
Seorang wanita cantik sedang larut menatap cerahnya langit di pagi hari. Dia sibuk dengan semua pemikiran yang melintas dibenak. Mata beningnya masih menatap langit beserta awan awan di atas sana.
Mengerat kan pelukan tangannya sendiri ketika merasakan dinginnya hembusan angin di pagi hari, yang menembus tubuh yang berbalut switer abu-abu gelap miliknya. Seseorang melingkarkan pelukan dipinggang ramping wanita cantik itu. Tangan nya bermain di perut wanita yang saat ini menggelengkan kepala atas ulah sang empu tangan. Ia akhirnya meremang dan berusaha menghentikan aksi jahil seseorang tersebut.
"Geli By, jangan digelitik! " ucap wanita cantik itu yang tak lain adalah Kirana, dan juga lelaki yang iseng menggeilitik siapa lagi kalau bukan Zian.
"Kamu kok pelit banget sih Beby" mesra jawaban Zian membuat Kirana terperangah.
"Kamu kesambet apa sampai genit begini?" Kirana membalik badan menghadap Zian yang masih memeluk tubuhnya.
"Hmmm..... Kesambet apa ya? " Zian mengetuk-ngetuk dagunya memasang wajah pura-pura bingung. Kirana tersenyum gemas melihat tingkah suaminya.
"Kamuuu.... Luar biasa ya sekarang, genit dan iseng" senyum manis Kirana membuat Zian membalasnya.
"Iseng sama istri sendiri gak apa-apa kan? Gak ada larangan dan undang-undangnya" senyum jahilnya mengedipkan mata.
"I love u Hubby" ucap Kirana lembut sambil tersenyum.
Zian tersenyum berbinar menatap dalam manik kecoklatan istri terkasih. Ia mendekap Kirana erat sambil menghirup aroma tubuh sang istri.
"I love u more beby" jawabnya semakin mengeratkan pelukan.
"Jangan pernah ninggalin aku! hum" tutur Kirana mengusap lembut punggung Zian.
"Aku gak akan pernah ninggalin kamu. Tapi kamu harus janji satu hal sama aku! "
Kirana mengernyitkan dahinya, melepas pelukan Zian dan menatap Zian heran. Zian hanya memandang Kirana lembut. ia melempar senyum terbaiknya.
"Kamu kenapa berbicara begitu?" Heran Kirana
"Cumaa.... Ntah lah, ada rasa khawatir menyelimuti hati. Makanya, kalau nanti kita berada dalam situasi harus saling percaya. Kamu percaya lah padaku, apapun itu. Karena aku sangat mencintaimu Ran" Kirana mengusap air bening yang sedikit menetes dipelupuk mata suami.
Ada apa dengan Zian. Benak Kirana terus menerka. Tidak biasanya dia berbicara dengan penuh kekhawatiran, apalagi melihat raut wajahnya yang berubah sayu. Tapi Kirana meyakinkan Zian bahwa dia akan selalu mempercayai nya.
"Hon. Insya Allah, aku akan selalu mempercayai mu. Aku percaya kamu benar-benar sungguh mencintai ku"
"Kamu yakin akan selalu percaya kepadaku?" Zian menatap lekat ke mata Kirana.
__ADS_1
"Insya Allah sayang, my Hubby" gemas Kirana menoel hidung mancung Zian. Membuat Zian terkekeh geli.
Mereka berdua bergurau mesra seakan dunia milik berdua. Untung si tukang rusuh Herry dan Dinda tidak melihat aksi mesra mereka. Kalau tidak, sudah dipastikan mereka berdua akan heboh dan membuat kerusuhan.
...*********...
Luna berjalan gontai menjinjing kedua high heels miliknya di pinggir gang rumahnya. Dia masih linglung setelah kejadian yang menyesakkan hati. Dengan langkah lemah Luna terus berjalan dengan tatapan kosong.
Dunia runtuh. Ya dunia Luna sudah runtuh. Apalagi mendengar Indra tidak ingin bertanggung jawab sama sekali dan bahkan melempar kesalahan kepada dirinya. Ia sudah hancur, tubuhnya bagaikan seonggok daging tanpa harga bagi Indra.
Luna berhenti tepat didepan rumah yang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk ditempati oleh keluarganya. Ia memiliki seorang ibu yang sangat menyayangi dirinya. Mengingat bagaimana ibunya sangat menyayangi nya. Ia kembali menangis sesegukan didepan gerbang rumahnya.
"Maafin Luna ma. Luna sudah berdosa" lirih nya.
Tidak ada niat Luna untuk berbuat hal seperti itu walaupun dia banyak dosa. Dia selalu menjaga kesucian diri karena mamanya selalu menekankan untuk menjaga diri. Airmatanya banjir meleleh di pipi putih mulusnya.
