersikap seperti dulu padaku Kirana" gumamnya, Kirana juga bisa mendengarnya dari balik pintu kamarnya.
Cairan bening keluar dari ujung pelupuk mata Kirana, ingin rasanya ia berlari memeluk Zian. Tapi ia selalu menahannya, ntah kenapa hatinya masih egois mengakui kalau ia sekarang sangat mencintai Zian, atau karena pengaruh Indra sangat melekat di hidupnya.
__ADS_1
...******...