Sangat berat melangkahkan kaki untuk masuk kedalam rumah peninggalan papanya yang sudah lama meninggalkan dia dan mama tercinta. Sampai sebuah suara mengagetkan nya, dan dengan cepat ia menghapus sisa-sisa airmata yang berlinang di pelupuk matanya.
"Lun... Anak mama kok berdiri disini? Gak berencana masuk?" ternyata bu Leni mamanya Luna yang menyapa.
"Eh.... Mama kok disini? Luna pikir mama didalam" Luna tersenyum paksa, ia merangkul lengan kurus mamanya dan berjalan menuju rumah
Mendapat pertanyaan khawatir dari mamanya, hati Luna semakin ter iris. Ingin rasanya ia bersimpuh dikaki Leni sang mama untuk meminta ampun. Tapi ia tak kuasa kalau Leni sampai tau keadaan dirinya sekarang. Biarlah kesakitan ini dia menanggungnya sendiri.
"Iya ma, semalam aku lembur di kantor. Besok si bos ada meeting, jadi aku disuruh untuk menyelesaikan semua berkas untuk besok" bohongnya tanpa berani menatap kearah Leni.
Lembur kerja? Yang ada dia yang lembur bersama Indra. Ah. Ingatan itu kembali membuat dia ingin berteriak, merutuki nasib diri yang sudah ternodai.
"Ya Allah... Sayangnya anak mama, ya udah kamu mandi terus istirahat! " ucap Leni ketika mereka berdua sudah memasuki rumah.
"Oke ma" ucap Luna pura-pura semangat. Ia pun beranjak ingin masuk kedalam kamar. Tapi Leni memanggil menghentikan langkahnya
"Lun" Leni memanggil anak semata wayangnya itu dengan wajah cemas.
"Iya ma, ada apa? " sahut Luna berbalik
"Jangan pernah membohongi mama, jagalah diri baik-baik" tutur Leni menohok tepat di jantung Luna. Luna hanya mengangguk kikuk. Hatinya seketika kembali remuk.
__ADS_1
...********...
Berbeda dengan Luna yang selalu menangisi keadaan. Indra sibuk dengan rencana ingin menghancurkan rumah tangga Zian dan Kirana. Buktinya sekarang dia dan duo curut anak buah somplak nya sedang di sebuah Restoran.
"Bos... Ada apa lagi memanggil kita berdua disini? Bukannya semalam bos bilang semua akan terlaksana, dan kami berdua sudah tidak diperlukan lagi? Terus ada urusan apa lagi sama kita-kita" suara Cempreng bang Man membuat Indra mendelik tajam.
"Bisa gak, lu kalau ngomong punya rem cakram gitu? Biar gue gak sumpek dengar suara lu yang bertanya bertubi-tubi kek kereta api aja"
"Ho oh... kek kereta api jurusan Jakarta-Bandung" ucap Gerald
"Apa hubungannya cungkriiing" Tukiman menggetok kepala Gerald dengan tangannya, Gerald melihat Tukiman dengan raut wajah kesal.
Indra yang memang masih kesal langsung membentak kedua anak buah nya itu.
"Yaaak.... kalian bisa tidak, lebih masuk akal sedikit.! Haduuuh.... gue kayak melihara dua bocah yang taunya makan dan tidur" bentak Indra dengan mata nyalang
Seketika Gerald dan Tukiman terdiam, tertunduk. Terkadang mereka berpikir, kenapa bos mereka ini sukanya marah-marah kayak wanita PMS. Gerald yang memang humoris langsung cekikikan.
"Hihihihi..... " cekikik nya
"Kenapa lu ketawa kek setan nangkring di pohon Melinjo?" desah Tukiman disamping Gerald
"Bos... Dia kayak cewek lagi PMS, marah mulu kalau ketemu kita" kekeh Gerald.
"Kalian berdua kenapa cekikikan? Kesambet mbak kunti?" ucap Indra datar
"Astaghfirullah.... Ngadi-ngadi si bos mah, kalau kami kerasukan, si bos duluan yang kami rayu" genit Gerald
"Iih... amit-amit tujuh turunan kena rayu sama cungkring kayak elu. Udah ah... gue mau pulang, besok kita bahas rencana kita. Kita tunggu Luna dulu"
Indra beranjak meninggalkan dua anak manusia yang terbengong. Bukan apa-apa, tadi pagi Indra yang memaksa mereka untuk bertemu. Katanya membahas penyusunan rencana yang akan mereka laksanakan dalam waktu dekat. Eh, ini malah pulang tanpa membahas apapun.
"Si bos kurang ajar, udah tadi di suruh kesini buru-buru, ini malah gak jadi" umpat Tukiman
"Masih mending, ini aku mandi juga belom. Mau mandi tadi gak dikasih si bos, katanya penting" sendu Gerald manyun, seketika Tukiman refleks menjauh.
"Pantesan bau asem pake banget" gumam Tukiman yang dapat didengar gerald. Gerald hanya terkekeh.
__ADS_1
...*********...